Mejuah-juah.. ersentabi man teman-teman kerina adi mbaru denga ngenda erlajar jadi man kita kita kerina adi lit salah lepak i koreksi saja labo dalih, gelarna pe adi erlajar ma melala ngenda kari salah lepak... sungguh ironis melihat tanah karo dibawah kepemimpinan DD. Sinulingga,sebagai orang yang bertempat tinggal bukan di tanah karo mungkin tidak tau terlalu banyak tentang perkembangan tp secara awam karena saya orang awam juga nih, melihat bahwa itulah kebiasaan seorang DD.Sinulingga. semasa dia menjabat sebagai bupati terdahulu dia membangun rumah dinas bupati,saat ini membangun kantor bupati yang menghabiskan dana puluhan milyar,alangkah kurang bijaksananya beliau ditengah-tengah kesusahan ekonomi masyarakat karo dan sekarang ini dihempas krisis global pula, dana rakyat dipergunakan bukan untuk kepentingan ekonomi rakyat tapi hanya egoisme pribadi.padahal banyak sekali yang bisa dibuat dengan dana puluhan milyar tersebut, sebagai salah satu contoh sederhana "Starbuck" sebuah kedai kopi international yang telah punya cabang 300 outlet di amerika sendiri dan 200 lagi diseantero dunia termasuk indonesia telah memasukkan kopi aceh kedalam menunya,dikarenakan gubernurnya sangat aktif bahkan secara khusus ke amerika untuk lobby ke perusahaan international tersebut. Kalo saya katakan begitulah seharusnya pemimpin Karo,bukan menjual "Asset" tapi menjual hasil..cayo tanah karo..
Hendra Gunawan Kaban 0813 7615 0225 - 0819 3321 3262 - 061 7751 3500 email : [email protected] LALUME PRODUCTION jl.setia budi no.476 A tanjung sari - medan 20132 ph. +6162 - 8218433 fax.+6162 - 8222505 www.lalume.co.id MEMBER OF FORUM EO MEDAN --- On Mon, 2/9/09, Alexander Firdaust <[email protected]> wrote: From: Alexander Firdaust <[email protected]> Subject: [tanahkaro] Kebijakan Pemkab Karo Tak Untungkan Petani Jeruk To: [email protected], [email protected], [email protected] Date: Monday, February 9, 2009, 6:12 AM Sumber: http://posmetro- medan.com/ index.php? open=view&newsid=2962&catid=5 KINERJA Bupati Kabupaten Karo, Drs Daniel Daulat Sinulingga atau yang lebih top disapa DD Sinulingga kembali disoal. Diluar ketertutupannya pada pers, banyak kalangan menilai selama memimpin daerah bertanah subur ini, Sinulingga masih belum fokus melirik pembangunan yang menyentuh kepentingan masyarakat banyak dalam hal ini pertanian. Faktanya, sejak dilantik Desember tahun 2005 lalu, ia baru mampu menggunakan kekuasaannya untuk proyek mercu suar seperti Pembangunan Kantor Bupati yang berdiri megah menghabiskan dana sekitar 28 Milyar dari APBN, pembangunan pagar kantor DPRD dan Rumah Dinas Bupati, pemutasian dan pengangkatan sejumlah wajah baru Kepala Dinas, Camat dan Kepala Bagian dibeberapa instansi. Tak ayal nada pesimis akan perubahan dari jabatan yang tinggal satu tahun sepuluh bulan lagi pun mencuat. Kesangsian itu bakal membesar setelah melihat hasil panen beberapa komoditi petani, seperti jeruk (tanaman primadona) sebagian besar dari 300.000 penduduk yang kurang terjual dipasaran nasional dan regional, pemicunya daya beli rendah. Terhambatnya penopang ekonomi, mengakibatkan kesan pemerintah dan rakyat di tanah subur sama-sama menderita. Belum lagi dengan Infrastruktur berbasis pertanian di sentra-sentra produksi mengalami kerusakan yang sangat memprihatinkan. Menurut M Jusli Penus Sagala, SH, MS, Dosen Universitas Quality Kabanjahe (sebelumnya Universitas Karo-red), Jumat (6/2) di Kabanjahe mengatakan, pemerintah sebagai stake holder harus segera turun ke lapangan dalam menangani tata niaga jeruk atau pemasaran komoditi lainnya. Jika tidak, fluktuasi harga jual tanpa standar bisa memperkeruh perekonomian. Pemda, setidaknya telah berfikir membangun “pasar induk jeruk” di Berastagi atau di Kabanjahe. Pasar induk ini diharapkan menjadi kunci pemasaran tunggal pendistribusian jeruk ke luar Karo. Pria yang akrab disapa MJP Sagala ini juga menilai Pemda kurang antusias menangani pemasaran hasil pertanian, ini salah satu paktor penyebab lambannya pemulihan ekonomi daerah, terasa sangat sulit 6 bulan terakhir, ditengah krisis finansial global yang bakal mengancam perekonomian daerah. Senada dengan rekannya, Prof Paham Ginting SE MSc Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Quality (UNITY) Kabanjahe mengatakan, Bupati Karo DD Sinulingga di awal kepemimpinannya memprediksi pertumbuhan ekonomi tahun 2006-2010 rata-rata naik 0,25 persen dengan pendapatan perkapita sebesar Rp 8,8 juta (2006) hingga Rp 10,8 juta (2010). Persoalannya sekarang, imbuh Prof Ginting, apakah prediksi peningkatan ekonomi bisa tercapai (hanya) berharap dari retribusi hasil bumi (terbesar) dalam Pendapatan Asli Daerah (PAD). Padahal, bumi Karo sekarang tidak sesubur dan produk pertaniannya pun tak lagi mampu menembus pasar luar negeri. Kejayaan 15 tahun silam susah direbut. Jangan terlalu mengantungkan kemandirian petani. Selama ini petani bercocok tanam berperan ganda menjadi agen dan pemasar. Mencari peluang pasar, petani sering terombang-ambing diterpa guncangan harga. Di pasar Jakarta, ketika harga jeruk anjlok, hasil andalan Karo ini tidak ada yang membela, akhirnya terjerat mafia disana. Belum lagi pungutan liar (pungli) secara legal maupun illegal sepanjang lintasan Sumatera-Jawa yang bertaburan jumlahnya. Selain memikirkan sistim tata niaga pasar, Prof Ginting yang semasa mudanya pemain sepakbola handal dari kota wisata Berastagi ini memberikan solusi agar Pemda Karo sudah selayaknya membangun pabrik sirup jeruk di daerah ini. Kalau pabrik sirup markisa (bahan bakunya sedikit) ada di Berastagi, kenapa pabrik sirup jeruk yang bahan bakunya melimpah tidak terbangun. Diakuinya, membangun pabrik harus biaya besar. Persoalannya, bagaimana Pemda bisa memikat dan menggiring investor kesini. Kalau DD Sinulingga berkeinginan, semua itu bukan persoalan sulit. Disayangkan, dari beberapa kunjungan bupati ke luar negeri, belum ada satu pun investor yang mau menanamkan sahamnya di Tanah Karo. “Segudang persoalan pertanian daerah ini mulai dari persoalan kekurangan pupuk di saat musim tanam tiba, benih yang kualitasnya rendah, infrastruktur yang buruk, sampai permasalahan tata niaga membutuhkan penanganan yang serius dan mendesak. Satu tahun sepuluh bulan sisa jabatan Bupati DD Sinulingga diharapkan melakukan gebrakan dan kebijakan yang betul-betul menguntungkan petani,” harap Ginting. Salam Mejuah Juah Karo Cyber Community
