>>>>>>>>>>>>>>>

Oleh Jakob Sumardjo
http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/08/30/00441964/pemimpin-
pemimpin.muda

Akhir-akhir ini bangkit keinginan atau gerakan kaum muda untuk
menduduki jabatan-jabatan negara, menggantikan politisi tua yang
selama ini dinilai tak becus memberikan kesejahteraan kepada rakyat.
Niat ini baik, tetapi perlu beberapa catatan.

Kekacaubalauan pemerintahan birokrasi modern Indonesia selama ini—yang
mengakibatkan kelakuan korup di mana-mana—tak dapat dipahami tanpa
menelusur genealoginya.

Asal mula kemodernan bukan dari niat kita sendiri, tetapi dari
kolonialisme Belanda. Kalau Belanda tidak menjajah Indonesia, negara
ini masih dikuasai raja-raja dengan sistem feodalnya. Belanda yang
memakan kita untuk menjadi modern karena pemerintahan birokrasi mereka
memang modern.

Pada zaman kolonial, terutama sejak awal abad ke-20, pemerintah
kolonial Belanda membentuk negara birokrasi yang nonpolitik.
Pemerintah kolonial tidak didasari oleh kepentingan partai politik
tertentu dari pihak Belanda. Pemerintahan kolonial ini murni dari
melayani keinginan partai-partai politik.

Dualisme pemerintahan

Negara Hindia-Belanda menganut dualisme pemerintahan. Pemerintahan
inti adalah golongan Belanda yang menduduki jabatan puncak, yakni
gubernur jenderal, sampai gubernur-gubernur dan residen. Sementara
para residen mendampingi pemerintahan tingkat kedua yang terdiri dari
para raja, bupati, wedana. Pemerintahan tingkat dua ini tidak modern
birokratik, tetapi tradisional-feodalistik, bahkan bersifat adat.

Selama masa kolonial tak ada orang Indonesia yang dapat menduduki
jabatan kolonial, sekurang-kurangnya residen, apalagi menjadi
gubernur. Orang-orang Indonesia selama ini tidak punya pengalaman
dalam tata kerja sistem birokrasi modern pemerintahan. Mereka hanya
mengenal tata pemerintahan "tradisional" sejak dahulu kala.

Jadi, setelah kemerdekaan, para pejabat negara Indonesia yang baru ini
sama sekali tidak punya pengalaman dalam birokrasi pemerintahan
modern. Pengalaman mereka adalah pemerintahan Indonesia lama yang
patrimonial, primordial, feodal. Pejabat adalah segalanya. Jabatan
adalah kekuasaan itu sendiri, yakni negara itu sendiri.

Apa pun boleh dilakukan karena pemerintahan adalah miliknya.

Keadaan tidak berpengalaman modern ini lebih diperparah lagi dengan
munculnya berbagai gerakan nasional. Tentu saja semua gerakan nasional
ini baik dan positif karena tujuan utamanya bebas dari pemerintahan
kolonial. Tetapi, gerakan-gerakan ini sejak awal menganut berbagai
ideologi yang saling bertentangan. Tak pernah ada persatuan ideologi
politik yang sesungguhnya sampai sekarang.

Tujuan gerakan-gerakan nasional ini jelas, yakni mengusir pemerintahan
birokrasi kolonial dan membentuk pemerintahan dan negara Indonesia
secara politis. Jadi, negara politik menggantikan negara nonpolitik
(apolitik).

Salah urus negara

Sekarang ini ada dua macam "penyakit" bangsa, yakni sistem
pemerintahan setengah patrimonial-tradisional dan setengah modern. Ini
karena kita tak pernah memiliki pengalaman birokrasi modern tingkat
residen, gubernur, dan gubernur jenderal kolonial. Kedua, kita
membentuk negara partai bukan negara apolitik, negara yang mengatasi
partai-partai.

Sistem birokrasi serba tanggung inilah yang mengakibatkan kita salah
urus negara. Kita semua sebenarnya manusia banci. Bukan lelaki atau
perempuan tulen. Tugas pemimpin muda sekarang adalah menjadi lelaki
tulen itu. Menjadi birokrat modern seratus persen tanpa bisa
patrimonial dan kepartaian.

Menilik usia mereka di bawah 50 tahun (mengikuti Obama dan Kennedy),
kelahiran mereka tahun 1960-an, saat Orde Baru mulai berkuasa.

Dekonstruksi besar-besaran

Pengalaman pada sistem pemerintahan yang tanggung ini adalah musuh
utama mereka. Orang-orang ini harus tidak teracuni oleh alam pikiran
kaum tua yang genealoginya kolonial. Kaum muda ini harus benar-benar
pascakolonial, yang paham betul makna birokrasi pemerintahan modern
yang murni. Pertama-tama mereka harus mampu menciptakan sebuah sistem
baru yang bebas dari sistem gado-gado selama ini.

Tugas mereka berat, yakni dekonstruksi besar-besaran. Pemerintahan
mereka harus bersih dari alam pikiran tua yang kini masih dominan.
Banyak veteran kolonial yang hingga kini masih hidup. Pikiran dan
sikap tanggung kebencian harus diganti. Karena mereka juga produk dari
alam pikiran kacau itu dan sama sekali belum memiliki pengalaman
birokrasi modern yang sesungguhnya (kecuali yang bekerja di perusahaan
asing), pembelajaran dan pelatihan sistem birokrasi modern harus
disiapkan. Mengubah budaya tidak semudah membalik telapak tangan, main
simsalabim.

Pembongkaran cara berpikir sistemik ini tidak boleh jatuh ke
zonesentrisme, kebiasaan adopsi cara berpikir asing tanpa kompromi.
Indonesia memiliki historistasnya sendiri yang berbeda dengan
bangsa-bangsa dan negara lain yang sudah maju. Kebiasaan asal meniru
ini juga bawaan kolonial, karena kita warga kelas dua, semua yang
berasal dari warga kelas satu kolonial kita puja dan kita tiru.

Menguasai data empiris Indonesia adalah titik tolak pembongkaran. Kita
baru mampu membangun yang baru jika menguasai apa yang akan kita
bongkar. Kemampuan semacam ini rata-rata sudah ditinggalkan bangsa
Indonesia.

Banyak yang harus dipelajari selain niat baik saja.

Jakob Sumardjo Esais

Kirim email ke