Agak aneh memang kulihat presiden SBY ini sewaktu pidato itu. Dia adalah 
seorang presiden. Tapi, dalam pidatonya, dominan menempatkan diri sebagai 
pengamat...

Selamat mengamati pak SBY

MJS





--- On Mon, 11/23/09, gintingmu <[email protected]> wrote:

From: gintingmu <[email protected]>
Subject: [tanahkaro] Re: yang betul pak, disharmoni atau mafia
To: [email protected]
Date: Monday, November 23, 2009, 6:08 AM







 



  


    
      
      
      "jangan macam-macam kau", orang Medan hahaha . . . 

Bagi SBY memang cocok ini, apalagi kalau taunya cuma satu macam.

Tapi kalau disharmoni dan mafia dibikin satu macam, wah, wah . .  kan sangat 
berbahaya. Diaharmoni masih ada harapan jadi harmoni.

Mafia bagaimana bisa bikin harmoni? Dengan siapa?

Bujur

MUG



--- In tanahk...@yahoogrou ps.com, "cpatriawgmail" <cpatr...@.. .> wrote:

Re: yang betul pak, disharmoni atau mafia 



peace , harmony , tranquility and order ; dalam terminologi jawa kuno menjadi

"tata tentram rahardja" di dalam konsep pemerintahan "manunggaling kawula

gusti". Bersatunya kawula (rakyat) dan raja :)



maksudnya: semua yang dibawah raja harus patuh (harmoni) dan tunduk loyal 100%.



Semakin di-halus-ken bahasanya , semakin tinggi "rasa dan derajatnya". Tapi

intinya sama saja : "jangan macam-macam kau"



bujur,



Carlos





    
     

    
    


 



  






      

Kirim email ke