--- On Fri, 3/6/09, karo karositepu <[email protected]> wrote:
From: karo karositepu <[email protected]> Subject: Bls: [tanahkaro] Re: DPD Tapanuli meminta petani Karo . . pesan buat caleg. To: [email protected] Date: Friday, March 6, 2009, 12:27 PM Apa yang diutarakan pak Yopie, dn juga caleg lain memang bukan hal yang baru, semua juga sudah tau.... kita setuju itu pak Ginting. Yang baru.... dan gak pernah dikemukakan oleh caleg lainnya.... "sedikit" analisa atau hitungan yang gampang,... idealnya berapa penggunaan pupuk an organik dan organik, darimana bahan baku pembuatan pupuk organik..... Semua juga tau kalau pembuatan pupuk organik (kompos) sebaiknya dikombinasikan dengan "manure"... dari ternak atau manusia.... nah ini dia maslahnya. Sedikit informasi... . barung kita selama 2 tahun ini mengasilkan (menjual) pupuk kandang sebanyak 1500 truk... dan sampai saat ini permintaan membludak.. sehingga pembelian dibatasi max.5 truk per petani. Idealnya pak Jopie ikut mermbantu solusi bagaimana agar populasi ternak sapi bertambah di karo...... tapi saya yakin beliau tidak akan mau berbicara soal itu karena membutuhkan waktu dan dana yang besar.... sedangkan yang beliau butuhkan kan... yang instant untuk keperluan 9 april.2009. Dan ini akan lebih jelas kalau ada yang menanyakan pada beliau.... dimana beliau (dan caleg lainnya) selama ini.... kenapa baru sekarang tiba-tiba semua jadi pahlawan.... ..(mudah- mudahan belum kesiangan). Endam sitik bas kami nari perjuma-juma, Per"baroeng" peceren --- Pada Jum, 6/3/09, MU Ginting <gintin...@yahoo. se> menulis: Dari: MU Ginting <gintin...@yahoo. se> Topik: [tanahkaro] Re: DPD Tapanuli meminta petani Karo . . . Kepada: tanahk...@yahoogrou ps.com, forumk...@yahoogrou ps.com, komunitaskaro@ yahoogroups. com Tanggal: Jumat, 6 Maret, 2009, 7:45 AM Dalam kampanyi DPDnya di Karo Yopie Batubara mengulangi lagi beberapa tabas yang selama ini sudah sering dimuntahkan oleh banyak tempulak Karo, seperti pupuk kimia merusak, ganti kompos, bikin gudang pendingin, Singapor menolak sayur kimia dsb. Yopie tahu bahwa hal-hal ini cuma lagu lama yang sudah terlalu sering diulang-ulangi oleh banyak tempulak Karo, tetapi dia mau bilang apa, kalau datang ke Berastagi (banyak pendatang Tapanuli) harus ada yang mau diucapkan. Petani Karo kalaupun ada yang datang kesitu, tentu tabas Yopie hanya akan bikin ribut dikuping, sudah terlalu sering didengar, tidak ada yang baru. Yang baru misalnya ialah menjawab pertanyaan mengapa sampai sekarang juga tidak banyak menggunakan pupuk kompos kalau memang itu yang lebih baik. Ini tidak ada yang menjawab, dan tempulak model Yopie seperti juga tempulak-tempulak lainnya, tidak akan mungkin menjawab secara ilmiah. Mengapa pula dia harus menjawabnya, bukan kerjaan dia, dan dia datang kesana punya maksud tersendiri, kampanyi terutama dihadapan pendatang Tapanuli di Berastagi dan Karo umumnya. Bahwa Yopie dan DPD tapanuli lainnya akan terpilih lagi, tidak perlu ada kesangsian. Disini berlaku tyranny of majority. Apapaun yang dibikin orang Karo, Pakpak atau Simalungun, mereka tidak akan terpilih. Suara tidak cukup. Perlu selalu harus ditekankan bahwa disini berlaku tirani mayoritas. Nasib orang-orang minoritas dalam sistem demokrasi seperti ini selalu tergantung dari belas kasihan simayoritas, seperti Bupati orang Pakpak di Dairi dan orang Simalungun di Simalungun. Begitu mereka (orang mayoritas) tidak berbelas kasihan dan digantungkan ke pemilihan demokratis tadi maka yang menang tetap mereka, seperti sekarang di Dairi, di Deliserdang atau nanti lagi di Simalungun. Dalam sebuah rumah tangga dimana tamunya lebih banyak dari seisi rumah, sudah itu dibikin pemilihan demokratis untuk menetapkan tuan rumah yang baru, tentu tuan rumah yang semula harus mundur, digantikan oleh tamu.. Begitulah terjadi di Dairi, Simalungun, dan Deliserdang dimana pendatang Amri Tambunan (tamu dirumah tadi) telah secara demokratsi jadi tuan rumah. Tyranny of majority telah menjadi persoalan hidup mati golongan minoritas dunia, sebab utama perang etnis dalam era ethnic revival dunia, dan soal ini sekarang ini di Indonesia harus dibahas didepan publik, dan datangnya harus dari etnis-etnis minoritas karena tidak mungkin dipahami oleh etnis-etnis mayoritas dominan. Contoh internasional ialah di Uni Soviet hal ini tidak pernah dipahami oleh orang Rusia, atau orang Serbia di Yugoslavia, dan diseluruh dunia 95% dari jumlah negara dunia terdiri dari etnis mayoritas dan minoritas. Karena itu soal tirani mayoritas ini juga telah menjadi persoalan dunia sekarang ini. Mengapa dulu tidak? Karena kontradiksi pokok dunia sudah berubah sekarang. Di negeri kita tentu kita bisa menyaksikan sendiri seperti orang Aceh di NAD bagaimana perlakuan mereka atas etnis-etnis minoritas lainnya, termasuk menipu pusat menandatangani MoU Helsinki yang tidak membolehkan pemekaran daerah etnis-etnis lain. Dan didepan mata kita sebagai Karo ialah orang Tapanuli atau Mandailing di Sumut. Tapi perlu juga dicatat, ada perubahan atau semacam perkembangan pikiran dari orang-orang dominan ini, yaitu mereka mau mundur dengan bentuk propinsi sendiri (Protap/Protabar dari orang-orang Batak dan Sumtra dari orang-orang Mandailing). Sikap begini tidak ada pada orang Aceh di NAD. Etnis-etnis minoritas Sumut (Karo, Simalungun dan Pakpak) harus menyambut dan menghargai sikap strategis etnis-etnis Tapanuli (Batak dan Mandailing) dan patutnya ikut bersinergi menciptakan pemekaran propinsi-propinis ini dan untuk selanjutnya menciptakan suasana baru politik kedamaiana antar-etnis yaitu politik bersama multikultural seperti saya sebutkan dalam tulisan PEMEKARAN ADALAH PENGAKUAN DAN RESPEK. Pemekaran adalah salah satu cara "mengelola keragaman" dengan meminjam istilah mantan presiden Gus Dur, cara yang didasari dengan Pengakuan dan Respekt atas existensi etnis lain, dan karena itu adil dan akan bisa menjadi dasar mempertahankan dan mengembangkan keharmonisan antar-etnis dan jauh berbeda dengan semangat mempertahankan "persatuan dan kesatuan" fabrikasi Orba. Walaupun dulu persoalan tirani mayoritas ini belum terasa (seperti sekarang) tetapi sudah banyak juga ahli-ahli pikir zaman dulu menyebut persoalan tirani mayoritas ini, seperti John Stuart Mill (1806-18739 dan Tocqueville (1805-1859). Mill melihat masyarakat yang bisa dikatakan homogen, begitu juga Tocqueville walaupun dia sudah menyinggung sedikit soal etnis monoritas orang hitam di Amerika, dan sekarang ini tentu sudah lebih gesit lagi soal ini di USA dengan tambahnya golongan-golongan minoritas dari Asia dan Amerika Selatan. Dan seperti saya sebutkan diatas bahwa 95% negara dunia menghadapi persoalan ini dan semakin sengit. Kurang dari 5% negara dunia yang tidak punya persoalan ’heterogenitas’. Salam tirani mayoritas MUG -- --- In tanahk...@yahoogrou ps.com, MU Ginting <gintin...@.. .> wrote: Petani Karo Diminta Slamatkan Lahan dengan Kompos Maret 6th, 2009 Medan (SIB) Anggota DPD-RI H Yopie S Batubara meminta petani Karo menyelamatkan lahan bercocok tanam dari kerusakan akibat pemakaian pupuk kimia secara berlebih dan tak terkendali. "Penggunaan pupuk kimia secara terus menerus apalagi tak terkendali berdasarkan hasil penelitian ahli pertanian bisa merusak kesuburan tanah, sebab dampak penggunaan pupuk kimia dapat merusak struktur tanah bahkan cacingpun yang berfungsi menyuburkan tanah tak bisa hidup di lahan pertanian menggunakan pupuk kimia", ujar H Yopie S Batubara. Penegasan tersebut disampaikan Yopie S Batubara dalam siaran persnya, Selasa (3/3) sehubungan kunjungan beliau di Kabupaten Tanah Karo dalam acara silaturrahmi dengan tokoh agama, pemuka masyarakat, kepala desa dan warga, Sabtu (28/2) malam di Hotel Rudang Berastagi. Dalam pertemuan dihadiri ribuan orang tersebut, Yopie yang ketika itu mendapat penabalan marga Tarigan oleh tokoh masyarakat Karo kembali menyuarakan betapa pentingnya petani Karo menyelamatkan lahan bercocok tanam, mengingat lahan pertanian di daerah wisata berhawa dingin tersebut sekian lama dimanfaatkan sehingga tingkat kesuburannya tentu mengalami penurunan. "Upaya mengembalikan kesuburan lahan pertanian di Kabupaten Karo harus segera dilakukan, salah satu cara dengan menggunakan pupuk kompos sebagai pengganti pupuk kimia. Pupuk kompos terbukti mampu menyuburkan tanaman dan menjamin tingkat produksi pertanian," kata Yopie yang kembali mencalonkan diri menjadi anggota DPD-RI periode 2009-2014 tersebut. Lebih lanjut kata sosok yang konsisten terhadap pemasyarakatan penggunaan pupuk kompos itu, dampak penggunaan pupuk kimia oleh petani di Karo menyebabkan produksi pertanian dari daerah tersebut kalah bersaing dengan produksi dari negara lain di pasar Internasional, sebab pasar luar negeri lebih memilih produk pertanian yang bebas dari penggunaan pupuk kimia. "Singapura sebagai pasar ekspor hasil pertanian dari berbagai negara sangat selektif terhadap komoditi pertanian menggunakan pupuk kimia, sebab negara itu lebih memilih hasil pertanian yang bebas dari pemakaian pupuk kimia", kata Yopie sembari mengingatkan agar petani juga mampu memanfaatkan pasar ekspor selain pasar domestik.. Terkait peluang ekspor komoditi pertanian ini, Yopie kembali mengingatkan pemerintah daerah maupun pusat agar menyediakan berbagai fasilitas pendukung seperti gudang pendingin, transportasi serta berbagai variabel diperlukan guna memudahkan ekspor. Pada kesempatan tersebut masyarakat yang berkesempatan bertatap muka dengan H Yopie S Batubara anggota DPD-RI asal Sumut itu memanfaatkan berdialog tentang kondisi pembangunan bangsa termasuk masalah krisis ekonomi global. (R6/Rel/m) -- Sök efter kärleken! Hitta din tvillingsjäl på Yahoo! Dejting: http://se.meetic. yahoo.net Dapatkan alamat Email baru Anda! Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan sebelum diambil orang lain!
