Dominasi Budaya Pendatang
Timbulkan Potensi Ketegangan
MEDAN, Waspada, 15/3-2002: Terjadinya disharmoni hubungan antar etnik terutama
antara pendatang dan masyarakat setempat karena adanya dominasi simbol budaya
etnik pendatang dalam hubungan sosial dengan masyarakat setempat. Maka untuk
mengeliminasi disharmoni itu, pendatang harus menghormati budaya etnik di
samping forum dialog lintas etnik guna mewadahi proses pembelajaran pengenalan
keberagaman kelompok etnik.
Kesimpulan itu terekam dalam Worshop Resolusi Konflik Etnik Di Sumut yang
diselenggarakan ECRSN Fakultas Sastra USU, 8-9 Maret 2002 dalam release yang
diterima redaksi, Kamis (14/3). Pembicara yang tampil Dr Timo Kivimaki
(Denmark), Drs Chusnul Mar'iyah (UI), Dr Irwan Abdullah (UGM), Dr Ichwan Azhari
(Unimed), Drs Zulkifli Lubis, MA dan Drs Fikarwin Zuska, MA (USU).
Di samping itu dalam institusi pemerintahan juga terjadi konsentrasi jabatan
struktural pada kelompok etnik tertentu. Kondisi ini juga bisa menjadi faktor
penyebab ketegangan. Maka untuk mengurangi potensi ketegangan itu, rekrutmen
pegawai dan rotasi kepemimpinan harus berdasarkan meritokrasi, profesionalisme,
keterbukaan, dan kecakapan.
Pemakaian simbol budaya yang tidak sesuai kultur area dapat menjadi potensi
ketegangan juga. Untuk menghindari potensi ketegangan budaya maka simbol budaya
harus disesuaikan dengan kultur area. Sedangkan di tingkat provinsi pemakaian
simbol-simbol budaya harus mencerminkan pluralisme budaya.
Satu hal lagi yang tidak kalah pentingnya adalah kebijakan pemerintah yang
hendaknya melibatkan kelompok masyarakat (stakeholders) dalam pengambilan
keputusan. Multikulturisme merupakan sikap benih penumbuhan kultur demokrasi
tetapi multikulturisme masih disikapi sebagai gagasan penghilangan batas-batas
ikatan kultural kelompok etnik.(m45)
__________________________________________________________
Ta semester! - sök efter resor hos Kelkoo.
Jämför pris på flygbiljetter och hotellrum här:
http://www.kelkoo.se/c-169901-resor-biljetter.html?partnerId=96914052