MJJ: Miris, memang. Tapi bujur, enggo i peseh senina enda. Alu bage banci ras-ras kita ndarami dalan pekena si bagenda rupana. Sekarang abad informasi. Semestinya hal-hal seperti ini sudah harus lama muncul ke permukaan, sehingga boleh menjadi perhatian. Saya melihat masih ada informasi yang boleh digali. Kenapa sampai penduduk Doulu sendiri membiarkan hal ini terjadi, kalau memang penempatan orang luar demikian dimusyawarahkan dengan perangkat desa. Apakah ada SK pengangkatan penjaga, dan kalau ada, apa memang tidak petunjuk dan rambu-rambu penjagaan? Apa memang tidak ada pembekalan dari kantor Pariwisata?
Inilah salah satu dinamika spesifik dari pengelolaan suatu pemerintahan seperti kab Karo. Ini yang menjadi latar belakang kenapa dirasakan perlu membangun suatu Tema dan Panduan/Program Kerja TPK kab Karo 2010-2015 yang dimulai dengan mengadakan Base Line Survey (BLS). Terkait dengan komplen diatas diperlukan suatu perangkat pengelolaan informasi yang sistematis dan tanggap dalam struktur pemerintahan kabupaten Karo. Tanggap artinya langsung ada yang merasa bertanggung jawab kalau hal seperti yang dilaporkan senina ini muncul, dan tentunya kemudian melakukan tindakan koreksi sesuai panduan baku. Bujur, Sentabi, Bp Nona Sampaguita ________________________________ From: karo karositepu <[email protected]> To: [email protected] Sent: Wednesday, September 16, 2009 3:17:08 PM Subject: [komunitaskaro] PARIWISATA TANPA SENYUM ??? Pasti semua kita pernah ber darmawisata, keindahan alam, keunikan budaya, kemajuan teknologi pasti merupakan factor yang menjadi magnit yang mandorong kita untuk melakukan kunjungan . Selain faktor tersebut, kebersihan (toilet misalnya), keramahan dari penduduk setempat merukan hal yang tidak kalah pentingnya. Bisa dibayangkan pada saat kita mengunjungi DTW, Berastagi Misalnya tiba-tiba kebutuhan mendesak ke toilet tidak bisa terpenuhi, pastilah suasana ceria berubah menjadi derita… Dalam hal keramahan… saya punya pengalaman sangat menarik (mungkin lebih tepatnya menyakitkan) ceritanya begini: Pada tanggal 14 September 2009 untuk memenuhi undangan perangkat dan masyarakat Desa Dolu, saya dengan 6 orang teman jam 19.45 berangkat dari Kabanjahe ke desa tersebut. Memasuki Desa Dolu, 100 m dari simpang, kami di stop oleh petugas tanpa tanda pengenal (katanya petugas Pemda), Kami jelaskan tujuan kami bukan ke daearh Wisata Pemandiar air panas, tapi pertemuan dengan perangkat Desa dan masyarakat Dolu. Sang petugas (anak tanggung 16 tahunan), dengan sangat arogan meng interogasi kami dengan kata-kata yang sangat tidak pantas al: Kalian inin tidak menghargai PEMDA KARO, baca itu plang pengumuman (yang dalam keadaan gelap memang gak terbaca), Siapa saja yang ikut pertemuan…dsb… dsb. Ngomong nya juga seperti membentak… sepertinya dialah yang punya DOLU… Sesampai di Desa Dolu… kami menceritakan pengalaman yang tidak enak tersebut… dan yang membuat kasi benar benar terkejut penduduk Dolu mengatakan : Labo kam saja banna bage Sitepu, kade-kade kami pe sir eh atena mesuikal atena ibahan petugas ah. Ia me iakakna si punana Dolu enda.. sebab si ertugas ah anak Kacaribu,.. nina kadekade Pak Bupati…..emaka kami pe la pang ngerana… Pernyataan penduduk Dolu sampai saat ini menjadi pertanyaan dalam diri saya: 1. Apakah petugas retribusi di Dolu memang harus dari penduduk kampung lain dan harus family Pejabat??? 2. Apakah Pariwisata dapat maju … tanpa keramahan (baca: senyum dan penampilan simpatik petugas) ??? Kalau saya pribadi sebagai penduduk Kab.Karo, memang sangat menghindarkan untuk mengunjungi obyek wisata Dolu, karena beberapa kali saya kesana belum pernah mendapaat perlakuan yang simpatik (padahal untuk itu saya rela membayar tentunya) Bujur ras mejuah-juah P.Sitepu ________________________________ Yahoo! sekarang memiliki alamat Email baru Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail. br> Cepat sebelum diambil orang lain!
