MJJ:
Insiden di DPRD SU kemaren hampir menutup kemungkinan tewujudnya PemKo 
Berastagi, ....sepertinya. Perjuangan PemKo Berastagi bukan tanpa 'kekerasan.' 
Bupati Karo sebelumnya, Sinar Perangin-angin, sebelum akhirnya menandatangani 
rekomendasinya, pernah di-demo ke rumah dinasnya. Dengan modus, antara lain, 
siap untuk bertahan disana, siap dengan segala alat demo standar termasuk ban, 
kayu dan papan bekas. Singkatnya, siap tempur untuk memperoleh tujuan demo, 
rekomendasi bupati.

Untung, sebelum 'standar operasi demo' berlanjut. Sang mantan Bupati mengalah, 
walau secara lihai menempatkan 1 kalimat kualifikasi pada lembar persetujuan/ 
rekomendasinya.  Kualifikasi ini ternyata kemudian dipakai oleh instansi 
lanjutan untuk 'menunda.'  Sehingga tertinggallah Berastagi dari kab/kota lain 
yang permintaan pemekarannya diajukan pada waktu bersamaan atau bahkan 
belakangan. Kenapa kira-kira kab/kota lain sudah jadi? Apakah mereka tidak 
punya 'kualifikasi' yang dapat dipergunakan pemerintahan (ekskutif dan 
legislatif provinsi dan pusat) untuk mengerem? Tidak tahu persis.

Instansi lanjutan bermain seputar 'kualifikasi' sudah menjadi info umum, baik 
yang akhirnya sampai ke KPK, Kejaksaan atau tidak/belum. Ada waktu-waktu 
tertentu dimana Panitia PemKo Berastagi seyogyanya menyediakan dana taktis 
(dekat2 1M) untuk menggolkan, tapi dana yang terkumpul dari para simpatisan 
hanya berkisar 2 ratusan. Apa daya, tangan tak sampai. 

Walau (sementara) hanya sebatas AMPRES, perjuangan yang dilakukan Panitia 
pantas di apresiasi. Salah satu bentuk apresiasi adalah dukungan semangat bagi 
mereka untuk melanjutkan. Walau bukan di tahun ini atau di tahun depan, PemKo 
Berastagi tetap strategis untuk diwujudkan... kuakap...

Sentabi,
Bp Nona Sampaguita       



      

Kirim email ke