Apa yang diutarakan pak Yopie, dn juga caleg lain memang bukan hal yang baru, 
semua juga sudah tau.... kita setuju itu pak Ginting.
Yang baru.... dan gak pernah dikemukakan oleh caleg lainnya... "sedikit" 
analisa atau hitungan yang gampang,... idealnya berapa penggunaan pupuk an 
organik dan organik, darimana bahan baku pembuatan pupuk organik.....
Semua juga tau kalau pembuatan pupuk organik (kompos) sebaiknya dikombinasikan 
dengan "manure"... dari ternak atau manusia.... nah ini dia maslahnya.
Sedikit informasi.... barung kita selama 2 tahun ini mengasilkan (menjual) 
pupuk kandang sebanyak 1500 truk... dan sampai saat ini permintaan membludak.. 
sehingga pembelian dibatasi max.5 truk per petani.
Idealnya pak Jopie ikut mermbantu solusi bagaimana agar populasi ternak sapi 
bertambah di karo...... tapi saya yakin beliau tidak akan mau berbicara soal 
itu karena membutuhkan waktu dan dana yang besar.... sedangkan yang beliau 
butuhkan kan... yang instant untuk keperluan 9 april.2009. Dan ini akan lebih 
jelas kalau ada yang menanyakan pada beliau.... dimana beliau (dan caleg 
lainnya)  selama ini.... kenapa baru sekarang tiba-tiba semua jadi 
pahlawan......(mudah-mudahan belum kesiangan).
Endam sitik bas kami nari perjuma-juma,
Per"baroeng"peceren


--- Pada Jum, 6/3/09, MU Ginting <[email protected]> menulis:

Dari: MU Ginting <[email protected]>
Topik: [tanahkaro] Re: DPD Tapanuli meminta petani Karo . . .
Kepada: [email protected], [email protected], 
[email protected]
Tanggal: Jumat, 6 Maret, 2009, 7:45 AM











    
            
Dalam kampanyi DPDnya di Karo Yopie Batubara mengulangi lagi beberapa tabas 
yang selama ini sudah sering dimuntahkan oleh banyak tempulak Karo, seperti 
pupuk kimia merusak, ganti kompos, bikin gudang pendingin, Singapor menolak 
sayur kimia dsb. Yopie tahu bahwa hal-hal ini cuma lagu lama yang sudah terlalu 
sering diulang-ulangi oleh banyak tempulak Karo, tetapi dia mau bilang apa, 
kalau datang ke Berastagi (banyak pendatang Tapanuli) harus ada yang mau 
diucapkan. Petani Karo kalaupun ada yang datang kesitu, tentu tabas Yopie hanya 
akan bikin ribut dikuping, sudah terlalu sering didengar, tidak ada yang baru. 
Yang baru misalnya ialah menjawab pertanyaan mengapa sampai sekarang juga tidak 
banyak menggunakan pupuk kompos kalau memang itu yang lebih baik. Ini tidak ada 
yang menjawab, dan tempulak model Yopie seperti juga tempulak-tempulak lainnya, 
tidak akan mungkin menjawab secara ilmiah. Mengapa pula dia harus menjawabnya,
 bukan kerjaan dia, dan dia datang kesana punya maksud tersendiri, kampanyi 
terutama dihadapan pendatang Tapanuli di Berastagi dan Karo umumnya. 
Bahwa Yopie dan DPD tapanuli lainnya akan terpilih lagi, tidak perlu ada 
kesangsian. Disini berlaku tyranny of majority. Apapaun yang dibikin orang 
Karo, Pakpak atau Simalungun, mereka tidak akan terpilih. Suara tidak cukup. 
Perlu selalu harus ditekankan bahwa disini berlaku tirani mayoritas. Nasib 
orang-orang minoritas dalam sistem demokrasi seperti ini selalu tergantung dari 
belas kasihan simayoritas, seperti Bupati orang Pakpak di Dairi dan orang 
Simalungun di Simalungun. Begitu mereka (orang mayoritas) tidak berbelas 
kasihan dan digantungkan ke pemilihan demokratis tadi maka yang menang tetap 
mereka, seperti sekarang di Dairi, di Deliserdang atau nanti lagi di 
Simalungun. 
Dalam sebuah rumah tangga dimana tamunya lebih banyak dari seisi rumah, sudah 
itu dibikin pemilihan demokratis untuk menetapkan tuan rumah yang baru, tentu 
tuan rumah yang semula harus mundur, digantikan oleh tamu.. Begitulah terjadi 
di Dairi, Simalungun, dan Deliserdang dimana pendatang Amri Tambunan (tamu 
dirumah tadi) telah secara demokratsi jadi tuan rumah. 
Tyranny of majority telah menjadi persoalan hidup mati golongan minoritas 
dunia, sebab utama perang etnis dalam era ethnic revival dunia, dan soal ini 
sekarang ini di Indonesia harus dibahas didepan publik, dan datangnya harus 
dari etnis-etnis minoritas karena tidak mungkin dipahami oleh etnis-etnis 
mayoritas dominan. Contoh internasional ialah di Uni Soviet hal ini tidak 
pernah dipahami oleh orang Rusia, atau orang Serbia di Yugoslavia, dan 
diseluruh dunia 95% dari jumlah negara dunia terdiri dari etnis mayoritas dan 
minoritas. Karena itu soal tirani mayoritas ini juga telah menjadi persoalan 
dunia sekarang ini. Mengapa dulu tidak? Karena kontradiksi pokok dunia sudah 
berubah sekarang. 
Di negeri kita tentu kita bisa menyaksikan sendiri seperti orang Aceh di NAD 
bagaimana perlakuan mereka atas etnis-etnis minoritas lainnya, termasuk menipu 
pusat menandatangani MoU Helsinki yang tidak membolehkan pemekaran daerah 
etnis-etnis lain. Dan didepan mata kita sebagai Karo ialah orang Tapanuli atau 
Mandailing di Sumut. Tapi perlu juga dicatat, ada perubahan atau semacam 
perkembangan pikiran dari orang-orang dominan ini, yaitu mereka mau mundur 
dengan bentuk propinsi sendiri (Protap/Protabar dari orang-orang Batak dan 
Sumtra dari orang-orang Mandailing). Sikap begini tidak ada pada orang Aceh di 
NAD. Etnis-etnis minoritas Sumut (Karo, Simalungun dan Pakpak) harus menyambut 
dan menghargai sikap strategis etnis-etnis Tapanuli (Batak dan Mandailing) dan 
patutnya ikut bersinergi menciptakan pemekaran propinsi-propinis ini dan untuk 
selanjutnya menciptakan suasana baru politik kedamaiana antar-etnis yaitu 
politik bersama multikultural
 seperti saya sebutkan dalam tulisan PEMEKARAN ADALAH PENGAKUAN DAN RESPEK. 
Pemekaran adalah salah satu cara "mengelola keragaman" dengan meminjam istilah 
mantan presiden Gus Dur, cara yang didasari dengan Pengakuan dan Respekt atas 
existensi etnis lain, dan karena itu adil dan akan bisa menjadi dasar 
mempertahankan dan mengembangkan keharmonisan antar-etnis dan jauh berbeda 
dengan semangat mempertahankan "persatuan dan kesatuan" fabrikasi Orba. 
Walaupun dulu persoalan tirani mayoritas ini belum terasa (seperti sekarang) 
tetapi sudah banyak juga ahli-ahli pikir zaman dulu menyebut persoalan tirani 
mayoritas ini, seperti John Stuart Mill (1806-18739 dan Tocqueville 
(1805-1859). Mill melihat masyarakat yang bisa dikatakan homogen, begitu juga 
Tocqueville walaupun dia sudah menyinggung sedikit soal etnis monoritas orang 
hitam di Amerika, dan sekarang ini tentu sudah lebih gesit lagi soal ini di USA 
dengan tambahnya golongan-golongan minoritas dari Asia dan Amerika Selatan. Dan 
seperti saya sebutkan diatas bahwa 95% negara dunia menghadapi persoalan ini 
dan semakin sengit. Kurang dari 5% negara dunia yang tidak punya persoalan 
’heterogenitas’. 
Salam tirani mayoritas
MUG
--
--- In tanahk...@yahoogrou ps.com, MU Ginting <gintin...@.. .> wrote:
 
Petani Karo Diminta Slamatkan Lahan dengan Kompos 
Maret 6th, 2009 
Medan (SIB)
Anggota DPD-RI H Yopie S Batubara meminta petani Karo menyelamatkan lahan 
bercocok tanam dari kerusakan akibat pemakaian pupuk kimia secara berlebih dan 
tak terkendali.
"Penggunaan pupuk kimia secara terus menerus apalagi tak terkendali berdasarkan 
hasil penelitian ahli pertanian bisa merusak kesuburan tanah, sebab dampak 
penggunaan pupuk kimia dapat merusak struktur tanah bahkan cacingpun yang 
berfungsi menyuburkan tanah tak bisa hidup di lahan pertanian menggunakan pupuk 
kimia", ujar H Yopie S Batubara.
Penegasan tersebut disampaikan Yopie S Batubara dalam siaran persnya, Selasa 
(3/3) sehubungan kunjungan beliau di Kabupaten Tanah Karo dalam acara 
silaturrahmi dengan tokoh agama, pemuka masyarakat, kepala desa dan warga, 
Sabtu (28/2) malam di Hotel Rudang Berastagi.
Dalam pertemuan dihadiri ribuan orang tersebut, Yopie yang ketika itu mendapat 
penabalan marga Tarigan oleh tokoh masyarakat Karo kembali
 menyuarakan betapa pentingnya petani Karo menyelamatkan lahan bercocok tanam, 
mengingat lahan pertanian di daerah wisata berhawa dingin tersebut sekian lama 
dimanfaatkan sehingga tingkat kesuburannya tentu mengalami penurunan.
"Upaya mengembalikan kesuburan lahan pertanian di Kabupaten Karo harus segera 
dilakukan, salah satu cara dengan menggunakan pupuk kompos sebagai pengganti 
pupuk kimia. Pupuk kompos terbukti mampu menyuburkan tanaman dan menjamin 
tingkat produksi pertanian," kata Yopie yang kembali mencalonkan diri menjadi 
anggota DPD-RI periode 2009-2014 tersebut.
Lebih lanjut kata sosok yang konsisten terhadap pemasyarakatan penggunaan pupuk 
kompos itu, dampak penggunaan pupuk kimia oleh petani di Karo menyebabkan 
produksi pertanian dari daerah tersebut kalah bersaing dengan produksi dari 
negara lain di pasar Internasional, sebab pasar luar negeri lebih memilih 
produk pertanian yang bebas dari penggunaan pupuk kimia.
"Singapura
 sebagai pasar ekspor hasil pertanian dari berbagai negara sangat selektif 
terhadap komoditi pertanian menggunakan pupuk kimia, sebab negara itu lebih 
memilih hasil pertanian yang bebas dari pemakaian pupuk kimia", kata Yopie 
sembari mengingatkan agar petani juga mampu memanfaatkan pasar ekspor selain 
pasar domestik.
Terkait peluang ekspor komoditi pertanian ini, Yopie kembali mengingatkan 
pemerintah daerah maupun pusat agar menyediakan berbagai fasilitas pendukung 
seperti gudang pendingin, transportasi serta berbagai variabel diperlukan guna 
memudahkan ekspor.
Pada kesempatan tersebut masyarakat yang berkesempatan bertatap muka dengan H 
Yopie S Batubara anggota DPD-RI asal Sumut itu memanfaatkan berdialog tentang 
kondisi pembangunan bangsa termasuk masalah krisis ekonomi global. (R6/Rel/m)
--

      Sök efter kärleken! 
Hitta din tvillingsjäl på Yahoo! Dejting: http://se.meetic. yahoo..net
 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      ____________________________________________________________________
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru! 
http://id.yahoo.com/

Kirim email ke