RENUNGAN MINGGU 49
 
Mejuah-juah permilis simehamat kerina
 
Ideologi, senjata dan duit dalam perkembangan politik dunia.
 
Pada era lalu, kontradiksi pokok dunia antara blok Barat dan blok Timur, atau 
bisa juga dikatakan sebagai pencerminan pertempuran ideologi 
(sosialisme-komunisme kontra kapitalisme) dimana terlihat peranan ideologi 
lebih penting dibandingkan dengan peranan duit. Atau dengan perkataan lain, 
duit selalu diabdikan untuk kepentingan ideologi. Demikian juga senjata, tunduk 
kepada kepentingan utama tadi (ideologi). Setelah keruntuhan blok Timur, maka 
"tidak ada lagi perjuangan ideologi" kata sebagian pemerhati sosial orang 
barat. Perumusan ini tidak tepat, karena bukan tidak ada perjuangan ideologi 
tetapi dominasi segi-segi bertentangan kontradiksi semula sudah berubah. Satu 
diantara ideologi yang bertentangan tadi masih terus dan berdominasi yaitu 
ideologi kapitalisme atau dalam tingkat perkembangan sekarang sering juga 
disebutkan neoliberalisme atau lebih extreem "disaster capitalism" (Naomi 
Klein), pada dasarnya diwakili oleh penguasa finans global. Yang
 sangat menonjol kita lihat sekarang dan yang tak mungkin pada era lalu ialah 
peranan duit yang sangat luar biasa dan dalam jumlah yang luar biasa pula. Duit 
sebagai senjata sudah merupakan tanda zaman ini, dan sekali lagi saya 
tandaslkan dalam jumlah yang tak terbatas. Duit dunia sangat banyak, tetapi 
terkonsentrasi ditangan segelintir, karena itu sangat banyak. Duit digunakan 
sebagai modal untuk mendapatkan duit-imbalan dalam jumlah tak terbatas. 
Barangkali inilah perumusan yang lebih dekat dari "disaster capitalism". Duit 
dipakai untuk menguasai sumber-sumber penting SDA negeri berkembang. Duit juga 
dipakai untuk menempatkan orang-orang tertentu disatu pemerintahan negeri lain, 
dalam rangka memaksakan peraturan-peraturan ekonomi/finans internasional, 
melegalisasi perampokan SDAnya, atau untuk mengacau negeri itu. Dulu pada masa 
era dua blok, penempatan ini masih sembunyi-sembunyi (baca EHM John Perkins). 
Sekarang orang-orang finans global (IMF) hampir
 berterus terang saja menempatkan orang-orangnya di pemerintahan SBY seperti 
Sri Mulyani atau Boediono, dan SBY karena satu atau lain sebab terpaksa 
mendudukkan orang-orang ini ditempat-tempat strategis yang telah dipilih sejak 
awal (walaupun setelah bailoutnya mungkin SBY harus menukarnya, bailout dalam 
jumlah tak terbatas pula). Bahwa peranan duit sudah merupakan faktor menentukan 
dalam menghadapi zaman ini, sesuai juga dengan kesimpulan "millenium challenge" 
buatan pentagon, dimana duit dan hanya duitlah yang bisa memastikan kemenangan, 
tidak ada senjata atau taktik dan strategi apapun yang lain. Karena itu harus 
mengumpulkan duit dalam jumlah tak terbatas. Dalam rangka itu kalau ada yang 
tidak menyerah dengan duit 100 M, dicoba dengan 1 T, atau 2 T dst sampai 
takluk, duit tak terbatas. Ini  dipraktekkan dan diuji dalam "millenium 
challenge", dan juga di negeri kita dengan tradisinya yang sudah sesuai dan 
terkenal pula yaitu korupsi atau main sogok
 sudah membudaya.  
Walaupun tradisi ini sudah membudaya, tetapi bukanlah berarti bahwa semua sudah 
menerima dan semua berjalan adil. Sebaliknya makin tinggi praktek ini semakin 
terlihat jelas ketidakadilan dalam setiap kejadian, ketidakadilan terhadap 
rakyat banyak terutama lewat negara atau pejabat negara. Contoh yang masih 
segar bailout Mulyani-Boediono yang bahkan dipersiapkan dengan Perpunya lebih 
dahulu. Bagi rakyat banyak tinggal hanya harapan, atau seterusnya jadi 
perjuangan yang sangat berat walaupun hanya untuk mendapatkan sekelumit 
keadilan. Salah satu contoh tipikal seperti yang dibikin oleh pejuang besar 
keadilan Suli Ginting (alm.) menentang ketidakadilan yang semakin merajalela, 
tak terkecuali di Karo. Karena itu juga kontradiksi pokok dunia sekarang ialah 
perjuangan untuk keadilan, karena ketidakadilan ini melanda rakyat seluruh 
dunia terutama terlihat dengan jelas atas rakyat negeri berkembang, 
terlebih-lebih yang kaya SDA-nya dengan pemimpin-pemimpinnya
 yang gampang dimanipulasi dan dikutak-katikkan oleh penguasa finans global, 
karena tak kuat berhadapan dengan senjata duit tak terbatas atau juga sebagian 
bisa juga karena kejujuran yang tak berprinsip dari sejumlah pemimpin tadi. 
Senjata duit tak terbatas ini hanya segelintir yang memiliki, tetapi keampuhan 
senjata duit masih belum ada yang bisa menandingi. Dan era duit sebagai senjata 
ini baru saja dimulai, jadi susah untuk membayangkan kapan surutnya. Bahkan 
masa transisinya saja belum terlihat. Transisi maksud saya ialah kalau nanti 
sudah ada tanda-tanda perubahan. Belum ada pertanda antites yang berarti. 
Tapi salah satu yang pasti bisa dibayangkan ialah kalau SDA negeri berkembang 
sudah habis, dan pemerasan tenaga kerja murah sudah tak mungkin, duit tak 
terbatas sebagai senjata juga sudah tak mungkin lagi. Situasi ini bisa 
dipercepat dengan perlawanan rakyat dunia, dengan catatan pula bahwa perlawanan 
itu ditempat-tempat strategis tertentu masih bisa dimatikan dengan mudah oleh 
senjata tadi. Tetapi proses perubahan imbangan kekuatan dalam kontradiksi itu 
terus saja tak henti-hentinya dan semakin cepat dan semakin keras pada 
fase-fase ketika akan mencapai puncak kontradiksi. 
Di milis pernah juga saya tulis bahwa senjata duit ini hanya bisa dilawan 
dengan senjata ideologi, dan ini terlihat jelas dan terbukti di era lalu dimana 
kontradiksi pokok dunia masih mengikutkan atau berbasiskan perjuangan atau 
perbedaan ideologi. Tetapi apakah kita harus kembali lagi ke kontradiksi era 
lalu untuk melawan ketidakadilan sekarang ini? 
Perubahan dan perkembangan politik dunia . . . . hanya lewat kontradiksi, 
artinya melalui perjuangan antara segi-seginya yang bertentangan. Dan 
kontradiksinya adalah yang nyata sekarang dalam masyarakat, bukan yang lalu.
Dalam solusi bailout Mulyani-Boediono (bank Century) walaupun dengan hak 
angket, tetap saja panggang masih sangat jauh dari api, senjata utama tadi 
belum ada tandingannya dan masih akan terus dipakai, terutama lagi kalau ini 
hanya dimengerti oleh salah satu pihak dari segi bertentangan, artinya hanya 
dari pihak bailout, dan dengan catatan yang juga masih tetap punya syarat yaitu 
senjata utama tadi, secara nasional maupun internasional. Terutama secara 
internasional, karena sistem politik Indonesia tidak diragukan termasuk salah 
satu target yang terpenting dalam percaturan politik dunia. Karena itu, api 
transparansi atau keterbukaan, sangat gampang dimatikan, pemadam kebakaran bisa 
dan selalu akan datang dari luar karena pemadam kebakaran nasional tidak akan 
mungkin atau tidak terlalu berkepentingan amat untuk memadamkan sendiri api 
transparansi. 
Tetapi tanpa keterbukaan tidak mungkin ada penyelesaian yang serius. Tidak tahu 
kalau Indonesia sudah bisa jadi kekecualian. Mudah-mudahan, artinya bukan tak 
mungkin, karena perubahan imbangan kekuatan segi-segi bertentangan dalam 
kontradiksi sosial/masyarakat dalam sejarah bisa saja secara drastis tiba-tiba 
muncul. 
Salah satu "kekecualian sejarah" yang juga mungkin ialah membuat pansus angket 
dari pihak oposisi saja, tak urusan apakah pihak pemerintah atau pihak bailout 
mau ikut atau tidak, atau mereka mau bikin pansus angket sendiri. Disini 
menggunakan hukum transparansi kontradiksi, dpl semakin jelas 
perbedaan/pertentangan semakin jelas pula persoalan, dan terbuka dihadapan 
umum, dan nanti umum (rakyat) akan bikin penilaian menentukan, syntes. Kalau 
kekecualian sejarah ini tidak ada, maka harus 'sabar' menantikan perkembangan 
'normal' sejarah seperti saya jelaskan diatas, dan saya kira inilah yang akan 
terjadi. 
Dulu kita pernah baca di Kompas "revolusi dimulai dari Minang", dalam hubungan 
pemberantasan korupsi dipelopori beberapa anggota DPRD dan juga bupati Solok 
Gamawan Fauzi. Sekarang kita sudah melihat sendiri, semuanya ternyata 
menjadi  'normal' lagi, para koruptor engkang-engkang bebas saja, termasuk 
kepergian Fauzi ke Jakarta pasti banyak terbantu oleh popularitasnya yang 
'normal' tadi jadi Mendagri. Di Jakarta dia sangat sibuk dan gigih 
mengkumandangkan moratorium pemekaran daerah setelah dia mekarkan sendiri Solok 
dan pemekaran Sumbar sudah cukup. Sekarang dia lebih menyukai angkat telor 
daripada mendukung pemekaran daerah-daerah lain yang belum sempat mekar seperti 
daerahnya, Solok dan Sumbar. 
Kalau saya hubungkan disini dengan kekecualian sejarah yang berlawanan dengan 
arus normal tingkatan perkembangan sejarah dunia sekarang dimana 'duit sebagai 
senjata', dengan mengatakan "revolusi dimulai dari Indonesia", maka analoginya 
sama dengan "revolusi dimulai dari Minang". Kekecualian sejarah tadi masih 
jauh. Tetapi sekali lagi, bukan tak mungkin, seperti misal tadi, kalau 
partai-partai oposisi di DPR berani bikin pansus angket sendiri  dengan 
dukungan hati nurani 90% rakyat Indonesia. Percobaan sejarah . . .  yang 
membutuhkan pimpinan berhati baja dan berkepala baja, atau bisa juga orang 
setengah sinting tapi licik seperti Hitler. Orang-orang begini bikin perubahan 
diluar hukum-hukum kenormalan. 
Enda ka lebe sitik renungan 
Selamat week end
MUG
 
*   *   *


      __________________________________________________________
Ta semester! - sök efter resor hos Kelkoo.
Jämför pris på flygbiljetter och hotellrum här:
http://www.kelkoo.se/c-169901-resor-biljetter.html?partnerId=96914052

Kirim email ke