--- In [email protected], "cpatriawgmail" <cpatr...@...> wrote: > Semakin di-halus-ken bahasanya , semakin tinggi "rasa dan derajatnya". Tapi > intinya sama saja : "jangan macam-macam kau"
Hahahaha ...... Itu bahasa Medan yang kam bikin itu, bere Tigan. Cuman Bu Ani yang 'ngertos' Cakap Medan. Hahahaha .... pas kali kurasa cakap Medanndu, pun. Kalau SBY memang tukang meng-halus-ken. Suharto tukang di-tekan-ken. Kalo anak Padangbulan katanya: "Kuterih ko kari!" Jadi teringat aku Satur Titirante kam bikin, impal. Gini ceritanya. Ada 2 orang main catur di kede kopi Titirante, katakanlah Si A dan Si B. Suatu ketika, Si A melangkahkan bidaknya sambil berkata: "Skak!" Si B heran, karena dia bisa saja memakan bidak itu tanpa ada bahaya apa-apa untuknya. Si B berkata: "Kai tudungna skakndu e?" (Apa yang mengawal bidakmu sehingga kamu berani menskakkan aku?" Si A: "Apa kau belum melihat pengawalnya?" Si B: "Oh, iya. Ada rupanya pengawalnya. Silap." Maka Si A menang. Hanya bocah-bocah kecil yang bermain di bawah kolong meja mengerti apa yang terjadi. Rupanya Si A menghunus piso tumbuk lada dan melekatkannya ke perut Si B dari bawah kolong meja. Tak heran bila Si B berkata setelah itu: "Mbergeh kawalna." Makanya, jangan macam-macam. Hahahahaha .... Jadi teringat aku seorang kawan lama yang taunya cuman satu macam. Padahal jaman sekarang orang sudah banyak macam ragamnya. Dia bilang pula, mau menerapkan hanya 1 gaya tulisan, dan itu adalah gayanya sendiri maksudnya. Loreta
