Sabtu, 07/03/2009 16:10 WIB 

PKS Utamakan Koalisi dengan Partai Islam 
Muhammad Nur Abdurrahman – detikPemilu
 
Makassar - Menjelang Pemilu 2009, sejumlah parpol mulai menjajaki koalisi. 
Salah satunya PKS, yang lebih senang berkoalisi dengan partai Islam ketimbang 
partai nasionalis.
"PKS lebih mengutamakan koalisi dengan sesama partai Islam. Kalau hasilnya 
belum cukup, kita koalisi dengan partai nasionalis," kata  Tifatul dalam jumpa 
pers di Jalan Lamadukelleng, Makassar, Sabtu (7/3/2009).
Menurut dia, tidak ada satu pun parpol yang sanggup memimpin Indonesia
sendirian.  Setiap parpol, lanjut Tifatul, harus bermental sharing atau 
menjalin koalisi.
Tifatul menegaskan PKS hanya akan menghimpun 40 persen suara dari hasil koalisi 
dengan parpol lain. Koalisi di atas 50 persen atau di bawah 20 persen, kata 
Tifatul, bisa menyebabkan instabilitas politik yang mengakibatkan ketidakakuran 
antara pihak eksekutif dan legislatif di negeri ini. 
"Kalau koalisi terlalu gemuk, check and balance roda pemerintahan tidak bagus," 
ujar dia.
Ketika ditanya mengenai duet JK-Hidayat, Tifatul menjawab PKS hanya bisa 
berkoalisi dengan calon yang dikehendaki sepenuhnya oleh partainya untuk maju..
"Jangan sampai dalam satu partai ada calonnya yang maju dan ada juga yang 
berteriak-teriak menolak," cetus dia. ( mna / aan )
--
 
KOMENTAR
Reading Between the Lines:
Membaca apa yang tidak tertulis 
 
”Salah satunya PKS, yang lebih senang berkoalisi dengan partai Islam ketimbang 
partai nasionalis”.
 Tifatul berada di Makassar, dominan islam, tidak sepenuhnya tempat fanatisme 
tapi terkenal dalam sejarah kebangkitan Indonesia dengan pergolakan islamnya. 
Kata-kata koalisi dengan islam ketimbang nasionalis, sangat pada tempatnya 
dikatakan dan penting. Tifatul tidak akan mengatakan hal yang sama misalnya di 
Bali atau Papua. Selain itu daerah ini bisa dianggap sebagai perwakilan bagian 
timur Indonesia, Tifatul sudah mengerti bagian barat yang dia wakili sendiri. 
Sekjen PKS Anis Matta berasal dari sana (Sulsel) dan telah berulang menyatakan 
diri sebagai Capres, walaupun tidak jelas dari partai atau tidak. Anis Matta 
menentang Hidayat jadi cawapres PKS. Tifatul belum menyatakan sikapnya nyapres 
atau tidak, karena itu belum terlihat tentangan dalam partai, tetapi ada 
waktunya, momentnya yang tepat pasti datang, kesabaran dan kewaspadaan jadi 
batas baginya. 
 
"Menurut dia, tidak ada satu pun parpol yang sanggup memimpin Indonesia
sendirian.  Setiap parpol, lanjut Tifatul, harus bermental sharing atau 
menjalin koalisi."
Sekarang ini kita dalam tingkat perkembangan sejarah bernama ’sharing’, 
diapakan pun tingkat perkembangan ini tidak mungkin diloncati, oleh siapapun. 
Kontradiksi pokok dunia telah berubah dan dasar partai otomatis berubah juga, 
tidak ada dasar ideologis yang kuat seperti era lalu (era dua blok). Sekarang 
tujuannya menang atau menangkan kursi, sendiri tidak mungkin, maka harus dengan 
yang lain, bagi kursi juga tidak apa, penting kursi. Karena itu juga tiap 
partai punya gambar/simbol kayak PT (Carlos P),  dan PT banyak, bisa bikin tiap 
bulan dan siapa saja, dan banyak juga yang cekatan. Tetapi belum ada yang besar 
seperti PT multi-nation global, karena banyak PT baru juga, dan PT lama tidak 
diperbarui terutama direkturnya.  Kalau partai mirip PT mestinya direksinya 
berpenidikan bisnis, barangkali bisa lebih maju atau pasti lebih maju. PT 
Tifatul bisa dikatakan agak maju, tapi seperti PT PT lainnya dalam direksinya 
banyak pikiran simpang siur
 bagaimana cara paling menguntungkan, terutama menguntungkan diri sendiri, 
karena PT tadi. PT Tifatul kadang kita dengar mau koalisi dengan Sultan, kadang 
dengan JK Golkar, terlihat pertentangan kepentingan pribadi disitu, terutama 
antara Tifatul, Hidayat dan Anis (Sumatra, Jawa dan Sulawesi). Jawa-luar jawa 
merupakan kontradiksi tersendiri dalam pertarungan kursi tertinggi, Jawa 
capres, luar jawa wapres, paling logis. Kalau orang Jawa jadi presiden, maka 
luar jawa akan bertarung. Hidayat kali mesti minggir. 

"Kalau koalisi terlalu gemuk, check and balance roda pemerintahan tidak bagus,"
Suatu trobosan baru dalam pemikiran politikus Indonesia, karena umumnya mereka 
jauh terpisah dari pemikiran dialektis. Tapi ini jelas dialektis, keseimbangan 
kekuatan antara dua hal-ihwal yang bertentangan. Walaupun ini tidak tergantung 
dari kemauan manusia, karena perubahan dialektis berjalan menurut 
hukum-hukumnya sendiri, tapi manusia bisa membantu perkembangannya, mempercepat 
atau sedikit mengetahui arahnya. Balance hanya sementara, dan ketidakseimbangan 
adalah mutlak, seperti perubahan juga adalah mutlak. Karena itu perjuangan 
antara segi-segi bertentangan dalam koalisi partai-partai juga adalah mutlak 
dan terus menerus. 
Sekiranya Tifatul bisa fokus dan mentrapkan pemikiran dialektis ini . . . 
 
"Jangan sampai dalam satu partai ada calonnya yang maju dan ada juga yang 
berteriak-teriak menolak,"
Hidayat maju sudah jelas ditentang oleh Anis dan beberapa temannya dari Sulsel, 
begitu juga kalau Anis maju, lebih banyak lagi penentangnya. 
Kalau Tifatul maju . . . masih banyak yang menunggu, termasuk Tifatul sendiri . 
. . Timing Uda Sembiring hehehe . . . 
 
MUG
--


      ___________________________________________________
Sök efter kärleken!
Hitta din tvillingsjäl på Yahoo! Dejting: 
http://ad.doubleclick.net/clk;185753627;24584539;x?http://se.meetic.yahoo.net/index.php?mtcmk=148783

Kirim email ke