Untuk kasus plagiat skripsi yang sudah menjadi rahasia umum..... Saya mengusulkan, agar setiap proses pembuatan skripsi dibuat secara online dan bersifat publik sehingga pihak ketiga dapat mengaksesnya. Dengan sistem ini akan muncul sifat kontrol pada dirinya. Selama ini skripsi dibuat dan disimpan dengan rapi di dalam perpustakaan sehingga sangat kecil kemungkinan untuk pihak ketiga menilai apakah skripsi tersebut original atau hasil plagiat. Dan dosen yang memberikan kelulusan kepada seorang mahasiswa yang melakukan plagiat akan merasa aman karena kecil kemungkinan pihak ketiga akan membuktikan bahwa sebuah skripsi adalah hasil plagiat. Pihak yang dirugikan dalam hal ini pemilik skripsi/tulisan asli akan sulit mengetahui bila tulisannya telah digunakan oleh orang lain.
Bila sebuah skripi telah online maka pihak manapun akan dapat mengaksesnya dan dapat menilainya. Pihak yang merasa dirugikan dapat menuntut pihak yang telah mengkopi karyanya. Bukan tidak mungkin seseorang yang telah menyandang gelar sarjana harus dibatalkan kesarjanaannya karena ternyata skripsinya diketahui merupakan hasil plagiat sepuluh tahun kemudian. Dan dosen yang membingbing skripsi tersebut dan meluluskannya tentu juga akan mendapat point negatif. Selanjutnya univeristas di mana si mahasiswa kuliah juga akan mendapat nilai buruk. Inilah yang saya maksud dengan sistem kontrol pada dirinya sendiri. Tidak akan ada lagi dosen yang berani meluluskan mahasiswa bila ia tidak yakin benar bahwa skripsi tersebut hasil karyanya sendiri. Dengan demikian dosen tidak semata-mata menilai sebuah skripsi tetapi turut menyelidiki apakah skripsi tersebut hasil karya atau plagiat karya setiap skripsi yang ia tanggani sekaligus akan menyangkut kredibilitasnya sebagai dosen. salam advent tambun ________________________________ From: gintingmu <[email protected]> To: [email protected] Sent: Tue, February 23, 2010 6:55:11 PM Subject: [tanahkaro] Re: [komunitaskaro] bisnis skripsi (Serupa tetapi tidak sama) Kenyataan dunia memang sudah demikian, uang bisa mengubah sesuatu jadi kebalikannya, seperti kebodohan jadi kepintaran, kecurangan jadi kejujuran, tak hormat jadi kehormatan, teguh jadi tak teguh atau 'berkelamin jelas'jadi tak berkelamin dsb. Terlihat jelas juga dalam perkembangan Pansus Century, masih terus berubah dalam proses kesimpulan. Tak lain yang bisa mengubahnya ialah iming-iming (duit atau power). Terasa semakin jelas dan nyata dalam era 'duit tak terbatas' sekarang ini. Bujur MUG --- In tanahk...@yahoogrou ps.com, kontan tarigan <kontan_tarigan@ ...> wrote: Re: [komunitaskaro] bisnis skripsi (Serupa tetapi tidak sama) Selasa, 23/02/2010 13:02 WIB Cerita Miring Dokter Indonesia di Time Nurul Ulfah - detikHealth Jakarta, Orang Indonesia tentunya sudah hapal sistem kesehatan di Indonesia yang masih jauh dari maksimal. Tapi kalau cerita miring soal kredibitas dokter Indonesia sampai diulas secara internasional tentunya harus menjadi perhatian khusus. Situs majalah Time edisi 17 Februari 2010 memaparkan sebuah esai panjang tentang bagaimana memprihatinkannya kondisi pelayanan kesehatan di Indonesia. Tulisan tersebut ditulis wartawan Jason Tedjasukmana, yang menjadi koresponden untuk Time Asia. Intinya si jurnalis ingin menceritakan minusnya pelayanan kesehatan di Indonesia. Berkaca dari pengalaman pribadinya yang menderita sakit mata. Di saat tak ada satu dokter Indonesia pun yang bisa mendiagnosis penyakitnya, dokter Amerika bisa mengetahuinya hanya dalam 5 menit. Seperti dikutip dari Time, Selasa (23/2/2010), Jason menceritakan kisahnya. Saya tidak pernah menduga akan menceritakan sistem kesehatan di Indonesia yang buruk. Meski saya merasa ragu dengan prosedur kesehatan di negara yang sudah saya tempati sejak tahun 1994 ini, tapi saya cukup percaya dengan dokter-dokter lokal di Indonesia. Tapi ternyata saya salah. Pada April 2009, mata kanan saya mulai gatal dan memerah. Penglihatan saya mulai kabur tapi saya tidak tahu apa yang terjadi dengan mata saya. Akhirnya saya menemui dokter dan disarankan untuk menemui spesialis karena masalahnya diperkirakan ada pada kornea. Saya pun mengikuti sarannya, tapi setelah berkeliling dan menemui banyak dokter spesialis mata di Jakarta, keadaan mata saya justru semakin memburuk. Seminggu kemudian, saya memutuskan untuk meninggalkan Indonesia dan mencari pengobatan di luar, tapi ternyata sudah terlambat. Kondisi kornea saya sudah terlanjur rusak. Dokter di Singapura tempat saya berkunjung dan juga hampir kebanyakan orang Indonesia yang ingin berobat menyarankan agar dilakukan transplantasi kornea jika teknik lainnya gagal. Akhirnya saya memutuskan pergi ke Amerika untuk mencari jalan lain. Menurut saya, sistem pelayanan kesehatan di Indonesia jauh dari memadai. Hal tersebut diakui pula oleh mantan ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Dr Kartono Mohammad. "Kita tidak punya sistem kesehatan. Tidak ada kontrol terhadap kualitas pelayanan kesehatan di Indoensia," ujar Dr Kartono. Untuk tahun 2010, menteri kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih telah mengalokasikan dana sebesar 2,2 miliar dolar AS atau Rp 22 triliun untuk anggaran kesehatan, tapi angka itu dianggap masih kurang dan seharusnya sebesar 110 miliar miliar dolar (Rp 110 triliun). "Tentu saja itu masih belum cukup, tapi sistem pelayanan kesehatan sudah termasuk di dalamnya," tutur Endang. Tentu saja tidak mengejutkan jika ratusan warga Indonesia meninggal tiap tahunnya akibat tuberculosis, malaria, demam berdarah dan penyakit lainnya. Tapi yang membuat saya bingung adalah bagaimana sebuah penyakit mata yang saya alami tidak terdiagnosa oleh satu pun dokter, padahal penyakit itu bisa memicu kebutaan. Saya terpaksa pergi ke Amerika karena enam dokter di Indonesia sudah tidak bisa menjelaskan penyakit tersebut. Berbeda dengan dokter Indonesia, seorang dokter di Michigan langsung bisa mendiagnosis masalah dalam 5 menit. "Anda terkena penyakit vernal conjunctivitis. Jika dokter di sana melihat dan memeriksa bagian di bawah kelopak mata Anda, penyakit ini sebenarnya bisa langsung ketahuan," ujar dokter Michigan yang memeriksa Jason. Menurut Jason, sebenarnya para dokter di Indonesia sudah memeriksa bagian tersebut. Tapi tidak ada satu dokter pun yang menyadarinya dan melewatkannya begitu saja. Dokter di Jakarta hanya memberi steroid untuk mengurangi pembengkakan padahal setelah diperiksa di Amerika, pemakaian steroid justru akan memperparah keadaan. Dokter di Jakarta juga melakukan pembersihan mata dengan cara mengurangi lapisan mata. Harapannya yaitu agar tumbuh lapisan baru di atas lapisan kornea yang rusak. Namun sakit yang dirasakan seperti ada keramik atau kaca yang ditusuk ke dalam mata saya. Sebenarnya saya ingin menggugat dokter tersebut tapi Dr Kartono dan pakar kesehatan lainnya mengatakan bahwa kemungkinan memenangkan kasus malpraktik di Indonesia sangatlah kecil bahkan penggugat bisa jadi harus membayar kerugian yang lebih besar. Setelah 9 bulan mengeluarkan ribuan dolar dan menjalani prosedur pengobatan di Amerika, 50 persen penglihatan saya sudah kembali normal. Meski saya masih merasa pusing dan tidak nyaman dengan ketidakseimbangan penglihatan kiri dan kanan, tapi saya optimistis mata saya akan kembali normal. Saya sangat beruntung karena bisa mencari pengobatan di luar, tapi bagaimana dengan mereka yang tidak mampu dan tidak tahu harus berobat kemana? Semakin saya bertanya pada dokter-dokter di Jakarta, semakin banyak kekhawatiran dan cerita horor yang timbul. Kasus Prita Mulyasari yang berani mengkritik sistem pelayanan kesehatan di rumah sakit adalah satu contoh bahwa ada yang salah dengan sistem kesehatan di Indonesia. Saya tidak tahu apa yang akan saya lakukan setelah ini, tapi saya menyarankan agar Prita punya keberanian untuk menantang sistem yang sudah banyak mengorbankan orang banyak. (fah/ir) --- On Tue, 2/23/10, MU Ginting <gintin...@. ..> wrote: From: MU Ginting <gintin...@. ..> Subject: [komunitaskaro] bisnis skripsi To: tanahk...@yahoogrou ps.com, forumk...@yahoogrou ps.com, komunitaskaro@ yahoogroups. com Date: Tuesday, February 23, 2010, 1:15 AM Selasa, 23/02/2010 12:29 WIB Bisnis Pembuatan Skripsi di Bandung Pemesan Cukup Kasih Judul, Dalam 2 Minggu Beres Pradipta Nugrahanto â€" detikBandung Bandung - Normalnya, pengerjaan skripsi pastilah memakan waktu berbulan-bulan, bahkan setahun lebih. Namun para penyedia jasa pembuatan skripsi di Bandung mampu membuat satu skripsi dalam 2 minggu. Tentu saja singkatnya waktu pengerjaan ini menjadi salah satu daya tarik yang ditawarkan ke konsumen. Seperti dituturkan Tono (nama samaran-red) yang biasa menerima orderan pembuatan skripsi. "Tergantung materi yang ingin dibahas si mahasiswa. Kalau gampang 2 minggu pun jadi," ujarnya saat bincang-bincang dengan detikbandung. Dalam 2 minggu itu, Tono melakukan pengumpulan data dari banyak sumber. "Mahasiswanya kan hanya kasih judul saja. Selanjutnya diserahkan sama saya," ujarnya. Setelah mendapat pesanan, Tono berburu data sana-sini. Tak sebatas dari internet, Tono memburu skripsi-skripsi lawas dari mahasiswa di kota lain. "Sudah jadi rahasia umum kok. Semisal skripsi Jurusan Hukum. Saya cari skripsi jurusan hukum dengan topik yang serupa dari teman saya di Solo misalnya. Tahunnya pun yang sudah jadul," terangnya. Lain halnya dengan Karto, penyedia jasa pembuatan skripsi ini tidak mematok waktu yang diperlukan untuk membuat skripsinya. "Tergantung yang bayar saja. Semakin tinggi bayarannya maka semakin cepat bikinnya," ujarnya. "Tapi rata-rata 2 minggu sampai 1 bulanlah. Itu sudah termasuk konsultasi, revisi dan banyak lagi. Pokoknya mahasiswa tinggal duduk manis dan terima jadi saja," tuturnya. Namun pengalaman unik pernah terjadi pada Karto, ia pernah dimintai tolong mahasiswa yang sudah terkena deadline drop out di kampusnya. "Ada yang pernah minta tolong bikinkan skripsi karena dia sudah hampir terancam drop out setelah 7 tahun kuliah. Padahal jedanya tinggal 1 minggu lagi. Kebetulan ada skripsi lain yang temanya serupa yang sedang dikerjakan mahasiswa. Nge printnya di warnet yang saya jaga. Ya sudah saya copy dan dipoles sana-sini, 5 hari jadi. Besoknya tes dan si mahasiswa lulus juga" paparnya seraya tertawa. (dip/lom)
