MJJ:
REVOLUSI MAHAL. Saya belum bisa mikir dan menyimpulkan bahwa Indonesia sanggup 
"membiayai" revolusi lagi. Karakter dasar manusia Indonesia, yang cenderung mau 
'jalan pintas' membuat revolusi menjadi tidak berarti. Revolusi hanya menjadi 
alat dan slogan untuk mengaktualisasi keinginan untuk memperoleh  jalan pintas, 
revolusi yang tidak ber-ideologi. Satu revolusi selesai, segera segolongan lain 
yang belum memperoleh jalan pintas mereka, meramu satu revolusi lagi. 

Boleh jadi karna dimakan usia, tetapi saya melihat bahwa di waktu2 saya tidak 
dapat bersyukur atas pencapaian saya, saya dapat melihat ketidak-suksesan itu 
terjadi karena keinginan untuk memperoleh jalan pintas. Oleh karenanya tidak 
pantas saya mengharapkan revolusi makro, selama saya secara pribadi belum mampu 
banting stir ke "bertekum dalam berpengharapan dan sabar dalam menekuni 
aktualisasi dari talenta yang ada pada diri saya."  Ya, saya mengaitkan konsep 
kehidupan individu dengan revolusi karena revolusi harus memiliki ideologi. 
Kalau saya melihat revolusi dan falsafah hidup saya sebagai dua hal yang 
berbeda, maka ketika saya berbicara tentang revolusi saya hanya menjadi 
pengamat, bukan mengambil bagian dari revoslusi  itu sendiri.

MELAWAN MEKANISME PASAR? Satu slogan dari mereka yang sepertinya dianggap 
sebagai tokoh dan pelopor revolsusi di Indonesia pada saat ini adalah menentang 
pasar bebas. Sayangnya satu karakter dasar dari manusia, kebebasan, 
meluluhlantakkan konsep penentangan ini. Sangat absurd kalau seseorang yang 
sudah mendekati professorship-nya 'ditegur': "tunggu dulu... beberapa senior 
anda belum selesai tuch." Sangat aneh kalau suatu ekonomi menyuruh 
masyarakatnya antri bukan berlomba bebas untuk menjadi lebih maju. Isu-nya 
semestinya adalah ekonomi memacu mereka yang lambat, bukan menghambat mereka 
yang cepat.

Betul, bahwa titik start, walau semua lahir telanjang, tidak sama, langsung 
berbeda karena perlakuan dan tindakan pendewasaan, penyiapan untuk bersaing 
yang berbeda, tergantung dari kemajuan dari orang tua sang bayi. Betul juga 
bahwa pasar bebas akan memunculkan hegemoni. Karena kebebasan, akan ada yang 
sangat maju dan akan banyak yang tertinggal. So what?  Walau bagaimanapun 
seperti yang diungkap dengan invicible hand-nya Adam Smith, orang dan 
masyarakat yang tertinggal akan memperoleh trickling down effect dari mereka2 
yang sukses. Supaya ada keberlanjutan, ekonomi yang sukses harus mengembangkan 
ekonomi yang lemah sebagai pasar, maupun sebagai sumber bahan baku dan tenaga 
kerja mereka. Saling ketergantungan.

Kalau kita berbicara Revolusi dan Mekanisme Pasar, kita tidak bisa melepaskan 
diri dari "where we are, at the moment." Abad transportasi cepat dan virtual 
komunikasi sekarang ini mementahkan konsep teritori. We have a borderless 
world. Lihat saja begitu banyaknya cendikiawan India yang mencari lingkungan 
yang lebih bebas ketimbang ekonomi negara 'tercinta' mereka yang sadar atau 
tidak memaksa mereka harus antri untuk maju. Negara kecil Singapura juga 
berusaha membendung brain drain antara lain dengan peningkatan mencengangkan 
dari kualitas pendidikan tinggi mereka. 

We may find ourselves at odds, sejauh ekonomi pasar memberi kesempatan kepada 
mereka2 yang mampu pada kasus2 seperti PSC perminyakan, Free Port, Indosat dan 
beberapa yang lain. Tapi itu "ketahuan sekarang." Mengecam mereka (pihak asing) 
dan atau membatalkan kontrak apalagi menasionalisasi, IMO, sangat picik. 
Sebagai suatu bangsa kita harus mengakui kalau itu adalah kesalahan, kalaupun 
kita sepakat itu adalah kesalahan, bangsa kita sendiri. Suatu bangsa yang tidak 
mau ngambil resiko akan menjadi bangsa yang kerdil. 

Dan pada akhirnya saya berusaha untuk tidak ikut terjerumus ke logical fallacy 
dari beberapa politikus yang menyatakan EKONOMI KERAKYATAN itu dengan  mencaci 
pelaku atau masyarakat ekonomi yang dengan taktis mencari kesempatan.  

Sentabi,
Bp. Nona Sampaguita            



----- Original Message ----
From: cpatriawgmail <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Monday, September 29, 2008 5:31:37 AM
Subject: Bls: [tanahkaro] Re: koalisi merah-putih abangan & religius


sisanya setuju ... saya bahas sejarahnya saja lah.

--- In [EMAIL PROTECTED] ps.com, christian ginting <[EMAIL PROTECTED] .> 
wrote:
>
> Bung Carlos..
> saya juga punya ideologi sendiri tapi tidak hanya berdasarkan 
ideologi-ideologi orang per orang..semua pendiri bangsa kita awalnya 
mengkaji masalah bangsa kita lewat kajian Marxis sehingga mereka 
menuliskan teori mereka sendiri ttg nasion dan rakyat Hindia Belanda 
melalui buku-buku mereka misal Soekarno Marhaenismenya, tan malaka 
Madilognya, Hatta Ekonomi sosialisnya, syahrir Perjuangan Kita dan 
lain sebagainya.. kalau saya setuju saja ttg ekonomi kerakyatannya 
Hatta tp secara politik saya tidak setuju dengan dia karena terlalu 
Kompromistis sehingga terlalu lemah secara politik menghadapi kaum 
Kolonial tahun 1945 mungkin terlalu lama mengecap pendidikan 
barat..bahkan hatta menghalalkan cara ditahun 1948 dengan menumpas 
gerakan FDR olwh Musso dan amir syaifuddin di Madiun sehingga terkesan 
seperti Fasis..begitu juga Syahrir terlalu lembek secara politik 
selalu mengandalkan diplomatis sehingga Indonesia kehilangan 
kedaulatan karena Belanda memenangkan
>  perundingan2 yang dibuat pasca Revolusi 45.

>>>>>>>>>>>> >>>>>>>

kalau saya baca dari buku orde lama yang ditulis secara netral , 
sebenarnya yang mengeliminasi FDR itu ya bung karno dan bung hatta 
juga...gak cuman bung hatta saja. coba lihat pidato bung karno tahun 
1948 : "Pilih Soekarno atau pilih Musso" dimana bung karno menantang 
rakyat, agar menetapkan pilihan, mau piih soekarno atau pilih musso, 
jelas rakyat pilih soekarno.

musso pertama kali mengagitasi rakyat madiun setelah dia pulang dari 
prague , awal2nya dia mencoba membuat aliansi dengan masyumi dan PNi 
dalam bentuk united front melawan soekarno-hatta , tapi gagal karena 
karena ideologinya berbeda. 

Jadi tahun 1948 itu ada empat kekuatan :

A- belanda
B- soekarno-hatta (RI)
C- FDR/PKI ( musso / amir )
d- GRR ( Tan Malaka)

masing2 A,B,C,D itu konflik satu sama sama lain. kubu musso/amir juga 
konflik dengan GRR/tan malaka ( perseteruan sejak 1926).

kekuatan 'c' finish tahun 1948, baru bangkit lagi setelah 1951 ketika 
kabinet soekiman (masyumi konservatif) jatuh dan aidit merevisi 
politik pki (alimin/tan ling djie) yang tadinya anti-nasionalis-
borjuis menjadi pro-nasionalis- borjuis ( istilahnya dari leftish 
menjadi rightist). 

kekuatn 'a' atau belanda finished di indonesia setelah Amerika serikat 
menghentikan bantuan marshall plan aid kepada belanda setelah belanda 
dikutuk internasional karena melakukan aksi militer ke dua di jogja.

kekuatan 'd' atau tan malaka finished setelah tan malaka tewas di 
kediri oleh pasukan soekotjo/gatot subroto pada periode dimana 
hatta/soekarno sedang berada di pengasingan. tahun2 berikutnya, 
pengikut tan malaka seperti achmad subardjo menjadi menteri di kabinet 
dan chairul saleh dikirim sekolah ke luar negeri oleh soekarno.

sedangkan bung karno kita tahu jatuh pada 1965 dan bung hatta resigned 
pada 1958 karena ia menganggap tidak bisa bekerja sama lagi dengan 
bung karno.

sesudahnya ... jaman soeharto. Justru soeharto yang paling berhasil di 
indonesia dalam "mengisi" indonesia, maksudnya dalam hal membentuk 
manusia Indonesia... . :-) hehehe....

Nah sekarang ini Indonesia mencari jati diri baru lagi... untuk ketiga 
kalinya, setelah perjuangnya pendahulunya gagal.

ps: dalam soal ekuador , perhatikan juga soal geo-politik. ...faktor 
luar negeri sebenarnya salah satu yg terpenting dalam keberhasilan 
sebuah perubahan.

bujur,

carlos

    


      

Kirim email ke