Dalam kampanyi DPDnya di Karo Yopie Batubara mengulangi lagi beberapa tabas
yang selama ini sudah sering dimuntahkan oleh banyak tempulak Karo, seperti
pupuk kimia merusak, ganti kompos, bikin gudang pendingin, Singapor menolak
sayur kimia dsb. Yopie tahu bahwa hal-hal ini cuma lagu lama yang sudah terlalu
sering diulang-ulangi oleh banyak tempulak Karo, tetapi dia mau bilang apa,
kalau datang ke Berastagi (banyak pendatang Tapanuli) harus ada yang mau
diucapkan. Petani Karo kalaupun ada yang datang kesitu, tentu tabas Yopie hanya
akan bikin ribut dikuping, sudah terlalu sering didengar, tidak ada yang baru.
Yang baru misalnya ialah menjawab pertanyaan mengapa sampai sekarang juga tidak
banyak menggunakan pupuk kompos kalau memang itu yang lebih baik. Ini tidak ada
yang menjawab, dan tempulak model Yopie seperti juga tempulak-tempulak lainnya,
tidak akan mungkin menjawab secara ilmiah. Mengapa pula dia harus menjawabnya,
bukan kerjaan dia, dan dia datang
kesana punya maksud tersendiri, kampanyi terutama dihadapan pendatang Tapanuli
di Berastagi dan Karo umumnya.
Bahwa Yopie dan DPD tapanuli lainnya akan terpilih lagi, tidak perlu ada
kesangsian. Disini berlaku tyranny of majority. Apapaun yang dibikin orang
Karo, Pakpak atau Simalungun, mereka tidak akan terpilih. Suara tidak cukup.
Perlu selalu harus ditekankan bahwa disini berlaku tirani mayoritas. Nasib
orang-orang minoritas dalam sistem demokrasi seperti ini selalu tergantung dari
belas kasihan simayoritas, seperti Bupati orang Pakpak di Dairi dan orang
Simalungun di Simalungun. Begitu mereka (orang mayoritas) tidak berbelas
kasihan dan digantungkan ke pemilihan demokratis tadi maka yang menang tetap
mereka, seperti sekarang di Dairi, di Deliserdang atau nanti lagi di
Simalungun.
Dalam sebuah rumah tangga dimana tamunya lebih banyak dari seisi rumah, sudah
itu dibikin pemilihan demokratis untuk menetapkan tuan rumah yang baru, tentu
tuan rumah yang semula harus mundur, digantikan oleh tamu. Begitulah terjadi di
Dairi, Simalungun, dan Deliserdang dimana pendatang Amri Tambunan (tamu dirumah
tadi) telah secara demokratsi jadi tuan rumah.
Tyranny of majority telah menjadi persoalan hidup mati golongan minoritas
dunia, sebab utama perang etnis dalam era ethnic revival dunia, dan soal ini
sekarang ini di Indonesia harus dibahas didepan publik, dan datangnya harus
dari etnis-etnis minoritas karena tidak mungkin dipahami oleh etnis-etnis
mayoritas dominan. Contoh internasional ialah di Uni Soviet hal ini tidak
pernah dipahami oleh orang Rusia, atau orang Serbia di Yugoslavia, dan
diseluruh dunia 95% dari jumlah negara dunia terdiri dari etnis mayoritas dan
minoritas. Karena itu soal tirani mayoritas ini juga telah menjadi persoalan
dunia sekarang ini. Mengapa dulu tidak? Karena kontradiksi pokok dunia sudah
berubah sekarang.
Di negeri kita tentu kita bisa menyaksikan sendiri seperti orang Aceh di NAD
bagaimana perlakuan mereka atas etnis-etnis minoritas lainnya, termasuk menipu
pusat menandatangani MoU Helsinki yang tidak membolehkan pemekaran daerah
etnis-etnis lain. Dan didepan mata kita sebagai Karo ialah orang Tapanuli atau
Mandailing di Sumut. Tapi perlu juga dicatat, ada perubahan atau semacam
perkembangan pikiran dari orang-orang dominan ini, yaitu mereka mau mundur
dengan bentuk propinsi sendiri (Protap/Protabar dari orang-orang Batak dan
Sumtra dari orang-orang Mandailing). Sikap begini tidak ada pada orang Aceh di
NAD. Etnis-etnis minoritas Sumut (Karo, Simalungun dan Pakpak) harus menyambut
dan menghargai sikap strategis etnis-etnis Tapanuli (Batak dan Mandailing) dan
patutnya ikut bersinergi menciptakan pemekaran propinsi-propinis ini dan untuk
selanjutnya menciptakan suasana baru politik kedamaiana antar-etnis yaitu
politik bersama multikultural seperti saya
sebutkan dalam tulisan PEMEKARAN ADALAH PENGAKUAN DAN RESPEK. Pemekaran adalah
salah satu cara "mengelola keragaman" dengan meminjam istilah mantan presiden
Gus Dur, cara yang didasari dengan Pengakuan dan Respekt atas existensi etnis
lain, dan karena itu adil dan akan bisa menjadi dasar mempertahankan dan
mengembangkan keharmonisan antar-etnis dan jauh berbeda dengan semangat
mempertahankan "persatuan dan kesatuan" fabrikasi Orba.
Walaupun dulu persoalan tirani mayoritas ini belum terasa (seperti sekarang)
tetapi sudah banyak juga ahli-ahli pikir zaman dulu menyebut persoalan tirani
mayoritas ini, seperti John Stuart Mill (1806-18739 dan Tocqueville
(1805-1859). Mill melihat masyarakat yang bisa dikatakan homogen, begitu juga
Tocqueville walaupun dia sudah menyinggung sedikit soal etnis monoritas orang
hitam di Amerika, dan sekarang ini tentu sudah lebih gesit lagi soal ini di USA
dengan tambahnya golongan-golongan minoritas dari Asia dan Amerika Selatan. Dan
seperti saya sebutkan diatas bahwa 95% negara dunia menghadapi persoalan ini
dan semakin sengit. Kurang dari 5% negara dunia yang tidak punya persoalan
’heterogenitas’.
Salam tirani mayoritas
MUG
--
--- In [email protected], MU Ginting <gintin...@...> wrote:
Petani Karo Diminta Slamatkan Lahan dengan Kompos
Maret 6th, 2009
Medan (SIB)
Anggota DPD-RI H Yopie S Batubara meminta petani Karo menyelamatkan lahan
bercocok tanam dari kerusakan akibat pemakaian pupuk kimia secara berlebih dan
tak terkendali.
"Penggunaan pupuk kimia secara terus menerus apalagi tak terkendali berdasarkan
hasil penelitian ahli pertanian bisa merusak kesuburan tanah, sebab dampak
penggunaan pupuk kimia dapat merusak struktur tanah bahkan cacingpun yang
berfungsi menyuburkan tanah tak bisa hidup di lahan pertanian menggunakan pupuk
kimia", ujar H Yopie S Batubara.
Penegasan tersebut disampaikan Yopie S Batubara dalam siaran persnya, Selasa
(3/3) sehubungan kunjungan beliau di Kabupaten Tanah Karo dalam acara
silaturrahmi dengan tokoh agama, pemuka masyarakat, kepala desa dan warga,
Sabtu (28/2) malam di Hotel Rudang Berastagi.
Dalam pertemuan dihadiri ribuan orang tersebut, Yopie yang ketika itu mendapat
penabalan marga Tarigan oleh tokoh masyarakat Karo kembali menyuarakan betapa
pentingnya petani Karo menyelamatkan lahan bercocok tanam, mengingat lahan
pertanian di daerah wisata berhawa dingin tersebut sekian lama dimanfaatkan
sehingga tingkat kesuburannya tentu mengalami penurunan.
"Upaya mengembalikan kesuburan lahan pertanian di Kabupaten Karo harus segera
dilakukan, salah satu cara dengan menggunakan pupuk kompos sebagai pengganti
pupuk kimia. Pupuk kompos terbukti mampu menyuburkan tanaman dan menjamin
tingkat produksi pertanian," kata Yopie yang kembali mencalonkan diri menjadi
anggota DPD-RI periode 2009-2014 tersebut.
Lebih lanjut kata sosok yang konsisten terhadap pemasyarakatan penggunaan pupuk
kompos itu, dampak penggunaan pupuk kimia oleh petani di Karo menyebabkan
produksi pertanian dari daerah tersebut kalah bersaing dengan produksi dari
negara lain di pasar Internasional, sebab pasar luar negeri lebih memilih
produk pertanian yang bebas dari penggunaan pupuk kimia.
"Singapura sebagai pasar ekspor hasil pertanian dari berbagai negara sangat
selektif terhadap komoditi pertanian menggunakan pupuk kimia, sebab negara itu
lebih memilih hasil pertanian yang bebas dari pemakaian pupuk kimia", kata
Yopie sembari mengingatkan agar petani juga mampu memanfaatkan pasar ekspor
selain pasar domestik.
Terkait peluang ekspor komoditi pertanian ini, Yopie kembali mengingatkan
pemerintah daerah maupun pusat agar menyediakan berbagai fasilitas pendukung
seperti gudang pendingin, transportasi serta berbagai variabel diperlukan guna
memudahkan ekspor.
Pada kesempatan tersebut masyarakat yang berkesempatan bertatap muka dengan H
Yopie S Batubara anggota DPD-RI asal Sumut itu memanfaatkan berdialog tentang
kondisi pembangunan bangsa termasuk masalah krisis ekonomi global. (R6/Rel/m)
--
__________________________________________________________
Låna pengar utan säkerhet. Jämför vilkor online hos Kelkoo.
http://www.kelkoo.se/c-100390123-lan-utan-sakerhet.html?partnerId=96915014