Adi bas batas perukurenku, perbahan SBY ragu la lit ketegasan maka turah dua macam sangkaan: SBY digunakan atau juga rela digunakan oleh si skenario besar, atau SBY sebagai sasaran si skenario besar. Skenario besar enda, enda me kekuatan global pengincer/pengisap kekayaan SDA. Cara dentum-dentuman (bom) enggo bagi sikurang lako. Seluruh nation disibukkan. Energi seluruh nation dikerahkan ke sini, dan pengerukan SDA 'lalit soal', ertina aman aman saja dan boleh terus jalan. Duit, kekayaan, duit, kekayaan . . . pengganti paradigma ideologi lama. Tak boleh ada kekuasaan yang menghalangi. Jika ada harus disingkirkan, dikacau atau dibodohi dengan segala cara, dengan bom atau dengan mengadu domba berbagai institusi penting negara. Dengan duit sudah pasti lebih mantap, semua rakus duit . . . dan duit banyak. Dari mana, dari situ juga dihasilkan. Semakin banyak duit ini digunakan (sogok), semakin banyak pula hasilnya (SDA dan segala macam korupsi). Kudeta-kudeta dalam satu negeri tidak berarti apa-apa dalam era sekarang, siapa yang memerlukan, sudah tidak ada perjuangan ideologi. Partai mana berkuasa, tidak ada bedanya, tidak ada partai yang tidak rakus duit, atau yang tidak bisa dikendalikan dengan duit. Kudeta diperlukan hanya untuk bisa membebaskan 'sumber duit' tadi. Tidak perlu kudeta kalau tanpa itupun sudah bisa jalan. Tidak ada lagi perjuangan di dunia selain perjuangan mengumpulkan duit sebesar-besarnya, dan dengan duit ini juga membinasakan (menidurkan atau mengikutkan) segala macam kekuasaan. Ibas 'Millennium Challenge' jelas pedoman kemenangan era ini hanyalah dengan duit. Era ini, siapa yang tidak bisa ditaklukkan dengan duit? Boleh dikatakan tidak ada, karena sudah tidak ada perjuangan ideologi. Dipihak rakyat, pemimpin dan intellektual yang sedar, cuma ada perjuangan untuk keadilan, gia susah kang ngidahsa. Adi erbahan strategi perjuangan ateta, enda ka nge ngenca dasarna si mendekati kebenaran. Lang ngambang saja nge. Manjar-anjar keadilan adah ndai teridah, tapi cepaten nge rusur ketidakadilan adah ndai pedasen teraloken. 'seratus tahun lagi kedepan kita harus berpura-pura bahwa fair is foul and foul is fair' nina Keynes. Gia maksudna ndai sitik lain, tapi kata-kata adah ndai muat cocokna kang bas era enda, ertina fair enda gundari duit si mengendalikan. Pikiren si la bage, itutupi ka salu duit, maka kerina enggo fair. Enda me tingkat perkembangan dunia gundari. Tentu enda pe lit kang akhirna, tapi gundari mulai denga nge kapken. Pemusatan kekuasaan dunia salu duit bas sada tangan, tangan la teridah salin kata Adam Smith, gia jenda lain ka sitik maksudna, atau gundari lanai tingkat kesedaran Adam Smith. Siteridah sada ngenca, emkap duit la banci kurang, konsentrasi maksimal duit dunia. Filsafatna: apa saja bisa dikendalikan dengan duit, maka apa saja dibuat untuk memindahkan duit ketangan tadi, dan harus membiarkan sebagian besar manusia miskin dan hidupnya tergantung sepenuhnya terus-menerus. Tapi semua ada permulaan dan akhir, perjuangan dan bentuknya dalam perkembangan dan terus berkembang. Tingkat 'bom' atau 'teroris' sudah berlalu. Enda ka sitik tambahenku MUG
--- In [email protected], Hendra Kaban <hen...@...> wrote: feeling otak skenario besar itu Mejuah-juah permilis sirulo Sedikit coba mengeluarkan unek-unek teman, pertama sekali saya ingin menekankan bahwa ini sekedar feeling tapi mencoba mencari tahu jadi jujur ini hanya sekedar wacana yang belum jelas.. skenario yang terjadi sekarang ini tentang perselisihan KPK dan POLRI serta Kejaksaan karena secara ilmu komunikasi jika sudah diklarifikasi secara Fair kita tidak lagi seharusnya menggunakan kata- kata .....vs.... sesuai dengan perkembangan terakhir saya ingin mencoba brainstorm bersama teman-teman karena perkembangan perselisihan itu saat ini sudah mulai terpola dengan baik, jika kita melihatnya menurut logika sederhana apabila sesuatu hal telah terpola dengan baik sudah pasti ada yang mengaturnya.. skenario pertama ada pihak-pihak yang menginginkan ini menjadi people power dan menyebabkan chaos sehingga pemerintahan yang sekarang tergulingkan, disebabkan karena keinginan pribadi SBY membongkar habis korupsi-korupsi yang terjadi selama dekade pemerintahan hingga mungkin sampai orde baru..sehingga banyak sekali yang mulai gerah dan tidak nyaman dengan keadaan ini, parameternya pertama adalah semua yang menyangkut tindakan korupsi adalah berlaku surut,jadi ertampuk maka ngadi..bagem ia cakap karona..parameter kedua adalah tidak tuntasnya uu tipikor disebabkan oleh mayoritas partai di parlemen yang memang tidak berkehendak untuk menyelesaikannya..parameter ketiga adalah pernyataan SBY yang berkehendak memberantas korupsi sebagai agenda utama (entah cakap ngenca aku pe lenga bo teksa nake - adi arah juhar ah lit nina ersora "adi cakap ngenca labo lako pal"). saya mencoba melihat dari sisi yang lain, apakah dengan kekisruhan ini nantinya SBY akan berani mengambil inisiatif dan mengeluarkan perintah langsung agar semua elemen masyarakat tidak lagi bersuara dengan kekuatan militernya? kog saya ga yakin ya karena keterbukaan sekarang ini serta semakin meleknya masyarakat dengan keadaan dan juga ketidak berpihakannya beberapa media tentu akan sangat sulit untuk melakukannya... uga akap kena nake sampati sitik gelah lit ia ertambah-tambah pemeteh sila dengan erpurding enda.. salam hangat Hendra Gunawan Kaban 0813 7615 0225 - 0819 3321 3262 - 061 7751 3500 email : hen...@... LALUME PRODUCTION jl.setia budi no.476 A tanjung sari - medan 20132 ph. +6162 - 8218433 fax.+6162 - 8222505 www.lalume.co.id MEMBER OF FORUM EO MEDAN --- On Thu, 11/12/09, Anthony Malem Ukur <gurukina...@...> wrote: From: Anthony Malem Ukur <gurukina...@...> Subject: Re: [tanahkaro] siapa otak skenario besar itu To: [email protected] Date: Thursday, November 12, 2009, 5:24 PM dan ujung ujungnya adalah penggulingan pemerintahan yg sah......serta di ganti dengan presiden mereka..... dan akhirnya konspirasi mereka membebaskan mereka melakukan kosupsi besar besaran lagi......tanpa ada yg bisa menghalangi. ...... WAIT N SEE however....maukan kita kembali hancur yg kedua kalinya ? --- On Thu, 11/12/09, MU Ginting <gintin...@yahoo. se> wrote: From: MU Ginting <gintin...@yahoo. se> Subject: [tanahkaro] siapa otak skenario besar itu To: tanahk...@yahoogrou ps.com, forumk...@yahoogrou ps.com, komunitaskaro@ yahoogroups. com Date: Thursday, November 12, 2009, 1:17 PM Kamis, 12/11/2009 12:36 WIB Skenario Pelemahan KPK Sofyan Effendi: Kuncinya di Tangan Presiden Indra Subagja â" detikNews Jakarta - Perseteruan KPK dan Polri masih memanas. Tim Pencari Fakta Kasus Bibit dan Chandra (Tim 8) bahkan menduga ada skenario besar untuk melemahkan KPK. Presiden SBY dinilai memegang kunci untuk mengungkap skenario ini. "Sebenarnya, berlarutnya- larutnya isu KPK Vs Polri, ada di presiden. Jadi kuncinya di tangan presiden," jelas mantan Rektor UGM Sofyan Effendi melalui telepon, Kamis (12/11/2009) . Sofyan menerangkan, institusi Polri dan Kejagung ada di bawah presiden. Bila presiden berkehendak, untuk menyelesaikan persoalan, sesuai dengan rekomendasi Tim 8, SBY bisa memberikan arahan kepada polri dan kejagung untuk menghentikan kasus pimpinan KPK. "Itu bukan intervensi, Polri dan Kejagung itu masih di bawah presiden, artinya masuk eksekutif. Kalau kasus sudah di pengadilan, baru tidak bisa diintervensi, karena sudah masuk ranah yudikatif," jelasnya. Langkah ini harus dilakukan secepat mungkin, bila tidak ini akan berlarut-larut, dan justru membuat citra pemerintahan SBY terganggu. "Publik akan melihat presiden tidak bisa tanggap mengatasi persoalan ini," jelasnya. Ketua Tim 8 Andan Buyung Nasution, Rabu (11/12/2009) kemarin menduga ada skenario besar untuk melemahkan KPK. Skenario ini mirip operasi khusus pada zaman Soeharto. Buyung pun mempertanyakan siapa otak dari skenario besar itu. (ndr/iy)
