"Awas SARA", hahaha . . . mari kita sejenak kembali ke era Orba untuk menakut-nakuti diri kita jangan sampai terjebak ke masalah kedaerahan, 'kesukuan', alias SARA. Masih banyak penganut Orba berkeliaran dan berperanan penting di sela-sela SBY, tidak diragukan. Tetapi begu SARAnya dibenak kita sudah hilang hampir sempurna, saya berani taruhan kecil hehehe . . . Orang bukan Karopun menganjurkan kekompakan Karo: "Alucyana, S.Psi, peneliti LRPM menyimpulkan suku Karo masih berpotensi untuk kompak dan bersatu jika mereka tahu bahwa salah satu putri terbaik mereka maju sebagai calon pemimpin di Kota Medan, apalagi calon tersebut berpeluang besar untuk menang di Pilkada." Orang Karo sendiripun menganjurkan politik yang sama: Nurhayati Sembiring, dosen USU: "Makanya, harus ada semangat bersama untuk mendukung dan memilih putri terbaik Karo yang akan bertarung di Pilkada Medan 2010." Politik bahwa kebahagiaan dan kemajuan etnis-etnis Indonesia akan berpengaruh besar atas kemajuan dan perkembangan nation Indonesia sudah jadi kesedaran subconscious, sudah otomatis diterima oleh semua, bahkan mungkin sipenganut politik orbais SARA sendiri. Wah, wah . . . betul gak begitu ya? Saya bikin tanda tanya karena saya masih meragukan pendirian SBY dan terutama mendagrinya Gamawan Fauzi dalam soal pemekaran daerah. Artinya dalam soal kedaerahan dan kesukuan tadi, dalam soal SARA era ethnic revival atau culutural revival dunia, bukan dalam pengertian SARA orbais pancasilais jendral Soeharto. Misalnya moratoriumnya kedua orang ini, yang baru saja dikirimkan Kikin Tarigan ke milis (berita-berita aktual SARA ini selalu kita butuhkan, begitu juga berita SARA posting Alexander ini, bujur bandu duana). Dan disitu Gamawan bikin syarat pemekaran pula , katanya kalau penduduknya kurang dari 100 ribu orang diluar Jawa, lantas nanti dilihat perkembangan DOBnya katanya. Tidak jelas maksud pak Gamawan disini, atau maksudnya kalau nanti pabrik manusianya lebih besar baru bikin otonomi, itulah pengertian saya. Di Jawa 200 ribu, tentu tak soal, perkembangan biaknya lebih gesit, tak kalah juga di daerah 'SARA' Gamawan sendiri. Tapi mengapa syarat daerah lain dibawa ke Karo? Daerah yang fabrik manusianya tidak begitu gesit? Ini namanya SARAnya masih orbais, dibikin syarat yang tak mungkin dipenuhi oleh satu daerah, dan dia tahu itu, SBY tahu itu. Gus Dur tidak bikin syarat itu, maka itu dia adalah presiden pertama dunia yang mengerti ethnic revival atau cultural revival. Gus Dur adalah pahlawan. Tapi kai gia ninta, enggo me luar biasa perkembangan SARA enda ndai bas kita Karo, anak-anak mudanta ras kerina intelektualna enggo proaktif ras giat promosi daerah (Karo) terus terang dan bersemangat. Karo Enda Ndai ninta nai bas ukurta, katepen sinek, gundari ku dunia, piah "Z" pe ngaloi la nggit ketadingen hehehe. . . . Enda ka lebe sitik tambahenku Bujur, bujur, bujur Salam SARA, Hiduplah SARA MUG
--- In [email protected], Alexander Firdaust <daustco...@...> wrote: Medan, (Analisa) Masyarakat suku Karo di Medan yang terdaftar sebagai pemilih pada pilkada tahun ini, diminta kompak dan bersatu dalam menjatuhkan pilihan kepada pasangan calon WaliKota Medan. âMasyarakat Karo harus bisa lebih banyak berperan dalam pembangunan Kota Medan. Pilkada kali ini adalah momentum untuk menuju ke arah sana,â kata Nurhayati Sembiring, dosen USU kepada wartawan di Medan Rabu (6/5). Menurut Nurhayati, keberadaan Kota Medan tidak bisa dilepaskan dari suku Karo. Merujuk sejarah, Kota Medan dibuka oleh Guru Patimpus Sembiring Pelawi 419 tahun yang lalu atau 1 Juli 1590 dan setiap 1 Juli-lah HUT Kota Medan diperingati. Tapi, sejak Kota Medan ada hingga hari ini, jangankan walikota atau wakil walikota, sekda pun belum pernah dijabat orang Karo. âSekarang, kesempatan untuk menunjukkan peran itu sangat terbuka, sebab salah satu putri terbaik Karo maju menjadi calon wakil walikota Medan,â ujarnya lagi. Karena itu, masyarakat Karo diminta untuk kompak dan bersatu dan jangan terjebak atau sampai tertipu dengan memilih calon walikota-wakil walikota yang hanya bermodal penabalan marga Karo. Sebab, nantinya mereka tidak akan memiliki tanggung jawab moral untuk menolong atau meningkatkan keberadaan warga Karo ke depan. Makanya, harus ada semangat bersama untuk mendukung dan memilih putri terbaik Karo yang akan bertarung di Pilkada Medan 2010. Hal ini sejalan dengan survei yang dilakukan Lembaga Riset dan Pelatihan Masyarakat (LRPM) akhir April kemarin tentang Perilaku Suku-suku Utama di Kota Medan dalam Menyikapi Pilkada Medan. Dari survei itu terungkap sebagian besar pemilih bersuku Karo terpecah ke tiga pasangan, yakni Sigit Pramono Asri-Nurlisa Ginting 29,2 persen, Maulana Pohan-Arif 20,8 persen, Sofyan Tan-Nelly 16,7 persen dan selebihnya menyebar di calon-calon lain. Dari tiga pasangan yang mendapat suara terbanyak itu hanya Nurlisa Ginting yang asli Karo. Alucyana, S.Psi, peneliti LRPM menyimpulkan suku Karo masih berpotensi untuk kompak dan bersatu jika mereka tahu bahwa salah satu putri terbaik mereka maju sebagai calon pemimpin di Kota Medan, apalagi calon tersebut berpeluang besar untuk menang di Pilkada. âJadi, masyarakat Karo harus memanfaatkan kesempatan ini,â pungkasnya. (sug) Sumber: http://www.analisadaily.com/index.php?option=com_content&view=article&id=54179:karo-harus-kompak-di-pilkada-medan&catid=31:umum&Itemid=30 Salam Mejuah Juah Karo Cyber Community
