Sebuah berita di media masa bisa sebagai "model of" atau menjadi "model for" 
atau juga keduanya (meminjam istilah Clifford Geertz di dalam tulisannya 
berjudul "Model of and Model for Culture" dalam bukunya The Interpretation of 
Culture, 1973).

Demikian halnya berita Harian SIB yang saya sertakan di bawah ini (ada baiknya 
dibaca terlebih dahulu berita tersebut sebelum meneruskan membaca tulisan saya 
ini).

Sebagai "model for", berita SIB ini "mengajak" pembacanya "untuk" mencurigai 
kegiatan apa saja yang dilakukan orang Karo pasti berkaitan langsung dengan 
Pilkada Kab. Karo 2010.

Sebagai "model of", berita ini adalah "gambaran dari" [sudah] adanya pikiran 
masyarakat yang mencurigai apa saja yang dilakukan orang Karo terkait langsung 
dengan Pilkada Kab. Karo 2010.

Mengapa saya tertarik membicarakan hal ini? Silahkan baca sekali lagi judulnya. 
Jelas sekali mengkaitkan BABKI, GLGS, NDC dan Bank Aron berkaitan langsung 
dengan Pilkada 2010 itu. Hanya mengenai GLGS saya tidak tahu sama sekali. 
Selebihnya saya cukup terlibat langsung dan cukup mengetahui apa yang terjadi 
di dalamnya.

Saya mulai saja dengan Bank Aron. Sudah didengung-dengungkan oleh Sdr. Dany 
Tarigan (tinggal di Jakarta) secara pribadi kepada beberapa orang dan terakhir 
dia ucapkan dalam pertemuan ramah-tamah di Perguruan Pencawan Medan, 
pertengahan September lalu. Setahu saya, tidak ada yang menanggapi dan, kesan 
yang saya tangkap, orang-orang kurang tertarik mendengarnya.

Dengan kata lain, saya yakin benar bahwa Bank Aron masih jauh (dan jauh sekali) 
dari terbentuk/berdiri. Masih dalam tahap mengangin-anginkan ide (ide pribadi 
Dany Tarigan sendiri). Janggal menggunakan kata "Bank Aron dibahas". Apa yang 
mau dibahas? Tah kurung tah labang denga.

Mengenai BABKI (Balai Adat Budaya Karo Indonesia), adalah inisiatip dan gagasan 
pribadi Sdr. Sarjani Tarigan yang kemudian berkembang menjadi gagasan banyak 
orang melalui kerja keras Sarjani mengkomunikasikannya lewat kontak pribadi 
maupun Radio Sikamoni Medan. Saya adalah salah satu diantara banyak orang yang 
menyambut positip gagasan mendirikan BABKI. Tidak kurang 3 pertemuan saya 
hadiri. Di pertemuan-pertemuan awal termasuk saya menjadi pengobar semangat 
sampai-sampai mengirim sekitar 10 mahasiswa saya untuk menjadi notulen dan 
mengisi acara hiburan (lewat penampilan musik tradisional).

Setahu saya, hanya di pertemuan terakhir ada hadir wartawan SIB. Dan, setahu 
saya pula, BABKI belum terbentuk. Sampai sekarang belum ada pengurusnya. Masih 
dalam tahap mengembangkan wacana. Kalaupun terbentuk, mungkin tadi siang (27 
September 2009) dalam pertemuan yang tidak bisa saya hadiri karena telah 
berangkat ke Belanda 26 September kemarin. Itupun saya belum yakin sampai 
sekarang kalau-kalau BABKI sudah terbentuk.

Judul berita SIB itu mengatakan pula "NDC Segera Deklarasi". Setahu saya, NDC 
(Neumann Development Centre)(bukan Newman Development Centre) sudah 
dideklarasikan (bukan akan lagi tapi sudah). Kalau acara 8 Oktober 2009 nanti 
yang dia maksud deklarasi, si wartawan pasti salah kaprah.

8 Oktober 2009 adalah PERESMIAN NDC yang, menurut rencana, akan dilakukan oleh 
Gubsu H. Syamsul Arifin SE di Hotel Emerald Garden. Diawali dengan penampilan 
Sanggar Seni Najati (dengan menampilkan tarian guru diiringi kulcapi (Pauji 
Ginting), 2 ketteng-ketteng (Aldo S. Sitepu dan Swingly Ginting), Mangkuk 
(Ardis br Ginting), gendang singindungi (Putra Sitepu). Musik dan tari 
dirancang oleh Putra Sitepu. Penata busana, Ita Apulina Tarigan.

Boleh saya tambahkan bahwa saya termasuk salah satu diantara sejumlah anggota 
Dewan Pakar NDC. Makanya saya menghadiri beberapa rapatnya termasuk 
deklarasinya di Restauran Kenanga Indonesia. Adapun Sekretaris Eksekutif NDC 
adalah Ita Apulina Tarigan (sekaligus sekretaris panitia peresmian), yang jelas 
sekali, tak pernah tak hadir dari semua rapat. Setahuku, tidak ada wartawan SIB 
yang menghadiri deklarasi maupun rapat-rapat NDC. Harian-harian Medan mendapat 
berita tentang NDC dari wawancara mereka dengan ketua NDC Budi Derita 
Sinulingga dan press release yang disusun/diedit oleh Ita Apulina.

Sekali waktu, Pak Budi Derita kebakaran jenggot karena SIB menurunkan berita 
yang memberi kesan bahwa NDC dibentuk untuk menseleksi bupati Karo. Seolah-olah 
menjadi tandingan Kelompok Independen yang didirikan oleh Cuaca Bangun (yang 
dengan lantangnya mau menseleksi calon bupati Karo lewat Psikotest yang jujur 
dan terpercaya).

Bagaimana NDC bisa dikaitkan langsung dengan Pilkada Kab. Karo sedangkan di 
dalamnya ada beberapa balon bupati Karo?: Robert Sinuhaji (dewan penyantun), 
Nabari Ginting (dewan penyantun), Djadiaman Perangin-angin (dewan penyantun), 
Riemenda Jamin Ginting (dewan penyantun), Sumbul Depari (dewan pakar). 

Budi Derita sendiri sebagai Ketua NDC sudah menjelaskan kepada semua pengurus, 
anggota Dewan Penyantun, anggota Dewan Pakar dan Staf Ahli
NDC serta para wartawan bahwa dia tidak ingin menjadi calon bupati Karo. 
Sayangnya, masih ada wartawan yang menulis namanya sebagai salah seorang balon 
bupati Karo. Dan, itu sangat mengganggu konsentrasinya karena dia tidak mau NDC 
dinodai oleh kecurigaan berlatar belakang politik praktis.

Saya bukan penentang kebebasan pers, bahkan sangat mendukungnya. Makanya, saya 
termotivasi untuk menulis tulisan ini, dengan tujuan memberi warna lain dari 
apa yang diungkapkan pers yang saya anggap tidak benar. Terutama atas berita 
SIB yang saya sertakan ini, yang terlalu mudah mempermainkan kekhawatiran 
pembaca untuk membuatnya seolah-olah seperti yang sudah dikhawatirkan 
sebelumnya ("model of") padahal dirinya jauh dari fakta yang dia sampaikan. 
Apakah ini yang akan menjadi pegangan kita untuk memandang NDC ke depan ('model 
for")?

Setahu saya, belum ada wartawan SIB yang pernah hadir dalam pertemuan-pertemuan 
NDC. Sebuah berita bagus yang dimuat SIB beberapa hari lalu mengenai NDC (saya 
tidak temukan di SIB Online kecuali versi cetak) ditulis oleh Merga Ginting 
atas dasar press release yang disusun/edit oleh Ita Apulina Tarigan (Sekretaris 
eksekutif NDC).

Sebenarnya gejala seperti ini tidak aneh bagi saya. Bayangkan saja, Sanggar 
Seni Najati yang kami dirikan di Medan pun sudah menjadi bahan intipan. "Dari 
mana dana mereka?", "siapa di balik mereka?", "apa Juara mau maju sebagai calon 
wakil bupati Karo?". 

Kecurigaan ini dapat dimengerti karena Najati sudah tampil banyak sejak berdiri 
Mei 2009 lalu: 1. seminar Nasionalisme Karo (FISIP USU), 2. peresmian Lions 
Club Kab. Karo di Hotel Sibayak Berastagi, 3. Kerjatahun Desa Munte, 4. 
Kerjatahun Desa Biak Nampe. Kecurigaan ini melupakan saya sudah bertahun-tahun 
berkiprah di dunia sanggar, terutama sejak mendirikan Tartar Bintang di Belanda 
lebih 10 tahun lalu.

Apakah tingkat kehidupan/pemikiran kita hanya sebatas Pilkada? Saya pasti akan 
kecewa dan lemas sekali kalau NDC tembakannya hanya sebatas Pilkada. Bayangkan 
pula bagaima perasaan Derom Bangun (dewan penyantun) dan segudang dewan pakar 
bertitel Prof. Dr. bila sepak terjangnya NDC tak lebih dari Pilkada.

Kalau memang itu yang terjadi, bage ka nge ngenca kita, ateta ka lah. Tapi, 
saya yakin, orang-orang yang tergabung di NDC tidak semurahan penulis berita 
SIB itu.


Juara R. Ginting



Lembaga Riset dan Survei Bermunculan Menjelang Pilkada Karo 2010 * BABKI 
Terbentuk, GLGS Sudah `Action' NDC Segera Deklarasi, Bank Aron Dibahas
Posted in Marsipature Hutanabe by Redaksi on September 19th, 2009

Medan (SIB)
Sejumlah lembaga riset dan survey untuk berbagai program kerja dan bidang 
orientasi bermunculan menjelang Pilkada Karo 2010 mendatang. Namun hingga, saat 
ini, masih lembaga "Bank Aron" yang secara spesifik menyebutkan adanya peran 
langsung dalam Pilkada Karo, misalnya berupa program penghimpunan dana para 
kandidat calon kepala daerah yang akan maju dalam Pilkada periode 2010-2015, 
mulai dari Pilkada Karo, Medan, Binjai, Sergai, dll.

Lembaga riset yang muncul itu antara lain Center for Local Development Studies 
(CLGS) pimpinan Dr Drs Sumbul Depari MSc yang telah berdiri tahun lalu dan 
telah `action', Bank Aron sebagai biro distribusi dan pengelolaan dana kampanye 
para kandidat bupati Karo yang digagasi Dhany Zaman Tarigan yang saat ini masih 
dalam tahap finalisasi untuk realisasi, Forum Masyarakat Peduli Karo pimpinan 
Ir Jonathan Ikuten Tarigan yang sebelumnya terbentuk untuk penggalangan 
dukungan masyarakat Karo untuk pencalonan Caleg DPR RI Ir Nurdin Tampubolon, 
Newman Development Center (NDC) pimpinan Dr Ir Budi D Sinulingga yang akan 
dideklarasikan 8 Oktober mendatang di Hotel Emerald Garden Medan dan Balai Adat 
Budaya Karo Indonesia (BABKI) yang baru terbentuk diprakarsai Drs Sarjani 
Tarigan pekan lalu.

"Pilkada Karo kali ini agaknya diwarnai kepedulian sikap yang integralistik 
dengan terbentuknya sejumlah lembaga riset dan survey.

Warna dan latar belakangnya memang berbeda, tapi misinya tampak sama, yaitu 
menginginkan Pilkada yang berlangsung bersih dan bebas money politic dengan 
bahasa menginginkan figur pemimpin yang benar-benar dipilih rakyat dan tampil 
untuk rakyat. Kita lihat saja nanti kinerjanya, yang jelas Pilkada Karo kali 
ini tampaknya akan lebih semarak dibanding masa-masa sebelumnya," ujar Lily 
Adinda Ginting SE dari Komite SBY Medan dan Doanta Jaya Sembiring dari Partai 
Buruh kota Medan, kepada pers di Medan, Jumat (18/9) kemarin.

Mereka mengutarakan hal itu secara terpisah, menanggapi maraknya lembaga survey 
dan lembaga riset yang merupakan wujud kepedulian daerah Karo menjelang Pilkada 
2010 nanti. Mereka juga berbicara seputar kabar akan dideklarasikannya lembaga 
survey dan riset independent Newman Development Center (NDC) pada 8 Oktober 
mendatang, dan juga soal rapat lanjutan pra-deklarasi BAPKI di Jambur 
Halilintar Medan pada 27 Sept, pekan depan.

Pasca audiensi sejumlah pemrakarsa dan deklarator NDC Medan kepada Gubsu, Senin 
(14/9) lalu, terungkap bahwa lembaga NDC itu akan dideklarasikan dengan suasana 
yang lebih ramai (panitia menolak istilah besar-besaran-red). Pucuk Pimpinan 
NDC Dr Ir Budi Derita Sinulingga kepada SIB menegaskan bahwa lembaga NDC itu 
dibentuk bukan untuk melakukan penjaringan para kandidat calon kepala daerah 
(bupati) di Tanah Karo pada setiap Pilkada, tapi hanya sebatas melakukan survey 
atau riset untuk memperoleh model atau profil ideal calon pemimpin daerah Karo 
berdasarkan resume ilustratif keinginan dan kebutuhan masyarakat Karo.

Sedangkan lembaga CLGS, menurut direktur eksekutifnya Dr Drs Sumbul Depari MSc 
yang jgua salah satu kandidat calon Bupati Karo 2010-2015, menyatakan lembaga 
itu sudah bekerja untuk sosialisasi dan inventarisasi gerak pembangunan daerah, 
bukan hanya daerah Karo, melainkan daerah kabupaten lainnya, sehingga diperoleh 
salah satu sample atau model bahwa Karo ke depan harus mengutamakan pembangunan 
ekonomi berbasis pertanian atau agropolitan oriented.

Soal, BABKI, menurut penggagasnya Sarjani Tarigan yang dulunya dijuluki 
`Pendekar SMP Xaverius' di Kabanjahe, sengaja memulai kinerjanya dengan 
jaringan budaya sebagai bekal perubahan nyata bagi para calon pemimpin daerah 
Karo. Sehingga, dalam rapat pemrakarsa BABKI di Jambur Tamsaka, Sabtu (12/9) 
lalu tercetus paradigma baru budaya Karo, yaitu perubahan image ACC (Anceng 
Cian Cikurak) menjadi AKK (Ate Keleng ras Kuah), sebagaimana dicetuskan tokoh 
masyarakat Karo di Medan: Berlian Tarigan dan Prof Terkelin Tarigan.

Apresiasi masyarakat Karo terhadap sektor politik saat kian berkembang, 
khususnya menyongsong pemilihan kepala daerah (Pilkada) Karo pada 2010 
mendatang. Sehingga, sejumlah lembaga riset atau lembaga survey yang dikelola 
masyarakat, bermunculan di Medan maupun Tanah Karo sendiri," ujar Ir Sanusi 
Surbakti MBA MRE,pengusaha Karo di Medan yang sekaligus bertindak sebagai 
moderator acara BABKI tersebut.

Satu hal yang muncul dari misi lembaga itu adalah tujuan penyelenggaraan 
Pilkada yang bebas dari praktek main uang atau beli suara (money politics).

Lili mengungkapkan contoh perlunya komitmen sentral di kalangan seluruh warga 
atau insan Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) sebagai basis utama pemilih dalam 
Pilkada, baik melalui jaringan koneksi warga (horizontal) di Medan sekitarnya, 
maupun melalui jaringan instruksi (vertical) di Tanah Karo sendiri sebagai 
pusat GBKP sehingga bisa dipelopori satu gerakan Pilkada tanpa politik uang. 
(M9/q)

Kirim email ke