change, change . . . kelihatannya sudah jadi mode bagi sebagian, dan 
jadi tool bagi yang lain.
SBY juga mau change, change ala Obama, ganti capres cak hahaha . . . 
siapa tau lebih banyak pengikut yang juga ingin change. JK jelas 
kalau tetap mau ngekor SBY, pasti sudah selesai, walauupun dengan 
nyapres sendiri ada risiko dikalahkan oleh orang-orang Golkar 
lainnya. Orang-orang Bugis akan mendukung JK, tetapi belum tentu 
orang Makassar. 
Tidak heran kalau orang Minang Rizal Ramli mau pindahkan orang Jawa 
(transmigrasi) karena dia tau dimana banyak suara. Dengan politik 
transmigrasi dia akan kehilangan suara di Dayak atau Papua, tetapi 
dapat suara di Jawa dengan perbandingan 1:100.000. Setiap dia 
kehilangan 1 suara di Dayak atau Papua akan peroleh suara 100.000 di 
Jawa. Disini manusia menggunakan manusia hehehe . . . tidak 
menggunakan partai. Kayak main catur Karo, ada extra kuda bagi yang 
lebih lemah.  
Jelas kita lihat sendiri bahwa manusia sekarang menggunakan partai 
untuk kepentingannya, bukan partai menggunakan manusia seperti pada 
era kontradiksi pokok dunia "timur-barat", dimana partai secara 
ideologis diatas segala-galanya. Tidak ada lagi partai yang punya 
dasar ideologi jelas dan kuat seperti era dua blok yang lalu, dimana 
partai betul-betul menggunakan kalaupun tidak memperbudak manusia 
untuk kepentingan partai (lapisan atas pimpinan). Manusia atau 
partai-partai sekarang ngerombol dengan siapa saja atau partai mana 
saja asalkan bisa memenangkan tujuannya tadi. Mereka tidak ada 
saingan ideologi, tapi saingan kursi atau bagi-bagi kursi. 

Manusia kini menggunakan etnisnya (cultural), terlihat menonjol pada 
etnis-etnis kecil minoritas. Sebelum era ethic revival mereka tidak 
terlihat, tidak berani terlihat atau tidak boleh terlihat, karena 
oleh etnis mayoritas yang selalu berdominasi bisa dituduh sebagai 
ketinggalan (primordial) tidak modern atau separatis atau pemecah-
belah. Etnis mayoritas yang dominan tidak perlu samasekali 
menunjukkan 'primordialnya', apa gunanya, toh mereka dominan, 
sebaliknya etnis minoritas yang selalu tersingkir jauh dari 
kekuasaan cepat dituduh primordial kalau ada suara sedikit saja. 

Ethnic revival dunia adalah pembebasan bagi etnis-etnis minoritas 
yang tadinya hidupnya tertekan dan didominasi kejam. Lihatlah siapa 
yang menghegemoni dan mendominasi Sumut sejak kemerdekaan. 
Bandingkan dengan Karo, Pakpak atau Simalungun.Dan bagaimana 
perjuangan mereka ini sekarang. Ethnic revival atau cultural revival 
dunia adalah pembebasan etnis tertindas dan tersingkir selama 
kolonial dan setengah abad lebih post kolonial. Etnis mayoritas 
bingung, tapi masih pakai senjata 'primordial'. Mereka tidak bisa 
memikirkan senjata lain, karena memang tidak ada senjata apapun 
untuk mempertahankan internal colonialism.

Bujur ras mejuah-juah
MUG  


--- In [email protected], ENDAKA TARIGAN <mamai...@...> 
wrote:
>
> Muejua-juah
> 
> Dear Milis
> 
> Seharusnya JK solid dengan Pasangan lamanya dia dan pasangan 
lamanya jangan terpecah sulit rasanya jika maju sendiri karena 
kendaran politiknya bisa saja balik arah mendukung kuda hitam.
> 
> --- Pada Ming, 1/3/09, MU Ginting <gintin...@...> menulis:
> 
> Dari: MU Ginting <gintin...@...>
> Topik: [tanahkaro] Bugis dukung JK
> Kepada: [email protected], [email protected], 
[email protected]
> Tanggal: Minggu, 1 Maret, 2009, 1:19 PM
             
> Minggu, 01/03/2009 16:29 WIB 
> 
> Golkar Sulsel dan Sulbar Tegaskan 'JK For President' 
> Gunawan Mashar - detikPemilu
> Jakarta - Dukungan agar Jusuf Kalla (JK) menjadi capres Partai 
Golkar kembali ditegaskan DPD I Sulawesi Selatan (Sulsel) dan DPD I 
Sulawesi Barat (Sulbar). Kedua DPD tersebut menyampaikan dukungannya 
dalam forum resmi partai.
> 
> "Memberikan dukungan dan meminta agar JK bersedia menjadi capres 
Partai Golkar. Kedua, menyerukan kepada lapisan masyarakat agar 
memenangkan Partai Golkar dan memberikan dukungannya kepada JK," 
kata Ketua Bappilu DPD I Sulsel HM Roem.
> 
> Hal itu disampaikan Roem dalam Rapat akbar Partai Golkar se-Sulsel 
yang digelar di Hotel Clarion, Jl Andi Pettarani, Makassar, Minggu 
(1/3/2009).
> 
> Seperti tak mau ketinggalan, DPD I Sulbar juga menyatakan 
dukungannya kepada sang ketua umum. Pernyataan sikap DPD I Sulbar 
ini dibacakan oleh Sekretaris DPD Hapati Hasan.
> 
> Usai membacakan dukungannya, kedua perwakilan DPD tersebut 
langsung menyerahkan surat dukungan kepada JK. Surat itu juga 
ditandatangani 23 DPD II
>  Sulsel dan 5 DPD II Sulbar. 
> 
> Saat JK memasuki ruangan rapat, teriakan 'JK For President' tak 
henti-hentinya dikumandangkan oleh peserta rapat. JK datang 
didampingi istrinya Mufidah Kalla, Ketua DPP Golkar Andi Mattalatta 
dan Wakil Ketua MPR yang juga anggota DPD dari Sulsel Aksa Mahmud. ( 
lrn / asy ) 
> --


Kirim email ke