Sumber: http://posmetro-medan.com/index.php?open=view&newsid=2962&catid=5

KINERJA Bupati Kabupaten Karo, Drs Daniel Daulat Sinulingga atau yang lebih top 
disapa DD Sinulingga kembali disoal. Diluar ketertutupannya pada pers, banyak 
kalangan menilai selama memimpin daerah bertanah subur ini, Sinulingga masih 
belum fokus melirik pembangunan yang menyentuh kepentingan masyarakat banyak 
dalam hal ini pertanian.

Faktanya, sejak dilantik Desember tahun 2005 lalu, ia baru mampu menggunakan 
kekuasaannya untuk proyek mercu suar seperti Pembangunan Kantor Bupati yang 
berdiri megah menghabiskan dana sekitar 28 Milyar dari APBN, pembangunan pagar 
kantor DPRD dan Rumah Dinas Bupati, pemutasian dan pengangkatan sejumlah wajah 
baru Kepala Dinas, Camat dan Kepala Bagian dibeberapa instansi. Tak ayal nada 
pesimis akan perubahan dari jabatan yang tinggal satu tahun sepuluh bulan lagi 
pun mencuat.

Kesangsian itu bakal membesar setelah melihat hasil panen beberapa komoditi 
petani, seperti jeruk (tanaman primadona) sebagian besar dari 300.000 penduduk 
yang kurang terjual dipasaran nasional dan regional, pemicunya daya beli rendah.

Terhambatnya penopang ekonomi, mengakibatkan kesan pemerintah dan rakyat di 
tanah subur sama-sama menderita. Belum lagi dengan Infrastruktur berbasis 
pertanian di sentra-sentra produksi mengalami kerusakan yang sangat 
memprihatinkan.

Menurut M Jusli Penus Sagala, SH, MS, Dosen Universitas Quality Kabanjahe 
(sebelumnya Universitas Karo-red), Jumat (6/2) di Kabanjahe mengatakan, 
pemerintah sebagai stake holder harus segera turun ke lapangan dalam menangani 
tata niaga jeruk atau pemasaran komoditi lainnya. Jika tidak, fluktuasi harga 
jual tanpa standar bisa memperkeruh perekonomian. Pemda, setidaknya telah 
berfikir membangun “pasar induk jeruk” di Berastagi atau di Kabanjahe. Pasar 
induk ini diharapkan menjadi kunci pemasaran tunggal pendistribusian jeruk ke 
luar Karo.

Pria yang akrab disapa MJP Sagala ini juga menilai Pemda kurang antusias 
menangani pemasaran hasil pertanian, ini salah satu paktor penyebab lambannya 
pemulihan ekonomi daerah, terasa sangat sulit 6 bulan terakhir, ditengah krisis 
finansial global yang bakal mengancam perekonomian daerah.

Senada dengan rekannya, Prof Paham Ginting SE MSc Dekan Fakultas Ekonomi 
Universitas Quality (UNITY) Kabanjahe mengatakan, Bupati Karo DD Sinulingga di 
awal kepemimpinannya memprediksi pertumbuhan ekonomi tahun 2006-2010 rata-rata 
naik 0,25 persen dengan pendapatan perkapita sebesar Rp 8,8 juta (2006) hingga 
Rp 10,8 juta (2010).

Persoalannya sekarang, imbuh Prof Ginting, apakah prediksi peningkatan ekonomi 
bisa tercapai (hanya) berharap dari retribusi hasil bumi (terbesar) dalam 
Pendapatan Asli Daerah (PAD). Padahal, bumi Karo sekarang tidak sesubur dan 
produk pertaniannya pun tak lagi mampu menembus pasar luar negeri. Kejayaan 15 
tahun silam susah direbut. Jangan terlalu mengantungkan kemandirian petani.

Selama ini petani bercocok tanam berperan ganda menjadi agen dan pemasar. 
Mencari peluang pasar, petani sering terombang-ambing diterpa guncangan harga. 
Di pasar Jakarta, ketika harga jeruk anjlok, hasil andalan Karo ini tidak ada 
yang membela, akhirnya terjerat mafia disana. Belum lagi pungutan liar (pungli) 
secara legal maupun illegal sepanjang lintasan Sumatera-Jawa yang bertaburan 
jumlahnya.

Selain memikirkan sistim tata niaga pasar, Prof Ginting yang semasa mudanya 
pemain sepakbola handal dari kota wisata Berastagi ini memberikan solusi agar 
Pemda Karo sudah selayaknya membangun pabrik sirup jeruk di daerah ini. Kalau 
pabrik sirup markisa (bahan bakunya sedikit) ada di Berastagi, kenapa pabrik 
sirup jeruk yang bahan bakunya melimpah tidak terbangun. Diakuinya, membangun 
pabrik harus biaya besar. Persoalannya, bagaimana Pemda bisa memikat dan 
menggiring investor kesini. Kalau DD Sinulingga berkeinginan, semua itu bukan 
persoalan sulit. Disayangkan, dari beberapa kunjungan bupati ke luar negeri, 
belum ada satu pun investor yang mau menanamkan sahamnya di Tanah Karo.

“Segudang persoalan pertanian daerah ini mulai dari persoalan kekurangan pupuk 
di saat musim tanam tiba, benih yang kualitasnya rendah, infrastruktur yang 
buruk, sampai permasalahan tata niaga membutuhkan penanganan yang serius dan 
mendesak. Satu tahun sepuluh bulan sisa jabatan Bupati DD Sinulingga diharapkan 
melakukan gebrakan dan kebijakan yang betul-betul menguntungkan petani,” harap 
Ginting. 

Salam Mejuah Juah

Karo Cyber Community



      

Kirim email ke