MJJ.

Ilmu sosial ekonomi dan politik bukan ilmu pasti. Pemasaran hasil pertanian 
termasuk harganya adalah bagian yang dipengaruhi oleh sosial, ekonomi dan 
politik. Kalau boleh kami ringkas, kebijakan pertanian di wilayah Karo adalah 
"controlled atau influenced market mechanism", pasar bebas yang coba 
dikendalikan atau barangkali lebih tepat dipengaruhi oleh pemerintahan. Peran 
pemerintahan terbatas kepada memfasilitasi kelancaran pengadaan saprodi, 
memfasilitasi adanya usaha pengolahan hasil panen dan barangkali bereaksi 
secara positif terhadap gejolak harga. Pemerintah bukan pelaku ekonomi 
langsung. Hanya petani, pedagang dan pengolah yang menjadi pelaku langsung. 

Peran tenaga ahli? Praktis hanya berlaku bila diminta. Oleh siapa? Oleh 
pihak-pihak yang berkepentingan, stakeholders, tetapi kalau tahu karakteristik 
pelaku langsung, jangan harapkan mereka akan ber-inisiatif atau punya daya 
meminta. Disini barangkali peran pemerintahan atau LSM yang dapat difungsikan 
lebih luas dan mendalam. Kami juga prihatin bahwa Pemkab Karo sepertinya, 
CMIIW, sama sekali tidak berusaha untuk menjalin komunikasi terarah dengan para 
stakeholder cendikiawan Karo di perguruan tinggi di Medan. Suatu forum antar 
pejabat, katakan eselon II ke-atas dari satker terkait dengan stakeholders Karo 
di Medan, dan juga di luar Sumut dengan mudahnya komunikasi sekarang ini, akan 
dapat menggerakkan pemikiran-pemikiran yang andal yang dapat diterjemahkan 
dalam aksi membantu pola pengembangan pertanian Karo, termasuk dalam mengurangi 
resiko fejolak harga hasil pertanian.   

Enda kam lebe.
Sentabi,

Bp. Nona Sampaguita





________________________________
From: karo karositepu <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Sun, May 23, 2010 10:01:55 PM
Subject: Bls: [komunitaskaro] Keluhan Berulang-ulang "Kestabilan Harga Harapan 
Petani Karo"

  
Membaca posting pak Sembiring (teman saya di yogya dulu), saya sempat 
tertegun..Bapak mengatakan :...Bagaimana ahli ekonomi, pertanian, peternakan, 
perikanan, teknik,
sosial budaya dll suku Karo kita yang sudah bergelar doktor, dimanakah
anda selama ini? Apakah anda tidak mau bergabung untuk memikirkan dan
membangun Taneh Karo,..
Satu pertanyaan yg hanya bisa dijawab oleh ybs. Tapi dari sisi lain mungkin 
juga kita analisa dari demand & supply, Jelasnya apakah Karo membutuhkan para 
ahli??? kalau ya.. mengapa tidak didatangkan ?? suku apapun dia yg penting 
sesuai dengan kebutuhan (idealnya memang orang karo yg masih punya ikatan 
emosional... sebagai nilai +).
Pada saat "comparative advantage" di sektor pertanian ( juga disektor lainnya) 
tidak dapat diandalkan lagi, tentunya "competitive advantage" harus 
dikembangkan. Dalam hal ini teknologi adalah salah satu diantaranya. Kalau hal 
ini kita sepakati sudah pasti kita membutuhkan para ahli (Para sarjana dan para 
praktisi yg sudah "expert" dibidangnya) .
Pertanyaannya siapa yg bertanggung jawab untuk menghadirkan mereka???
Kalau dari sektor swasta, tidak ada masyalah, mereka akan membayar para akhli 
sesuai dengan kebutuhan. Untuk Karo ? hanya ada 2 cara yakni dengan kesadaran 
para "ahli-2 Kalak Karo" untuk menyumbangkan keahliannya, dan dengan "membayar" 
para ahli untuk datang ke Karo dan untuk ini satu satunya yg memungkinkan 
adalah PEMDA yg punya wewenang mngikutkan staf ahli dalam pemerintahannya. 
Apakah ini dilakukan?? kita tidak bisa menjawab (mudah mudahan ada staf Pemda 
Karo yg aktif dalam milis kita ini).
Hanya contoh kecil pak sembiring... . saya memang peminum kopi dan sangat hobby 
keliling daerah melihat perkembangan penanaman kopi (foto petani kopi ada di FB 
saya). Penaman kopi saat ini sangat pesat... khsusnya di lahan lahan ex jeruk 
yg sudah tidak berperoduksi (sekitar 3 s/d 4 ribu ha) sebagian besar (>60%) 
ditanami kopi. Saat ini harga biji kopi kering berkisar Rp.12.000/kg. Saya 
merenung, apa yg akan terjadi 2-4 tahun lagi manakala kopi yg sekarang ditanam 
mulai berproduksi, apakah ada kepastian harga ??? tidak ada yg bisa menjawab.
Hanya sebagai contoh :  Kita tau kan Coffeemix. yg dalam kemasan sachet,, 
harganya Rp.800/bks dengan isi bersihnya 20 g (coffee nya sekitar 10 g) kalau 
biaya produksi + kemasannya sekitar Rp.300/bks, maka kopi yg sudah diolah 
dengan teknologi canggih tsb menjadi Rp.30.000/kg jelas memberikan nilai tambah 
berlipat lipat.
Pak sembiring pasti berkomentar, wow... fantastic kenapa tidak dikerjakan?? 
Sudah dikerjakan para bisnis man tapi pabriknya di jawa sana (dan Karo tidak 
punya saham).
Kenapa tidak di Karo?? itu dia pertanyaannya. ... kenapa tidak, setidaknya kita 
mulai memikirkannya (dan tidak akan dapat jawababnya kalau hanya dipikirkan 
beberapa orang... kita perlu ahlinya). bagi yg mengerti pasti mengatakan "Kopi" 
adalah komoditas dunia, kita tau itu, dan penuh dengan sindikasi... sangat 
benar. masuk pasaran internasional? ?? bukan gampang seperti mulai didengungkan 
banyak pihak. Perlu pengalaman, dan net-work dan ke"nekatan".
Beberapa tahun yg lalu kami sudah mulai menjajaki membuka komunikasi dengan 
Rusia (pada wkt itu atase perdagangan disana kalau tidak salah Bapak 
R.Sembiring) . Sample sudah kami kirim dan hasilnya Kopi Tanah Karo dapat 
diterima disana, hanya saja mereka hanya mau menerima kopi dalam bentuk siap 
saji (kopi + gula). Nah.... yg masalah darimana dana untuk memulainya ?? 
Sebenarnya ada yg berminat yakni pemodal di jakarta, hanya saja karena 
kesibukan beliau dalam pemilu tahun lalu, rencana jadi tertunda.
Ada beberapa trobosan lain yg sudah kami lakukan, hanya saja perlu kebersamaan 
kita dalam hal memajukan pertanian karo. Putra karo seperti Kontan Tarigan yg 
sekarang di Taiwan, adalah yg kita butuhkan, dan putra karo lainnya seperti 
juara Ginting, dsb.
Pak sembiring... . mungkin penjelasan sehubungan dengan pertanyaan bapak belum 
tuntas... barangkali kam  ras teman temanta yg ada di jakarta mungkin dapat 
menyumbangkan saran untuk kami yg didaerah ini.
Dan semoga makin banyak yg hatinya terketuk dalam membangun Karo khsusnya di 
bidang pertanian. Bersama Kita Bisa
Sentabi Bas aku nari,
Per"baroeng" peceren





--- Pada Sab, 22/5/10, Rophian Sembiring <sembiringrophian@ yahoo.co. id> 
menulis:


>Dari: Rophian Sembiring <sembiringrophian@ yahoo.co. id>
>Judul: Bls: [komunitaskaro] Keluhan Berulang-ulang "Kestabilan Harga Harapan 
>Petani Karo"
>Kepada: komunitaskaro@ yahoogroups. com
>Tanggal: Sabtu, 22 Mei, 2010, 1:52 PM
>
>
>>
>
>
>
>  >
>
> 
>>      
> 
>Keluhan petani Karo dari dulu sampai saat ini terus seperti itu, akan tetapi 
>apa tindakan Pemda Karo untuk mengantisipasi keluhan petani kita yang tidak 
>berdaya tersebut? Sampai pada hari ini Pemda Karo tidak bergaung sama sekali. 
>Mereka (petani) hanya mempunyai keahlian sebagai petani tidak lebih dari itu, 
>beda dengan suku Minang, dimana  kalau sebagai petani tidak menguntungkan 
>setiap saat mereka bisa banting setir apakah membuka warung nasi padang, 
>tukang jahit atau membuat berbagai makanan ringan mereka mampu dan memiliki 
>keahlian untuk itu. 
>Petani kita beda dengan mereka karena budaya kita (sudah takdir) hanya sebagai 
>petani, tokeh motor, pedagang dan bukan sebagai pengrajin tenun (jaman dahulu 
>ada orang Karo sebagai penenun), kerajinan tangan dan lain sebagainya. Padahal 
>daerah kita sebagai
> salah satu tujuan wisata tapi Pemda Karo tidak pernah berpikir untuk mendidik 
> dan mengarahkan masyarakatnya sebagai pengrajin dan lain sebagainya untuk 
> dapat menjaring peluang pasar atas kedatangan wisatawan domestik dan manca 
> negara baik untuk makanan ringan, kerajinan tangan dan lain sebagainya.
>Demikian juga dengan adanya perdagangan bebas antar negara asean dan cina, 
>maka sekarang produk hasil pertanian negara tetangga telah membanjiri pasar di 
>Indonesia termasuk Kabupaten Karo, tapi apa tindakan Pemda Karo tidak ada. 
>Padahal kalau pemda Karo mau  bertindak maka mulai saat ini harus ada 
>koordinasi antar Dinas,  Bapak Camat/ Kepala Desa baik Dinas yang menangani 
>sektor Perdagangan, Perindustrian, Pertanian, Peternakan/Perikana n dan lain 
>sebagainya untuk menyusun satu program kerja untuk mengantisipasi keluhan 
>petani tersebut antara lain penyusunan "pengendalian pola tanam" baik untuk 
>pertanian maupun perkebunan sehingga semua produk
> pertanian dari Kabupaten Karo dapat dikendalikan agar tidak terjadi over 
> produk sehingga harga jual dapat dikendalikan dengan baik. Untuk itu antara 
> lain setiap kecamatan/ pedesaan harus diarahkan hanya untuk menanam tanaman 
> yang menjadi produk andalannya, jadi tidak semua desa menanam wortel, cabe, 
> tomat dan lain sebagainya.Apabila pola tanam ini dapat dikendalikan niscaya 
> petani tidak akan dirugikan asal mau diatur dan diarahkan tapi untuk itu 
> pemda Karo perlu kerja keras dalam hal sosialisasi kebijakan dan lain 
> sebagainya. Tapi apakah Pemda Karo sudah pernah memikirkan untuk 
> mengantisipasi keluhan petani tersebut yang terus terjadi dan berulang-ulang?
>Bagaimana ahli ekonomi, pertanian, peternakan, perikanan, teknik, sosial 
>budaya dll suku Karo kita yang sudah bergelar doktor, dimanakah anda selama 
>ini? Apakah anda tidak mau bergabung untuk memikirkan dan membangun Taneh 
>Karo, bukan hanya Kabupaten Karo (Karo Gugung). Karena suku Karo ada di
> Kabupaten Deli Serdang / Langkat (Karo Jahe), Kabupaten Langkat (Karo Binge), 
>  Kabupaten Simalungun (Karo Timur), Kabupaten Dairi (Karo Baluren) dan 
> Kabupaten Aceh Tenggara (Karo Berneh). Keahlian kita ada gunanya kalau kita 
> dapat menularkannya kepada orang lain sehingga bermanfaat bagi dia.
>
>Semoga bermanfaat.
>
>
>
>
________________________________
Dari: Alexander Firdaust <daustco...@yahoo. com>
>Kepada: infok...@yahoogroup s.com; tanahk...@yahoogrou ps.com; komunitaskaro@ 
>yahoogroups. com
>Terkirim: Jum, 21 Mei, 2010 17:40:04
>Judul: > [komunitaskaro] Kestabilan Harga Harapan Petani Karo
>
>  >
>
> 
>>      
> 
>
> 
>  
>  Berastagi, (Analisa) 
>Kestabilan
>harga pasca panen bagi produk pertanian petani masih menjadi harapan
>yang terbesar bagi petani Karo. Sebab gejolak di pasaran tidak stabil
>dan sering berubah-ubah dari waktu ke waktu. Hal ini disampaikan Toni
>Ginting, warga Kecamatan Kabanjahe yang sehari-hari menanam wortel dan
>jeruk kepada wartawan di area pertaniannya, Kamis (20/5). 
>Ditambahkannya,
>para petani umumnya mempunyai pilihan untuk menjual hasil tani, apakah
>langsung ke pasar tradisional di Berastagi dan Pasar Singa di
>Kabanjahe, atau dapat juga menjual langsung ke pedagang pengumpul yang
>datang dari berbagai kota di Sumatera Utara seperti Tanjung Balai
>ataupun Kisaran dan Medan.
>Ginting
>menyampaikan, petani-petani di Tanah Karo masih sangat dirugikan dalam
>hal pemasaran, sebab mereka tidak mempunyai kekuatan untuk melawan hal
>itu.
>"Bila kami berhenti
>menanam sayuran wortel ini tidak mungkin. Sebab anak-anak masih banyak
>yang sekolah dan biaya hidup sehari-hari banyak. Sementara harga di
>pasaranan saat panen tidak stabil. Terkadang harga bisa Rp2 ribu/kg
>atau bila rezeki bagus harga Rp3 ribu/kg," ujarnya.
>Ketika
>ditanyakan apa usahanya menghadapi kondisi itu, ia menjawab dengan
>memodifikasi pemupukan. Sehingga modal dapat ditekan seminimal mungkin.
>Ia juga sedikit apatis terhadap Pemkab Karo dan DPRD karena janji yang
>didengar sewaktu kampanye tidak pernah terealisasi.
>"Kalau
>ingin menuliskan harapan saya ini silakan, yang kami inginkan adalah
>pendapatan meningkat dan semoga di dengar sama Bapak kita di atas
>sana,"ujarnya. (ps)
>Sumber: http://www.analisad aily.com/ index.php? option=com_ 
>content&view=article&id=55644:kestabilan -harga-harapan- 
>petani-karo&catid=51:umum&Itemid=31
>
>Salam Mejuah Juah
>
>Karo Cyber Community
> 
>
> 

 


      

Kirim email ke