Kacar-kacar kucur-kucur Anjar-anjar usur-usur Mecapet benanana Meketket tengahna Entebu pendungina
Iyah dagé ...... Ula ngéluk kawes-kemuhen Ula tulihken embang éina Ula tumbur lingling éina Ula deheri bengkala jeringen éina Ergalun-galun bagi lau rehna sumbul nari Erodak-odak nipé soré teruh engkuang Éinda kita erbaja minak Makana sehlah kai ni sura Karo énda ndai surung nge pagin Hoooooiiiii ............ kkkkkkkkk jg --- In [email protected], Alexander Firdaust <daustco...@...> wrote: > > --- On Mon, 2/23/09, Alexander <daustco...@...> wrote: > From: Alexander <daustco...@...> > Subject: [komunitaskaro] Re: Kalau saja ada Film Karo > To: [email protected] > Date: Monday, February 23, 2009, 9:33 PM > > > > > > > > > > > > > Tulisan yang saya replay ini mungkin diposting oleh bang Joey Bangun > > kurang lebih 4 tahun yang lalu di milis kita, dan kini postingan yang > > dulu sepertinya berandai-andai kini sudah mulai terjawab meski belum > > sepenuhnya terjawab seperti yang diharapkan. > > > > Semoga Film "Nande Rudang" yang rencananya sebentar lagi akan > > melakukan syuting dan akan ditanyangkan station TVRI pada bulan april > > mendatang berjalan dengan sukses, dan semoga saja kesuksesan film itu > > kelak, dapat mewujudkan mimpi bang Joey menjadi kenyataan seperti > > tulisan yang kam tulis 4 tahun yang lalu ini > > > > --- In komunitaskaro@ yahoogroups. com, Joey Bangun <joeybangun@ ...> wrote: > > > > > > > > > Kalau saja ada Film Karo > > > > > > Berawal cita-cita dari talenta yang dimiliki tercetuslah keinginan > > untuk berbuat sesuatu untuk Karo tercinta. Salah satunya adalah film. > > Kenapa film? Karena film adalah visualisasi yang bisa diterima > > berbagai kalangan tanpa memandang apapun latar belakangnya. Terlebih > > film adalah bentuk kebebasan berekspresi dari sineas dalam menemukan > > idealisme impiannya. > > > > > > Beberapa minggu lalu saya dikagetkan dengan suguhan drama > > tradisional di TVRI nasional yang mengangkat tentang cerita Perlanja > > Sira. Sebagai sineas saya memandang film itu mempunyai banyak > > kelemahan dari segi akting dan visualisasi sinematografinya. Tapi saya > > mengacungi jempol untuk spirit dan kecerdasan para pekerja maupun > > pemain dalam mengaktualisasi bagaimana menyuguhkan suatu realita Karo > > dan cocok untuk dikonsumsi oleh orang Karo. Kesimpulannya film itu > > memang cocok untuk dikonsumsi kalangan Karo tapi tidak dalam lingkup > > nasional. > > > > > > Untuk itu sebagai pekerja film yang berdomisili di ibukota saya > > tergelitik untuk memberikan sesuatu untuk Karo. Tercetuslah keinginan > > untuk membuat film Karo. Tapi film Karo yang saya maksud disini bukan > > hanya film yang dikonsumsi oleh orang Karo saja tapi juga oleh semua > > orang di Indonesia. Semuanya berawal dari semakin maraknya dunia > > perfilman Indonesia. Satu sampai dua film dalam negeri bisa hadir > > setiap bulannya di bioskop-bioskop tanah air. > > > > > > Film garapan Garin Nugroho hadir dengan nuansa budaya. Garin hadir > > dengan budaya Jawa dan Irian dibeberapa filmnya. Nia Dinata hadir > > dengan budaya Tionghoa dalam film Ca Bau Kan. Cinta Silver yang sedang > > hangat diputar di bioskop mengangkat budaya Bali sebagai settingnya. > > Tapi budaya Karo? > > > > > > Karo memiliki banyak sutradara. Sebutlah nama Terkelin Tarigan, > > Josep Gintings, Herri Ketaren, Henry Bangun dan saya Joey Bangun. > > Belum lagi nama-nama yang menghiasi kru film seperti kameramen Fes > > Tarigan dan Trasta Sembiring. Tapi belum pernah terjadi pertemuan para > > seniman ini untuk membahas suatu ide untuk membuat film Karo > > berkapasitas nasional. > > > > > > Terus terang saya sudah menyiapkan beberapa skenario yang siap > > diangkat ke layar lebar. Sebagai contoh cerita `Sibayak' (dimuat > > bersambung di Soramido tentang percintaan seorang pemuda Karo dan > > wanita Belanda dengan segala kegetirannya) , `Musuh Berngi' (realita > > perjuangan Karo dengan segala polemik cinta dan kehormatan) dan `The > > King of Haru' (riwayat dan kebesaran kerajaan Haru dengan cikal bakal > > terjadinya suku Karo). Semuanya mengangkat tentang realita sejarah > > Karo tempo dulu. Kenapa tempo dulu? Saya seorang sutradara beraliran > > flashback. Sangat menyukai sejarah dengan segala realitanya. Saya > > selalu menyutradarai dan menciptakan cerita yang beraliran flashback > > dari sejak saya berkesenian. Kalau di Hollywood aliran ini dibawa oleh > > Steven Spielberg dan Phil Jackson. > > > > > > Pernah saya mempersentasikan film `Sibayak' itu dengan sebuah > > pengusaha ternama Karo. Dia kaget ketika saya mengatakan dana > > pembuatan film itu 5 milyar! "Mahal kali!" katanya saat itu. > > > > > > Kenapa film itu mahal? Pertama settingnya mengangkat Karo tempo dulu > > dimana artistiknya harus digarap detail. Kedua saya harus membawa 40 > > kru plus beberapa pemain utama dan puluhan pemain pemain pembantu dari > > Jakarta. Belum lagi saya berkeinginan aktor lagi naik daun Nicolas > > Saputra memerankan tokoh `Santa Perkeleng' (Nicolas Saputra berhonor > > 200 juta satu film). Juga saya ingin mencasting seorang aktris Belanda > > untuk memerankan `Hanna de Jong' (bayarannya mungkin hampir sama > > bahkan lebih). Saya ingin memakai Nicolas Saputra sebagai bagian > > komersil dari film ini. Jika saja film ini memakai nama baru tentu > > kita akan berjudi dengan keberhasilan film ini. Saya juga harus > > bekerjasama dengan kedutaan Belanda dan Jepang. Berbagai ijin dalam > > negeri harus segera diurus. Belum lagi publikasi. Proyek ini memang > > proyek miliaran. > > > > > > Apakah film ini akan sukses dipasaran? Barpatokan dari tema yang > > diangkat saya optimis dengan keberhasilan film ini. Tema sejarah ini > > sangat jarang diangkat karena film Indonesia saat ini sedang marak > > dengan tema remaja dan horor. Kalau dari berapa orang Karo yang > > menonton film ini (menurut catatan Darwan Prinst jumlah orang Karo > > sekitar 3 juta jiwa termasuk yang masih memakai merga maupun yang > > sudah menanggalkan merganya), satu juta saja orang Karo yang datang > > untuk menonton, film ini sudah termasuk kategori box office. Belum > > lagi penggemar Nicolas Saputra dan artis pendukung lainnya. Ditambah > > kelayakan film ini untuk dikonsumsi luar negeri. Dari jumlah penonton > > dan setting yang saya paparkan diatas menjadi pertimbangan tersendiri > > bagi film ini untuk mengikuti festival film Asia Pasifik, Cannes > > bahkan Academy Awards untuk kategori film asing. > > > > > > Banyak orang menyebut saya terlalu mengada-ngada dan terlalu > > bermimpi. Saya balik bertanya kalau tidak ada impian untuk apa kita > > hidup. Hidup adalah kerja keras agar impian itu menjadi kenyataan. > > > > > > Bioskop yang sudah ada memang sudah almarhum seiring dengan > > perkembangan jaman. Saya berharap suatu saat nanti bisa berdialog > > dengan Pemda Karo juga beberapa pengusaha Karo ternama agar mendirikan > > Bioskop 21 di Tanah Karo tercinta. Sehingga orang-orang tidak perlu > > berduyun-duyun ke Medan untuk menonton film saya kelak. > > > > > > Begitu juga keinginan saya untuk memiliki sebuah mobil caravan besar > > dimana didalamnya selayaknya mini teater (bioskop mini). Mobil itu > > akan memasuki setiap kuta di 13 kecamatan Tanah Karo dan setiap anak > > kuta akan bisa menikmati suguhan bioskop mini dengan film-film bermutu > > termasuk film saya tentunya. Tentu saja suguhan itu dinikmati dengan > > gratis sebagai bentuk kecintaan saya pada Tanah Karo yang telah > > melahirkan saya dengan segala talenta saya yang saya miliki. > > > > > > Saya sangat merindukan berbuat sesuatu untuk Karo. Film adalah > > bentuk pengabdian saya. Walau banyak rintangan dan halangan tapi saya > > mencoba mengatasinya. Seperti sebuah kata-kata indah ketika saya suatu > > pagi bersaat teduh, "Pray Changes Things." > > > > > > Mungkin tidak hari ini tapi bisa saja esok lusa. Selagi kaki saya > > masih bisa berdiri dan tangan saya masih bisa berkarya, suatu hari > > kelak film Karo itu akan terwujud. > > > > > > Karo adalah hidup dan entah kenapa saya begitu mencintainya. > > > > > > > > > > > > > > > Joey Bangun > > > > > > Sutradara, Aktor, Penulis, Penyair, dan Model > > > > > > > > > > > > > > > Lahir : Medan, 9-9-1979 > > > > > > Tinggi : 185 cm > > > > > > Berat : 80 kg > > > > > > Kulit : Putih > > > > > > Rambut: Hitam > > > > > > Mata : Cokelat > > > > > > Baju : XL > > > > > > Celana : 35 > > > > > > Sepatu : 44 > > > > > > (Foto Joey Bangun - Model. Dok. Pribadi) > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > ------------ --------- --------- --- > > > Start your day with Yahoo! - make it your home page > > > >
