Mejuah-juah,
Saya terharu dan trenyuh dg keinginan Bang joey utk berbuat sesuatu u Tanah 
Karo tercinta.
Karena begitu cinta dengan Karo, saya yg lahir dan besar di Bandung, tapi skrg 
tinggal di Medan (dg alasan ikut suami), juga ingin melakukan 'sesuatu' utk 
Tanah Karo.
Inilah yg akan kami buat :
Tgl 6 maret 2009, untuk pertama kalinya, Sumatera Utara dgn dukungan Bpk 
Gubernur Sumatera Utara, H. Syamsul Arifin,SE berhasil lolos dan  mengirimkan 
band jazz untuk tampil di ajang Jakarta International Java Jazz Festival 2009. 
Mereka adalah Medan Jazz Community Band, yang akan membawakan lagu asing, lagu 
batak (Sigulepong, Leleng) dan lagu Karo (Mejuah-juah, Mbuah ko page) dalam 
versi jazz yang diselipi alat musik tradisional batak (sarune, suling) dan karo 
(kulcapi).
Kami  sungguh bangga, karena bisa memperkenalkan lagu Karo diajang 
internasional sekelas Java Jazz.
Saya tergabung didlm tim (sbg Humas) Medan Jazz Community Band yg personilnya 
berasal dari semua suku di Sumut.
Mohon dukungan Bapak Ibu sekalian.. Untuk keberhasilan grup Medan Jazz 
Community Band diajang Jakarta International Java Jazz Festival 2009. Mereka 
akan tampil Jumat 6 Maret 2009 jam 16.45-17.45.
Kehadiran anda di Jakarta Convention Centre  adalah bentuk dukungan pada kami.
Personil Medan Jazz Community : Erucakra Mahameru (gitar,piano,vokal), Daniel 
Permana Putra (bass), Dino Irawan (drum), Tabitha Pakpahan dan Natalina siregar 
(vokal), Martahan Situmorang (suling,sarune), Jamudin Pasaribu (piano,keyboard) 
Heber Pasaribu (tataganing), Drs. Prikutten Tarigan (kulcapi), Drs. Ben 
Pasaribu,MA (arranger dan perkusi).
Kartika Singarimbun (Humas),Dedy F. Moningka (Manager).

Bujur,
Kartika Singarimbun
Sent from my BlackBerry® INDOSAT

-----Original Message-----
From: Alexander Firdaust <[email protected]>

Date: Mon, 23 Feb 2009 21:35:39 
To: <[email protected]>; <[email protected]>; 
<[email protected]>
Subject: [tanahkaro] Re: Kalau saja ada Film Karo


--- On Mon, 2/23/09, Alexander <[email protected]> wrote:
From: Alexander <[email protected]>
Subject: [komunitaskaro] Re: Kalau saja ada Film Karo
To: [email protected]
Date: Monday, February 23, 2009, 9:33 PM











    
            Tulisan yang saya replay ini mungkin diposting oleh bang Joey Bangun

kurang lebih 4 tahun yang lalu di milis kita, dan kini postingan yang

dulu sepertinya berandai-andai kini sudah mulai terjawab meski belum

sepenuhnya terjawab seperti yang diharapkan.



Semoga Film "Nande Rudang" yang rencananya sebentar lagi akan

melakukan syuting  dan akan ditanyangkan station TVRI pada bulan april

mendatang berjalan dengan sukses, dan semoga saja kesuksesan film itu

kelak, dapat mewujudkan mimpi bang Joey menjadi kenyataan seperti

tulisan yang kam tulis 4 tahun yang lalu ini



--- In komunitaskaro@ yahoogroups. com, Joey Bangun <joeybangun@ ...> wrote:

>

> 

> Kalau saja ada Film Karo

> 

> Berawal cita-cita dari talenta yang dimiliki tercetuslah keinginan

untuk berbuat sesuatu untuk Karo tercinta. Salah satunya adalah film.

Kenapa film? Karena film adalah visualisasi yang bisa diterima

berbagai kalangan tanpa memandang apapun latar belakangnya. Terlebih

film adalah bentuk kebebasan berekspresi dari sineas dalam menemukan

idealisme impiannya.

> 

> Beberapa minggu lalu saya dikagetkan dengan suguhan drama

tradisional di TVRI nasional yang mengangkat tentang cerita Perlanja

Sira. Sebagai sineas saya memandang film itu mempunyai banyak

kelemahan dari segi akting dan visualisasi sinematografinya. Tapi saya

mengacungi jempol untuk spirit dan kecerdasan para pekerja maupun

pemain dalam mengaktualisasi bagaimana menyuguhkan suatu realita Karo

dan cocok untuk dikonsumsi oleh orang Karo. Kesimpulannya film itu

memang cocok untuk dikonsumsi kalangan Karo tapi tidak dalam lingkup

nasional.

> 

> Untuk itu sebagai pekerja film yang berdomisili di ibukota saya

tergelitik untuk memberikan sesuatu untuk Karo. Tercetuslah keinginan

untuk membuat film Karo. Tapi film Karo yang saya maksud disini bukan

hanya film yang dikonsumsi oleh orang Karo saja tapi juga oleh semua

orang di Indonesia. Semuanya berawal dari semakin maraknya dunia

perfilman Indonesia. Satu sampai dua film dalam negeri bisa hadir

setiap bulannya di bioskop-bioskop tanah air.

> 

> Film garapan Garin Nugroho hadir dengan nuansa budaya. Garin hadir

dengan budaya Jawa dan Irian dibeberapa filmnya. Nia Dinata hadir

dengan budaya Tionghoa dalam film Ca Bau Kan. Cinta Silver yang sedang

hangat diputar di bioskop mengangkat budaya Bali sebagai settingnya.

Tapi budaya Karo?

> 

> Karo memiliki banyak sutradara. Sebutlah nama Terkelin Tarigan,

Josep Gintings, Herri Ketaren, Henry Bangun dan saya Joey Bangun.

Belum lagi nama-nama yang menghiasi kru film seperti kameramen Fes

Tarigan dan Trasta Sembiring. Tapi belum pernah terjadi pertemuan para

seniman ini untuk membahas suatu ide untuk membuat film Karo

berkapasitas nasional.

> 

> Terus terang saya sudah menyiapkan beberapa skenario yang siap

diangkat ke layar lebar. Sebagai contoh cerita `Sibayak' (dimuat

bersambung di Soramido tentang percintaan seorang pemuda Karo dan

wanita Belanda dengan segala kegetirannya) , `Musuh Berngi' (realita

perjuangan Karo dengan segala polemik cinta dan kehormatan) dan `The

King of Haru' (riwayat dan kebesaran kerajaan Haru dengan cikal bakal

terjadinya suku Karo). Semuanya mengangkat tentang realita sejarah

Karo tempo dulu. Kenapa tempo dulu? Saya seorang sutradara beraliran

flashback. Sangat menyukai sejarah dengan segala realitanya. Saya

selalu menyutradarai dan menciptakan cerita yang beraliran flashback

dari sejak saya berkesenian. Kalau di Hollywood aliran ini dibawa oleh

Steven Spielberg dan Phil Jackson. 

> 

> Pernah saya mempersentasikan film `Sibayak' itu dengan sebuah

pengusaha ternama Karo. Dia kaget ketika saya mengatakan dana

pembuatan film itu 5 milyar! "Mahal kali!" katanya saat itu. 

> 

> Kenapa film itu mahal? Pertama settingnya mengangkat Karo tempo dulu

dimana artistiknya harus digarap detail. Kedua saya harus membawa 40

kru plus beberapa pemain utama dan puluhan pemain pemain pembantu dari

Jakarta. Belum lagi saya berkeinginan aktor lagi naik daun Nicolas

Saputra memerankan tokoh `Santa Perkeleng' (Nicolas Saputra berhonor

200 juta satu film). Juga saya ingin mencasting seorang aktris Belanda

untuk memerankan `Hanna de Jong' (bayarannya mungkin hampir sama

bahkan lebih). Saya ingin memakai Nicolas Saputra sebagai bagian

komersil dari film ini. Jika saja film ini memakai nama baru tentu

kita akan berjudi dengan keberhasilan film ini. Saya juga harus

bekerjasama dengan kedutaan Belanda dan Jepang. Berbagai ijin dalam

negeri harus segera diurus. Belum lagi publikasi. Proyek ini memang

proyek miliaran.

> 

> Apakah film ini akan sukses dipasaran? Barpatokan dari tema yang

diangkat saya optimis dengan keberhasilan film ini. Tema sejarah ini

sangat jarang diangkat karena film Indonesia saat ini sedang marak

dengan tema remaja dan horor. Kalau dari berapa orang Karo yang

menonton film ini (menurut catatan Darwan Prinst jumlah orang Karo

sekitar 3 juta jiwa termasuk yang masih memakai merga maupun yang

sudah menanggalkan merganya), satu juta saja orang Karo yang datang

untuk menonton, film ini sudah termasuk kategori box office. Belum

lagi penggemar Nicolas Saputra dan artis pendukung lainnya. Ditambah

kelayakan film ini untuk dikonsumsi luar negeri. Dari jumlah penonton

dan setting yang saya paparkan diatas menjadi pertimbangan tersendiri

bagi film ini untuk mengikuti festival film Asia Pasifik, Cannes

bahkan Academy Awards untuk kategori film asing.

> 

> Banyak orang menyebut saya terlalu mengada-ngada dan terlalu

bermimpi. Saya balik bertanya kalau tidak ada impian untuk apa kita

hidup. Hidup adalah kerja keras agar impian itu menjadi kenyataan. 

> 

> Bioskop yang sudah ada memang sudah almarhum seiring dengan

perkembangan jaman. Saya berharap suatu saat nanti bisa berdialog

dengan Pemda Karo juga beberapa pengusaha Karo ternama agar mendirikan

Bioskop 21 di Tanah Karo tercinta. Sehingga orang-orang tidak perlu

berduyun-duyun ke Medan untuk menonton film saya kelak.

> 

> Begitu juga keinginan saya untuk memiliki sebuah mobil caravan besar

dimana didalamnya selayaknya mini teater (bioskop mini). Mobil itu

akan memasuki setiap kuta di 13 kecamatan Tanah Karo dan setiap anak

kuta akan bisa menikmati suguhan bioskop mini dengan film-film bermutu

termasuk film saya tentunya. Tentu saja suguhan itu dinikmati dengan

gratis sebagai bentuk kecintaan saya pada Tanah Karo yang telah

melahirkan saya dengan segala talenta saya yang saya miliki. 

> 

> Saya sangat merindukan berbuat sesuatu untuk Karo. Film adalah

bentuk pengabdian saya. Walau banyak rintangan dan halangan tapi saya

mencoba mengatasinya. Seperti sebuah kata-kata indah ketika saya suatu

pagi bersaat teduh, "Pray Changes Things."

> 

> Mungkin tidak hari ini tapi bisa saja esok lusa. Selagi kaki saya

masih bisa berdiri dan tangan saya masih bisa berkarya, suatu hari

kelak film Karo itu akan terwujud. 

> 

> Karo adalah hidup dan entah kenapa saya begitu mencintainya. 

> 

> 

> 

> 

> Joey Bangun

> 

> Sutradara, Aktor, Penulis, Penyair, dan Model

> 

> 

> 

> 

> Lahir : Medan, 9-9-1979

> 

> Tinggi : 185 cm

> 

> Berat : 80 kg

> 

> Kulit : Putih

> 

> Rambut: Hitam

> 

> Mata : Cokelat

> 

> Baju : XL

> 

> Celana : 35

> 

> Sepatu : 44

> 

> (Foto Joey Bangun - Model. Dok. Pribadi)

> 

> 

> 

> 

> 

>               

> ------------ --------- --------- ---

>  Start your day with Yahoo! - make it your home page

>




 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke