penilaian dan rekomendasi yang sangat kenna sasaran. 
SBY tak perlu tuduh LPI 'makar' atau 'fitnah' tapi cukup 
dengan berpikir dan bertindak, disamping perlu juga mengurangi 
peranan tukang-tukang gembos dan tukang kepul didalam barisan PD.
MUG

--- In [email protected], kontan tarigan <kontan_tari...@...> wrote:
Minggu, 27 Desember 2009 | 22:03 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com - Berdasarkan hasil kajiannya, Lembaga Pemilih Indonesia 
(LPI) melansir rapor pemerintahan SBY-Boediono tahun 2009. Meski pemerintah 
baru berjalan dua bulan, LPI memastikan program 100 hari telah gagal. 

"Kami merekomendasikan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk 
me-reshuffle sepuluh dari 34 menteri," kata Direktur LPI yang juga pengamat 
politik UI Boni Hargens di kediaman mantan Menko Perekonomian Rizal Ramli, 
Jakarta, Minggu (27/12/2009).

Sepuluh menteri tersebut, yakni Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Radjasa, 
Menteri Hukum dan HAM Patrialis Akbar, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, 
Menteri Perdagangan Marie Elka Pangestu, dan Menteri Perhubungan Freddy 
Numberi. Lalu, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Muhaimin Iskandar, Menteri 
Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih Menteri Komunikasi dan Informasi Tifatul 
Sembiring, Menteri Riset dan Teknologi Suharna Surapranata, dan Menteri Negara 
Pemberdayaan Aparatur Negara EE Mangindaan.

Kesepuluh menteri itu, mendapat skor dalam rentang 5,5 sampai 5,95. Kritikan 
paling tajam ditujukan untuk Tifatul dan Patrialis. "Mereka berapor merah," 
tegas dia sembari merinci satu persatu hasil kajian LPI.

Tifatul, dalam kajian LPI mendapat skor 5,5. Kontroversi RPP Penyadapan, 
menjadi faktor utama jebloknya nilai dia. "Menkominfo tidak punya kewenangan 
mengesahkan RPP ini sebagai payung hukum bagi (penyadapan) KPK. Kalau 
dipaksakan, ini memperlihatkan kompetensinya diragukan, ujarnya.

Sementara Patrialis, terperangkap pernyataannya dalam perkara cicak versus 
buaya. Meski demikian, skor Patrialis masih lebih bagus daripada Tifatul. Yaitu 
5,8. "Dia kecolongan tidak paham logika negara hukum dalam kasus cicak buaya," 
ujar Boni.

Kepada sejumlah menteri lainnya yang mendapat skor di bawah 6, LPI memberikan 
banyak catatan dari kajian yang dilakukan menggunakan variabel kepemimpinan, 
kapasitas pemetaan masalah, dan program strategis ini. Hasil kajian ini juga 
berdasarkan metodologi, di mana varibel yang ada diolah melalui focused group 
discusion (FGD).

Hatta Radjasa mendapat skor 5,91 karena dianggap tidak fokus mengurus ekonomi. 
Hatta justru terlalu agresif membela Boediona dalam skandal Bank Century. Salah 
satunya dengan membuat pernyataan bahwa Boediono dan Sri Mulyani akan tetap 
menjabat hingga 2014.

Sri Mulyani mendapat skor 5,5 karena dinilai sama sekali tak bisa lagi bekerja 
seiring mencuatnya skandal Bank Century. Sementara Marie Elka Pangestu dinilai 
terlalu mengikuti arus pasar global semata dan tak memiliki pendirian tentang 
ekonomi nasional. Karenanya Marie mendapat skor 5,7.

Selama Freddy Numberi menjadi menteri perhubungan, LPI menilai belum ada satu 
pun kebijakan strategis di bidang itu yang sudah lahir. Skor Freddy adalah 5,9. 
Muhaimin mendapat skor tertinggi untuk penilaian di bawah 6, dengan skor 5,95. 
Tapi, Muhaimin dianggap tidak berhasil membuat perbaikan mengenai standardisasi 
TKI dan keamanan TKI di luar negeri.

Adapun Menteri Kesehatan perlu diganti, karena Menkes Endang tidak menyikapi 
kasus buruknya layanan rumah sakit dalam perkara Prita. Hal ini ditambah rekam 
jejaknya yang buruk terkait dugaan penjualan spesimen virus flu burung, dalam 
masa kementerian sebelumnya. Skor Endang adalah 5,9. 

Menteri Riset dan Teknologi Suharna Surapranata mendapat skor 5,9, karena 
dianggap tidak memiliki program strategis untuk kementeriannya. Demikain juga 
EE Mangindaan yang mendapat skor 5,73, karena belum adanya hasil atas reformasi 
birokrasi.

Dari 34 menteri, hanya Menteri Agama Suryadharma Ali dan Menteri Negara Urusan 
Koperasi dan UKM Syarifudin Hasan yang mendapat skor 7,1. Itu pun bukan karena 
mereka bagus, tetapi karena tidak ada pelanggaran mencolok yang ditemukan dari 
keduanya. Bahkan, Suryadharma masih mendapat catatan soal kekerasan horisontal 
yang memperlihatkan rendahnya toleransi umat beragama di lapangan.

Secara umum, menjelang seratus hari masa jabatan kabinet ini, rata-rata skor 
kabinet ini hanyalah 6,25. Mayoritas menteri tidak bekerja optimal. "Bisa 
dipastikan program seratus hari Pemerintah gagal. Tak usah menunggu seratus 
hari (untuk tahu)," kata Boni.

Ia menambahkan, dalam 100 hari kerja ini, Presiden Yudhoyono menghabiskan 
terlalu banyak energi untuk memulihkan dan menjaga popularitasnya terkait 
skandal Bank Century. Pengamat politik UI ini menilai evaluasi internal kabinet 
pun tak berjalan optimal. Wakil Presiden pun, sibuk menyelamatkan dirinya dari 
skandal Bank Century. "Kabinet terlalu disibukkan dengan isu makar dan 
sebagainya," tandasnya.

LPI menyarankan Presiden segera kembali fokus pada koordinasi kabinet. Salah 
satunya dengan memecat menteri-menterinya yang tidak kompeten. Sebaiknya 
Presiden mengganti Wakil Presidennya. "Mau dipertahankan dan mengganggu kinerja 
(Pemerintahan) atau diikhlaskan saja?" kata dia.

LPI menegaskan, Evaluasi semacam ini bukanlah bermaksud menjatuhkan sebuha 
rezim politik, sehingga disebut sebgai manifestasi makar atau apapun namanya. 
"Yang diharapkan adalah adanya perubahan kinerja pemerintah setelah menyadari 
bahwa sebagian masyarakat masih melihat kinerja pemerintah tidak berhasil 
sesuai yang diharapkan," ujarnya.

Ia menambahkan, tujuan utama dari rapor ini adalah sebagai koreksi moral 
terhadap pemerintahan SBY-Boediono. "Pertanyaan utama kita dalam evaluasi ini 
adalah akankah program 100 hari pemeirntah berhasil? Apakah akan mengakhiri 
tahun 2009 ini dengan peluang prestasi yang bagus atau hanyalah kerja melukis 
lahit," katanya. (Persda Network/COZ)

 



Kirim email ke