Sumber: http://www.surya.co.id/2009/03/02/situs-benteng-putri-hijau-rusak-parah/

Kelestarian situs Benteng Putri Hijau peninggalan abad ke-13 di Desa
Namorambe, Kabupaten Deli Serdang, sekitar 15 kilometer Selatan Kota
Medan, kian mengkhawatirkan menyusul bertambah luasnya areal kawasan
itu yang mengalami kerusakan akibat pembangunan perumahan.
“Sekitar 300 meter dari kira-kira 60 hektar luas area situs tersebut
telah hancur dengan dibangunnya puluhan rumah oleh pihak developer yang
jaraknya hanya kira-kira tinggal 30 meter dari jalur menurun menuju
pancuran Putri Hijau,” kata arkeolog Inggris, Dr Mc Kinnon, di Medan,
Minggu (1/3).
Untuk itu, kata dia, agar situs bersejarah tersebut tidak semakin
hancur, pembangunan perumahan tersebut harus segera dihentikan. Dalam
hal ini peran pemerintah setempat terutama pemerintah Kabupaten Deli
Serdang sangat dibutuhkan. Pemda harus segera mencabut izin pendirian
perumahan tersebut.

Ia mengatakan, wujud monumental yang dikenal masyarakat Medan sebagai
benteng Putri Hijau di daerah Deli Tua, Sumut tersebut merupakan saksi
bisu atas penyerbuan kesultanan Aceh dengan bantuan persenjataan Turki
atas kerajaan Aru.

Bukti artefak lainnya adalah potongan merian yang dikeramatkan oleh
sebagian masyarakat Medan yang kini disimpan di satu bangunan dalam
komplek istana maimun, yang juga dikenal dengan nama meriam puntung.
Salah satu artefak yang ditemukan dalam penggalian arkeologi yang
dilakukan oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Banda Aceh
bekerja sama dengan Balai Arkeologi Medan, Museum Negeri Sumut dan
Pussis Unimed terhadap situs benteng tersebut adalah temuan sebutir
peluru senapan terbuat dari campuran timah baja pada apad 13-14 Masehi.
“Temuan ini menarik sebab keberadaannya membuktikan bahwa kawasan situs
ini dulu merupakan kancah pertempuran,” katanya.
Eri Sudewo, tim peneliti dari Balai Arkeologi Medan, menambahkan,
dalam penggalian yang melibatkan 20 orang ahli itu juga ditemukan
ratusan pecahan keramik dan tembikar peninggalan dinasti Ming pada abad
15-17 Masehi.
Penggalian dilakukan di tiga titik, yakni di sekitar perkampungan,
perkebunan coklat dan di sekitar gundukan-gundukan tanah yang diduga
merupakan benteng tanah peninggalan Kerajaan Aru.
Dari penemuan itu juga dapat diketahui kalau kepingan keramik itu
juga menceritakan daerah asalnya seperti Birma, Vietnam, Thailand dan
China. Setidaknya dari penemuan kepingan keramik dan gerabah itu
diketahui kalau dulunya di daerah itu pernah ada aktivitas masyarakat
Kerajaan Aru, pada eranya Putri Hijau hidup dan mengungsi dari gempuran
tentara kerajaan Aceh,” katanya.

Salam Mejuah Juah

Karo Cyber Community



      

Kirim email ke