Jumat, 17/04/2009 11:20 WIB
Menaklukkan Keperkasaan SBY
M. Aji Surya – detikNews
Jakarta - Paska Pemilu Legislatif 9 April 2009 banyak calon presiden (capres) 
yang buru-buru tahu diri. Melihat perolehan yang tidak signifikan lebih baik 
mengurungkan niat awal dan berputar haluan. Seolah kekalahan perhelatan Pilpres 
sudah di depan mata dan menjadi sebuah kepastian. Tidak adakah cara untuk 
melawan keperkasaan SBY?
 
Fenomena Indonesia

Berdasarkan hasil Pileg awal bulan April ini, para bakal capres kita sepertinya 
sudah mulai kehilangan nyali. Kalau dulu, setengah tahun sebelum Pileg tercatat 
ada lebih 8 bakal calon ”jawara” yang akan berlaga dalam perhelatan Pilpres 
mendatang, kini langsung mengkerut dalam jumlah sangat minim. Seolah dunia 
perpolitikan Indonesia hanya ada dua model, SBY atau bukan SBY. Bahkan bila 
dikerucutkan lagi, maka bisa jadi hanya ada dua kandidat yang benar-benar akan 
berlaga. Quo vadis lainnya?

Terdapat suatu asumsi dan pendapat umum bahwa SBY dengan siapapun capresnya, 
pasti akan melenggang ke istana. Hitungan kasarnya kadang terlalu simpel. Kalau 
Pileg saja Demokrat menang, pastilah SBY akan mudah berkibar di Pilpres 
mendatang. Semua lawan SBY seolah terbengong-bengong, terbelalak, 
tergopoh-gopoh, termehek-mehek dan bahkan sudah patah arang. Dengan cara pikir 
yang demikian, maka hanya menyisakan dua pilihan: menjadi penguasa di bawah 
pimpinan SBY atau menjadi oposisi. Inilah sikap kalah sebelum perang.
 
Banyak partai seolah lupa bahwa selain capres yang mereka pastikan akan kalah 
melawan SBY, masih terdapat jutaan rakyat Indonesia yang memiliki kapasitas 
memimpin bangsa ini. Mereka ini tidak hanya hidup di partai, namun juga di 
lembaga pendidikan, LSM hingga berbaur masyarakat umum. Lupa bahwa pemimpin 
nasional yang kita cari tidaklah selalu harus berasal dari partai, tetapi orang 
yang benar-benar memiliki kemampuan memimpin, entah itu berasal dari Papua, 
Kalimantan, Sulawesi, Sumatra ataupun Jawa.

Di sisi lain, disinyalir memang ada beberapa pemimpin partai yang hanya 
memberikan peluang bagi dirinya untuk duduk dalam kekuasaan puncak sembari 
menafikan orang lainnya. Dengan ego dan keakuannya seolah melihat sebelah mata 
para pendatang baru yang bisa jadi adalah kuda hitam dan satrio piningit. 
Sementara itu, masyarakat-pun kelihatan terjebak dalam sebuah peta bahwa hanya 
orang-orang yang dikenal saja yang layak jadi pemimpin nasional.

Sungguh, sekiranya masyarakat AS dan Partai Demokrat masih berpikir 
konvensional, mungkin Obama tidak punya peluang jadi presiden. Tetap saja yang 
menang adalah golongan WASP. Dan sekiranya masyarakat Indonesia dan parpol kita 
tidak berani berpikir out of the box menjelang pilpres Juli mendatang, maka 
jangan salahkan siapapun kalau SBY kembali memimpin. Inilah yang sering 
dikatakan: you are what you think atau what we think, we become.

* Aji Surya adalah alumnus UII, UGM, UI serta Pondok Modern Gontor. Kini 
tinggal di Moskow, Rusia ([email protected]).
(iy/iy)
 
(Artikel dipendekkan, lengkapnya di detik com)
 

Kolom
§   17/04/2009 11:20 WIB
Menaklukkan Keperkasaan SBY 
 


      __________________________________________________________
Går det långsamt? Skaffa dig en snabbare bredbandsuppkoppling. 
Sök och jämför priser hos Kelkoo.
http://www.kelkoo.se/c-100015813-bredband.html?partnerId=96914325

Kirim email ke