SUARA PEMBARUAN DAILY 


THE GLOBAL NEXUS

Olimpiade Beijing dan Fadel Muhammad 
 
Christianto Wibisono 
limpiade telah menjadi atribut coming of age, kredensial dan lisensi peringkat 
kematangan, kualitas dan bobot suatu negara bangsa. Tiongkok mencapai atribut 
itu di tengah iri hati dan cemburu dari para mantan sesepuh superpower masa 
lalu, Presiden Bush datang ke Beijing sambil mengeluh tentang HAM di Bangkok. 
Presiden Sarkozy, yang sempat arogan mau memboikot, juga datang ke Beijing. 
Pada zaman prarepublik, dinasti Qing terkenal dengan arogansinya memaksa utusan 
negara-negara Eropa untuk kowtow, berlutut kepada Kaisar. Di zaman Kang His dan 
Chien Lung, abad ke 17-18, PDB Tiongkok melampaui Eropa yang masih merasa 
"inferior" terhadap Tiongkok. 
Yang paling cepat dan tangkas belajar ialah Jepang, justru di bawah Meiji 
Tenno, seorang kaisar yang merebut kembali kekuasaan politik dari junta militer 
shogun. Pencerahan seorang kaisar menggusur militerisme konservatif. Jepang 
insaf bahwa ilmu dan teknologi ada di tangan Barat, yang melejit meninggalkan 
manusia lain yang masih berkutat pada peradaban praindustri, peninggalan 
belasan milenium. Dalam tempo satu generasi sejak Meiji melancarkan restorasi 
armada Jepang di bawah Laksamana Togo mengalahkan armada Rusia di Selat 
Tsushima pada 1905. Inilah titik balik yang dilampaui Jepang yang merangsang 
elite India, Tiongkok, dan Hindia Belanda, waktu itu, untuk mengubah perlawanan 
dan perjuangan dari model tombak primitif menjadi gerakan modernisasi melalui 
pendidikan tuntas meniru dan menerapkan ilmu dan teknologi Barat. 
Di Barat sendiri, industrialisasi dan penggulingan sistem monarki dibarengi 
dengan lahirnya ideologi Marxisme, yang kemudian berhasil merebut kekuasaan di 
Rusia pada 1917. Dalam satu generasi, Marxisme melanda Eropa Timur sampai ke 
Tiongkok, yang pada 1949 menjadi negara komunis terbesar di dunia dalam jumlah 
penduduk. 
Semua orang di luar Eropa Timur dan RRT terpukau dan di Indonesia elite PKI 
menepuk dada mengklaim sebagai partai komunis terbesar di belahan bumi selatan 
pada 1965. Kemudian ditumpas habis oleh rezim militer Soeharto tanpa ampun dan 
nyaris "gratis". Sedang di Vietnam, AS perlu mengorbankan 50 000 jiwa untuk 
membendung komunis, tapi gagal total ketika pada 1975 harus keluar dari Vietnam 
sebagai pecundang. 

Olimpiade Tokyo 
Pada 1964, setelah bangkit dari kekalahan Perang Dunia II, Jepang memperoleh 
atribut Olimpiade Tokyo. Sayang ketika Olimpiade untuk pertama kali memahkotai 
negara Asia, Indonesia justru terkucil gara-gara solidaritas dengan Timur 
Tengah. Pada 1962, Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games IV, yang bangunan 
stadionnya dibantu oleh Uni Soviet. Karena solidaritas dengan Arab, maka Israel 
dan Taiwan yang masih menjadi anggota Komite Olimpiade Internasional (IOC) 
tidak diundang ke Jakarta. IOC menjatuhkan skorsing kepada Indonesia. Akibatnya 
atlet Indonesia tidak bisa ikut dalam Olimpiade Tokyo, tapi negara-negara Arab 
justru berlenggang berlomba di Tokyo bersama atlet Israel. Suatu solidaritas 
dengan dampak negatif yang sangat menyakitkan hati Bung Karno. 
Olimpiade 2012 telah ditetapkan di London dan Tokyo kembali akan menawarkan 
diri menjadi tuan rumah pada 2016. Sementara Indonesia untuk Asian Games saja 
belum berani mencalonkan diri lagi setelah 46 tahun lalu, sebagai tuan rumah 
juga masuk 3 besar Asia. 
Kinerja bangsa secara keseluruhan akan tercermin di berbagai bidang dengan 
kesetaraan yang sulit dimanipulasi oleh elite. Dalam "Presidential Lecture", 
Kamis 31 Juli 2008, Dr Kishore Mahbubani menyebutkan tujuh pilar rahasia sukses 
Asia. Ketujuhnya berasal dari Barat, yang diadopsi oleh Asia dengan sukses. 
Pilar utama ialah Meritokrasi, di mana semua orang dihargai karena prestasi, 
kinerja dan bukan karena pendekatan kabalistik karena turunan, ras, etnis, 
agama, dan kasta. Pasar bebas yang pernah dikungkung oleh Marxisme, rule of 
law, pengembangan iptek, kemampuan adaptasi, adopsi dan inovasi, kultur 
kerukunan, dan pendidikan. 
Mahbubani mengusulkan kontrak sosial baru untuk mengangkat mereka yang tercecer 
dalam proses pembangunan, sekaligus menekankan asas meritokrasi untuk menjamin 
peluang bagi bakat terpendam dalam mencapai kinerja unggulan tanpa hambatan 
primordial dan kelas. Keyakinan bahwa demokrasi harus bisa dimanfaatkan untuk 
mencapai cita-cita meningkatkan kesejahteraan rakyat. Ketiga, memberdayakan 
kaum muda sebagai modal, pemikir, pikiran, dan imajinasi manusia. Dalam akronim 
bahasa Inggris, Mahbubani menyebut tiga usulannya sebagai SBY (social contract, 
belief, and youth). 
Sejak Maret 2008, Global Nexus Institute memprakarsai kedatangan Mahbubani, 
yang kemudian diambil alih dan ditingkatkan menjadi "Presidential Lecture" yang 
merangsang elite Indonesia untuk merenungkan di mana posisi Indonesia pada era 
Restorasi Asia jilid II. Menko Perekonomian/Menkeu Dr Sri Mulyani selaku 
moderator telah memberikan kontribusi bahwa Indonesia siap berperanan sebagai 
satu dari empat besar Asia, dan bukan sekadar menjadi figuran dari tiga aktor 
utama, Tiongkok, Jepang, dan India. 

Tokoh Utama 
Sejak Rabu pekan lalu, koran ini telah mengorbitkan Fadel Muhammad sebagai 
tokoh utama dan Jumat petang, Jakob Oetama salut atas rekor MURI, Gubernur 
terpilih dengan voting lebih dari 80 persen. Ironisnya justru intra elite 
Golkar yang sibuk membendung rencana Fadel untuk menjadi caleg dan berhenti 
jadi gubernur. Sistem "kumpul kebo", presidensial dengan puluhan partai gurem 
dan partai kartel yang tidak memungkinkan calon internal meroket ke atas, telah 
menghasilkan stagnasi dan impotensi sistem politik kita. Jusuf Kalla dulu tidak 
dicalonkan oleh Golkar, baru setelah jadi Wapres ia merebut jabatan Ketua Umum. 
Susilo Bambang Yudhoyono mestinya bisa dicalonkan oleh Golkar, tapi ia harus 
bersusah payah mendirikan Partai Demokrat, yang hanya ukuran menengah. Elite 
Indonesia gemar berimprovisasi, sehingga tidak jelas lagi siapa loyalis partai, 
siapa bajing loncat, dan siapa oportunis. Politisi bisa jadi mitra pasangan 
capres bagaikan penganut free sex, gonta-ganti pacar, tanpa rasa dosa atau 
salah. Dengan sistem politik seperti itu kinerja pemerintahan tidak bisa 
optimal. Karena selalu diganggu dengan intrik, manipulasi, pemerasan politik 
oleh partai dan legislatif terhadap eksekutif. Sedang yudikatif juga asyik 
bertelepon ria dengan makelar model Ayin yang hanya merupakan puncak dari 
gunung es mafia peradilan. 
Jika Golkar adalah Partai Republik atau Partai Demokrat dalam sistem AS, maka 
Gubernur Fadel tidak perlu mundur dari jabatan untuk melamar jadi kongreswan 
dan harus direstui oleh ketua umum dan DPP Partai. Gubernur siapa pun bisa 
langsung terjun menantang seniornya seperti dulu gubernur Reagan, gubernur 
Bush, dan mantan gubernur Bill Clinton tanpa khawatir distop oleh struktur DPP 
partai. Rakyatlah yang akan menentukan apakah Gubernur Sultan atau Gubernur 
Fadel layak jadi capres atau cawapres. Dengan sistem politik seperti itu, bakat 
terbaik untuk menjadi presiden terbendung atau terkebiri oleh struktur partai. 
"Kita hanya mempraktikkan talking democracy," kata Jakob Oetama dan belum 
working democracy. Itulah sebabnya kita tidak tahu kapan kita akan jadi negara 
bermartabat yang punya atribut Olimpiade. Semuanya serba tidak jelas, karena 
aturan yang membelenggu proses munculnya Obama Indonesia. 

Penulis adalah pengamat politik nasional dan internsional



Recent Activity


 1
New MembersVisit Your Group 


Yahoo! Groups
Stay healthy
and discover other
people who can help.

Y! Messenger
PC-to-PC calls
Call your friends
worldwide - free!

Change your life
with Yahoo! Groups
balance nutrition,
activity & well-being.
. 
 














      

Kirim email ke