Setahu saya, semua Skripsi/Thesis/Disertasi yang ditembuskan ke LIPI oleh semua 
universitas maka abstraknya akan online. Namun, saya tidak tahu apakah ada 
aturan yang mengharuskan semua universitas menyerahkan Skripsi/Thesis/Disertasi 
ke LIPI. Jika ada keharusan itu maka akan mempersempit ruang ruang plagiat itu.

Salam,

Bang KT


--- On Tue, 2/23/10, Advent Tambun <[email protected]> wrote:

From: Advent Tambun <[email protected]>
Subject: [tanahkaro] bisnis skripsi
To: [email protected]
Date: Tuesday, February 23, 2010, 10:16 AM







 



  


    
      
      
      Untuk kasus plagiat skripsi yang sudah menjadi rahasia umum.....
Saya mengusulkan, 
agar setiap proses pembuatan skripsi dibuat secara online dan bersifat publik 
sehingga pihak ketiga dapat mengaksesnya. Dengan sistem ini akan muncul sifat 
kontrol pada dirinya. Selama ini skripsi dibuat dan disimpan dengan rapi di 
dalam perpustakaan sehingga sangat kecil kemungkinan untuk pihak ketiga menilai 
apakah skripsi tersebut original atau hasil plagiat. Dan dosen yang memberikan 
kelulusan kepada seorang mahasiswa yang melakukan plagiat akan merasa aman 
karena kecil kemungkinan pihak ketiga akan membuktikan bahwa sebuah skripsi 
adalah hasil plagiat. Pihak yang dirugikan dalam hal ini pemilik 
skripsi/tulisan asli akan sulit mengetahui bila tulisannya telah digunakan oleh 
orang lain. 

Bila sebuah skripi telah online maka pihak manapun akan dapat mengaksesnya dan 
dapat menilainya. Pihak yang merasa dirugikan dapat menuntut pihak yang telah 
mengkopi karyanya. Bukan tidak mungkin seseorang yang telah menyandang gelar 
sarjana harus dibatalkan kesarjanaannya karena ternyata skripsinya diketahui 
merupakan hasil plagiat sepuluh tahun kemudian. Dan dosen yang membingbing 
skripsi tersebut dan meluluskannya tentu juga akan mendapat point negatif. 
Selanjutnya univeristas di mana si mahasiswa kuliah juga akan mendapat nilai 
buruk. Inilah yang saya maksud dengan sistem kontrol pada dirinya sendiri. 
Tidak akan ada lagi dosen yang berani meluluskan mahasiswa bila ia tidak yakin 
benar bahwa skripsi tersebut hasil karyanya sendiri. Dengan demikian dosen 
tidak semata-mata menilai sebuah skripsi tetapi turut menyelidiki apakah 
skripsi tersebut hasil karya atau plagiat karya setiap skripsi yang ia tanggani 
sekaligus akan
 menyangkut kredibilitasnya sebagai dosen. 

salam
advent tambun





From: gintingmu <gintin...@yahoo. se>
To: tanahk...@yahoogrou ps.com
Sent: Tue, February 23, 2010 6:55:11 PM
Subject: [tanahkaro] Re: [komunitaskaro] bisnis skripsi (Serupa tetapi tidak 
sama)








 



    
      
      
      Kenyataan dunia memang sudah demikian, uang bisa mengubah sesuatu jadi 
kebalikannya, seperti kebodohan jadi kepintaran, kecurangan jadi kejujuran, tak 
hormat jadi kehormatan, teguh jadi tak teguh atau 'berkelamin jelas'jadi tak 
berkelamin dsb. Terlihat jelas juga dalam perkembangan Pansus Century, masih 
terus berubah dalam proses kesimpulan. Tak lain yang bisa mengubahnya ialah 
iming-iming (duit atau power). Terasa semakin jelas dan nyata dalam era 'duit 
tak terbatas' sekarang ini.

Bujur

MUG



--- In tanahk...@yahoogrou ps.com, kontan tarigan <kontan_tarigan@ ...> wrote:

Re: [komunitaskaro] bisnis skripsi (Serupa tetapi tidak sama) 

 

Selasa, 23/02/2010 13:02 WIB



Cerita Miring Dokter Indonesia di Time

Nurul Ulfah - detikHealth



Jakarta, Orang Indonesia tentunya sudah hapal sistem kesehatan di Indonesia 
yang masih jauh dari maksimal. Tapi kalau cerita miring soal kredibitas dokter 
Indonesia sampai diulas secara internasional tentunya harus menjadi perhatian 
khusus.



Situs majalah Time edisi 17 Februari 2010 memaparkan sebuah esai panjang 
tentang bagaimana memprihatinkannya kondisi pelayanan kesehatan di Indonesia. 
Tulisan tersebut ditulis wartawan Jason Tedjasukmana, yang menjadi koresponden 
untuk Time Asia.



Intinya si jurnalis ingin menceritakan minusnya pelayanan kesehatan di 
Indonesia. Berkaca dari pengalaman pribadinya yang menderita sakit mata. Di 
saat tak ada satu dokter Indonesia pun yang bisa mendiagnosis penyakitnya, 
dokter Amerika bisa mengetahuinya hanya dalam 5 menit.



Seperti dikutip dari Time, Selasa (23/2/2010), Jason menceritakan kisahnya.



Saya tidak pernah menduga akan menceritakan sistem kesehatan di Indonesia yang 
buruk. Meski saya merasa ragu dengan prosedur kesehatan di negara yang sudah 
saya tempati sejak tahun 1994 ini, tapi saya cukup percaya dengan dokter-dokter 
lokal di Indonesia. Tapi ternyata saya salah.



Pada April 2009, mata kanan saya mulai gatal dan memerah. Penglihatan saya 
mulai kabur tapi saya tidak tahu apa yang terjadi dengan mata saya. Akhirnya 
saya menemui dokter dan disarankan untuk menemui spesialis karena masalahnya 
diperkirakan ada pada kornea.



Saya pun mengikuti sarannya, tapi setelah berkeliling dan menemui banyak dokter 
spesialis mata di Jakarta, keadaan mata saya justru semakin memburuk. Seminggu 
kemudian, saya memutuskan untuk meninggalkan Indonesia dan mencari pengobatan 
di luar, tapi ternyata sudah terlambat.



Kondisi kornea saya sudah terlanjur rusak. Dokter di Singapura tempat saya 
berkunjung dan juga hampir kebanyakan orang Indonesia yang ingin berobat 
menyarankan agar dilakukan transplantasi kornea jika teknik lainnya gagal. 
Akhirnya saya memutuskan pergi ke Amerika untuk mencari jalan lain.



Menurut saya, sistem pelayanan kesehatan di Indonesia jauh dari memadai. Hal 
tersebut diakui pula oleh mantan ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Dr 
Kartono Mohammad. "Kita tidak punya sistem kesehatan. Tidak ada kontrol 
terhadap kualitas pelayanan kesehatan di Indoensia," ujar Dr Kartono.



Untuk tahun 2010, menteri kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih telah 
mengalokasikan dana sebesar 2,2 miliar dolar AS atau Rp 22 triliun untuk 
anggaran kesehatan, tapi angka itu dianggap masih kurang dan seharusnya sebesar 
110 miliar miliar dolar (Rp 110 triliun). "Tentu saja itu masih belum cukup, 
tapi sistem pelayanan kesehatan sudah termasuk di dalamnya," tutur Endang.



Tentu saja tidak mengejutkan jika ratusan warga Indonesia meninggal tiap 
tahunnya akibat tuberculosis, malaria, demam berdarah dan penyakit lainnya. 
Tapi yang membuat saya bingung adalah bagaimana sebuah penyakit mata yang saya 
alami tidak terdiagnosa oleh satu pun dokter, padahal penyakit itu bisa memicu 
kebutaan.



Saya terpaksa pergi ke Amerika karena enam dokter di Indonesia sudah tidak bisa 
menjelaskan penyakit tersebut. Berbeda dengan dokter Indonesia, seorang dokter 
di Michigan langsung bisa mendiagnosis masalah dalam 5 menit.



"Anda terkena penyakit vernal conjunctivitis. Jika dokter di sana melihat dan 
memeriksa bagian di bawah kelopak mata Anda, penyakit ini sebenarnya bisa 
langsung ketahuan," ujar dokter Michigan yang memeriksa Jason.



Menurut Jason, sebenarnya para dokter di Indonesia sudah memeriksa bagian 
tersebut. Tapi tidak ada satu dokter pun yang menyadarinya dan melewatkannya 
begitu saja. Dokter di Jakarta hanya memberi steroid untuk mengurangi 
pembengkakan padahal setelah diperiksa di Amerika, pemakaian steroid justru 
akan memperparah keadaan.



Dokter di Jakarta juga melakukan pembersihan mata dengan cara mengurangi 
lapisan mata. Harapannya yaitu agar tumbuh lapisan baru di atas lapisan kornea 
yang rusak. Namun sakit yang dirasakan seperti ada keramik atau kaca yang 
ditusuk ke dalam mata saya.



Sebenarnya saya ingin menggugat dokter tersebut tapi Dr Kartono dan pakar 
kesehatan lainnya mengatakan bahwa kemungkinan memenangkan kasus malpraktik di 
Indonesia sangatlah kecil bahkan penggugat bisa jadi harus membayar kerugian 
yang lebih besar.



Setelah 9 bulan mengeluarkan ribuan dolar dan menjalani prosedur pengobatan di 
Amerika, 50 persen penglihatan saya sudah kembali normal. Meski saya masih 
merasa pusing dan tidak nyaman dengan ketidakseimbangan penglihatan kiri dan 
kanan, tapi saya optimistis mata saya akan kembali normal.



Saya sangat beruntung karena bisa mencari pengobatan di luar, tapi bagaimana 
dengan mereka yang tidak mampu dan tidak tahu harus berobat kemana? Semakin 
saya bertanya pada dokter-dokter di Jakarta, semakin banyak kekhawatiran dan 
cerita horor yang timbul.



Kasus Prita Mulyasari yang berani mengkritik sistem pelayanan kesehatan di 
rumah sakit adalah satu contoh bahwa ada yang salah dengan sistem kesehatan di 
Indonesia. Saya tidak tahu apa yang akan saya lakukan setelah ini, tapi saya 
menyarankan agar Prita punya keberanian untuk menantang sistem yang sudah 
banyak mengorbankan orang banyak.



(fah/ir) 



--- On Tue, 2/23/10, MU Ginting <gintin...@. ..> wrote:



From: MU Ginting <gintin...@. ..>

Subject: [komunitaskaro] bisnis skripsi

To: tanahk...@yahoogrou ps.com, forumk...@yahoogrou ps.com, komunitaskaro@ 
yahoogroups. com

Date: Tuesday, February 23, 2010, 1:15 AM

  

Selasa, 23/02/2010 12:29 WIB

Bisnis Pembuatan Skripsi di Bandung

Pemesan Cukup Kasih Judul, Dalam 2 Minggu Beres

Pradipta Nugrahanto â€" detikBandung 



Bandung - Normalnya, pengerjaan skripsi pastilah memakan waktu berbulan-bulan, 
bahkan setahun lebih. Namun para penyedia jasa pembuatan skripsi di Bandung 
mampu membuat satu skripsi dalam 2 minggu.



Tentu saja singkatnya waktu pengerjaan ini menjadi salah satu daya tarik yang 
ditawarkan ke konsumen. Seperti dituturkan Tono (nama samaran-red) yang biasa 
menerima orderan pembuatan skripsi.



"Tergantung materi yang ingin dibahas si mahasiswa. Kalau gampang 2 minggu pun 
jadi," ujarnya saat bincang-bincang dengan detikbandung.



Dalam 2 minggu itu, Tono melakukan pengumpulan data dari banyak sumber. 
"Mahasiswanya kan hanya kasih judul saja. Selanjutnya diserahkan sama saya," 
ujarnya.



Setelah mendapat pesanan, Tono berburu data sana-sini. Tak sebatas dari 
internet, Tono memburu skripsi-skripsi lawas dari mahasiswa di kota lain.



"Sudah jadi rahasia umum kok. Semisal skripsi Jurusan Hukum. Saya cari skripsi 
jurusan hukum dengan topik yang serupa dari teman saya di Solo misalnya. 
Tahunnya pun yang sudah jadul," terangnya.



Lain halnya dengan Karto, penyedia jasa pembuatan skripsi ini tidak mematok 
waktu yang diperlukan untuk membuat skripsinya. "Tergantung yang bayar saja. 
Semakin tinggi bayarannya maka semakin cepat bikinnya," ujarnya.



"Tapi rata-rata 2 minggu sampai 1 bulanlah. Itu sudah termasuk konsultasi, 
revisi dan banyak lagi. Pokoknya mahasiswa tinggal duduk manis dan terima jadi 
saja," tuturnya.



Namun pengalaman unik pernah terjadi pada Karto, ia pernah dimintai tolong 
mahasiswa yang sudah terkena deadline drop out di kampusnya.



"Ada yang pernah minta tolong bikinkan skripsi karena dia sudah hampir terancam 
drop out setelah 7 tahun kuliah. Padahal jedanya tinggal 1 minggu lagi. 
Kebetulan ada skripsi lain yang temanya serupa yang sedang dikerjakan 
mahasiswa. Nge printnya di warnet yang saya jaga. Ya sudah saya copy dan 
dipoles sana-sini, 5 hari jadi. Besoknya tes dan si mahasiswa lulus juga" 
paparnya seraya tertawa.



(dip/lom)

 





    
     








      

    
     

    
    


 



  






      

Kirim email ke