Benteng Putri Hijau Wujud Kecerdikan Kerajaan Aru
Sumber:
http://www.antarasumut.com/berita-sumut/pendidikan/benteng-putri-hijau-wujud-kecerdikan-kerajaan-aru/
Bentuk Situs Benteng Tanah Putri Hijau peninggalan abad ke-13 di
Desa Namorambe, Kabupaten Deli Serdang, Sumut suatu wujud kecerdikan
penguasa Kerajaan Aru dalam menghadang serangan dari luar.
Kepala Pusat Studi Ilmu-Ilmu Sosial dan Sejarah (Pussis) Universitas
Negeri Medan, Dr, Phill Ichwan Azhari, di Medan, Minggu, mengatakan,
secara fisik benteng tersebut merupakan suatu wujud konstruksi pribumi
yang cukup cerdik pada masanya.
Dengan membuat gundukan-gundukan tanah bagian atasnya ditanami bambu
-bambu duri serta diperkuat oleh keberadaan parit-parit pertahanan pada
sisi luarnya, terbukti dibutuhkan sampai dua kali serangan hingga
akhirnya benteng ini berhasil dikuasai oleh kesultanan Aceh.
“Berdasarkan catatan Mendez Pinto, serangan pasukan Aceh yang
didukung sejumlah prajurit Turki ke Kerajaan Aru terjadi dalam dua
tahap. Serangan pertama berlangsung dalam bulan Januari 1539 Masehi,
sedangkan serangan kedua terjadi November 1539,” katanya.
Konstruksi benteng yang berlapis-lapis di Sumatera bukan hanya
ditemukan di Situs Putri Hijau tersebut, tapi benteng-benteng sejenis
yang yang masih dapat dilihat keberadaannya hingga sekarang adalah
benteng tujuh lapis di Dalu-Dalu, Riau, yakni kubu pertahanan Tuanku
Tambusai semasa perang Paderi.
Juga benteng-benteng tanah yang melingkupi ‘huta-huta’ tradisional
Batak yang beberapa di antaranya masih dapat dilihat keberadaannya di
Samosir dan sekitarnya.
Kedua pembanding tersebut terdapat dipedalaman Pulau Sumatera,
sedangkan yang berada di daerah pesisir timur sejauh ini baru Situs
Benteng Putri Hijau-lah satu satunya yang ditemukan hingga saat ini.
“Oleh karena itu warga Medan dan sekitarnya dapat dianggap beruntung
karena masih dapat melihat sisa-sisa suatu konstruksi unik yang berasal
dari masa lalu jauh dari ‘halaman rumah’ mereka,” tambahnya.
Staf Peneliti Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Banda Aceh,
Adhi Suryana, mengatakan, berdasarkan hasil ekskavasi yang dilaksanakan
Agustus 2008, pada situs benteng Putri Hijau ditemukan beragam jenis
temuan, seperti 35 keping pecahan keramik dan tujuh keping tembikar
dari temuan permukaan.
Dari 19 keping pecahan keramik dari kotak galian, satu butir peluru
senapan musket, 11 keping pecahan kaca, bongkahan-bongkahan tanah liat
terbakar dan bongkahan-bongkahan kecil yang diduga karat besi seberat 2
kg, selain itu juga ditemukan 3 buah alat batu berupa kapak genggam
sumatera (sumatralith).
Analisis yang dilakukan terhadap temuan tersebut dapat dikemukanan
bahwa secara relatif temuan pecahan keramik paling tua adalah keramik
China sekitar abad 12-14 Masehi dan paling muda keramik Eropa dari
abad ke-18.
“Selain China dan Eropa, diperkirakan ada keramik Annam, Vietnam.
Sementara terhadap temuan kapak genggam yang dianalisa sejauh ini
nampak ada bekas pengerjaan pada salah satu permukaan batu dan ada pula
jejak bekas penggunaan pada bagian tajamnya,” katanya.***3***
Salam Mejuah Juah
Karo Cyber Community