--- In [email protected], shodan purba <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
>
> We may find ourselves at odds, sejauh ekonomi pasar memberi
kesempatan kepada mereka2 yang mampu pada kasus2 seperti PSC
perminyakan, Free Port, Indosat dan beberapa yang lain. Tapi itu
"ketahuan sekarang." Mengecam mereka (pihak asing) dan atau
membatalkan kontrak apalagi menasionalisasi, IMO, sangat picik.
Sebagai suatu bangsa kita harus mengakui kalau itu adalah kesalahan,
kalaupun kita sepakat itu adalah kesalahan, bangsa kita sendiri. Suatu
bangsa yang tidak mau ngambil resiko akan menjadi bangsa yang kerdil.
>
> Dan pada akhirnya saya berusaha untuk tidak ikut terjerumus ke
logical fallacy dari beberapa politikus yang menyatakan EKONOMI
KERAKYATAN itu dengan mencaci pelaku atau masyarakat ekonomi yang
dengan taktis mencari kesempatan.
>
> Sentabi,
> Bp. Nona Sampaguita
MJJ Kila,
hari ini, harian New York Times menulis dalam sebuah headlinenya :
"The End of An Era (of liberal capitalism)".
It's all over after Wall street collapsed this week.
History will be rewritten again. US is literraly no longer a free
market country.
Bujur,
Carlos
>