Mejuah-juah

Sungguh menarik pokok bahasan diatas dan sepertinya telah terposting beberapa 
kali tentang hal ini.

Tetapi sering kali kita terjebak dalam mazhab-mazhab ekonomi yang baku dan 
trend, yang berimbas pada kegetiran tiada ujung, yang jadi pertanyaan besarnya 
apakah kita mau hanya berputar-putar dalam hal ini atau berbuat dan berinovasi 
pada sesuatu yang tidak terpatron pada mazhab-mazhab diatas.

Saya pernah memposting beberapa waktu yang lalu bahwa saat ini KOPI ACEH telah 
menjadi salah satu andalan di Starbuck, sebuah kedai kopi modern kelas dunia..

Pertanyaan selanjutnya adalah "KENAPA BISA??"

ras-ras kita melajarisa kalakei..

Bujur

Hendra Gunawan Kaban  0813 7615 0225 - 0819 3321 3262
  email : [email protected]  PT. LALUME INDONESIA  jl.setia budi no.476 A  
tanjung sari - medan 20132  ph. +6261 - 8218433  fax.+6261 - 8222505
email : [email protected]
  www.lalume.co.id  MEMBER OF FORUM EO MEDAN

--- On Mon, 5/24/10, shodan purba <[email protected]> wrote:

From: shodan purba <[email protected]>
Subject: [tanahkaro] Re: Bls: [komunitaskaro] Keluhan Berulang-ulang 
"Kestabilan Harga Harapan Petani Karo"
To: [email protected], "Tanah Karo" <[email protected]>, 
[email protected]
Date: Monday, May 24, 2010, 10:15 AM







 



  


    
      
      
      MJJ.

Ilmu sosial ekonomi dan politik bukan ilmu pasti. Pemasaran hasil pertanian 
termasuk harganya adalah bagian yang dipengaruhi oleh sosial, ekonomi dan 
politik. Kalau boleh kami ringkas, kebijakan pertanian di wilayah Karo adalah 
"controlled atau influenced market mechanism", pasar bebas yang coba 
dikendalikan atau barangkali lebih tepat dipengaruhi oleh pemerintahan. Peran 
pemerintahan terbatas kepada memfasilitasi kelancaran pengadaan saprodi, 
memfasilitasi adanya usaha pengolahan hasil panen dan barangkali bereaksi 
secara positif terhadap gejolak harga. Pemerintah bukan pelaku ekonomi 
langsung. Hanya petani, pedagang dan pengolah yang menjadi pelaku langsung. 

Peran tenaga ahli? Praktis hanya berlaku bila diminta. Oleh siapa? Oleh 
pihak-pihak yang berkepentingan, stakeholders,
 tetapi kalau tahu karakteristik pelaku langsung, jangan harapkan mereka akan 
ber-inisiatif atau punya daya meminta. Disini barangkali peran pemerintahan 
atau LSM yang dapat difungsikan lebih luas dan mendalam. Kami juga prihatin 
bahwa Pemkab Karo sepertinya, CMIIW, sama sekali tidak berusaha untuk menjalin 
komunikasi terarah dengan para stakeholder cendikiawan Karo di perguruan tinggi 
di Medan. Suatu forum antar pejabat, katakan eselon II ke-atas dari satker 
terkait dengan stakeholders Karo di Medan, dan juga di luar Sumut dengan 
mudahnya komunikasi sekarang ini, akan dapat menggerakkan pemikiran-pemikiran 
yang andal yang dapat diterjemahkan dalam aksi membantu pola pengembangan 
pertanian Karo, termasuk dalam mengurangi resiko fejolak harga hasil 
pertanian.    

Enda kam lebe.
Sentabi,

Bp. Nona Sampaguita


From: karo karositepu <sitepu2...@yahoo. com>
To: komunitaskaro@ yahoogroups. com
Sent: Sun, May 23, 2010 10:01:55 PM
Subject: Bls: [komunitaskaro] Keluhan Berulang-ulang "Kestabilan Harga Harapan 
Petani Karo"








 



    
      
      
      Membaca posting pak Sembiring (teman saya di yogya dulu), saya sempat 
tertegun..Bapak mengatakan :...Bagaimana ahli ekonomi, pertanian, peternakan, 
perikanan, teknik,
sosial budaya dll suku Karo kita yang sudah bergelar doktor, dimanakah
anda selama ini? Apakah anda tidak mau bergabung untuk memikirkan dan
membangun Taneh Karo,..
Satu pertanyaan yg hanya bisa dijawab oleh ybs. Tapi dari sisi lain mungkin 
juga kita analisa dari demand & supply, Jelasnya apakah Karo membutuhkan para 
ahli??? kalau ya.. mengapa tidak didatangkan ?? suku apapun dia yg penting 
sesuai dengan kebutuhan (idealnya memang orang karo yg masih punya ikatan 
emosional... sebagai nilai +).
Pada saat "comparative advantage" di sektor pertanian ( juga disektor lainnya) 
tidak dapat diandalkan lagi, tentunya "competitive advantage" harus 
dikembangkan. Dalam hal ini teknologi adalah salah satu diantaranya. Kalau hal 
ini kita sepakati sudah pasti kita membutuhkan para ahli (Para sarjana dan para 
praktisi yg sudah "expert" dibidangnya) .
Pertanyaannya siapa yg bertanggung jawab untuk menghadirkan mereka???
Kalau dari sektor swasta, tidak ada masyalah, mereka akan membayar para akhli 
sesuai dengan kebutuhan. Untuk Karo ? hanya ada 2 cara yakni dengan kesadaran 
para "ahli-2
 Kalak Karo" untuk menyumbangkan keahliannya, dan dengan "membayar" para ahli 
untuk datang ke Karo dan untuk ini satu satunya yg memungkinkan adalah PEMDA yg 
punya wewenang mngikutkan staf ahli dalam pemerintahannya. Apakah ini 
dilakukan?? kita tidak bisa menjawab (mudah mudahan ada staf Pemda Karo yg 
aktif dalam milis kita ini).
Hanya contoh kecil pak sembiring... . saya memang peminum kopi dan sangat hobby 
keliling daerah melihat perkembangan penanaman kopi (foto petani kopi ada di FB 
saya). Penaman kopi saat ini sangat pesat... khsusnya di lahan lahan ex jeruk 
yg sudah tidak berperoduksi (sekitar 3 s/d 4 ribu ha) sebagian besar (>60%) 
ditanami kopi. Saat ini harga biji kopi kering berkisar Rp.12.000/kg. Saya 
merenung, apa yg akan terjadi 2-4 tahun lagi manakala kopi yg sekarang ditanam 
mulai berproduksi, apakah ada kepastian harga ??? tidak ada yg bisa menjawab.
Hanya sebagai contoh :  Kita tau kan Coffeemix. yg dalam kemasan sachet,,
 harganya Rp.800/bks dengan isi bersihnya 20 g (coffee nya sekitar 10 g) kalau 
biaya produksi + kemasannya sekitar Rp.300/bks, maka kopi yg sudah diolah 
dengan teknologi canggih tsb menjadi Rp.30.000/kg jelas memberikan nilai tambah 
berlipat lipat.
Pak sembiring pasti berkomentar, wow... fantastic kenapa tidak dikerjakan?? 
Sudah dikerjakan para bisnis man tapi pabriknya di jawa sana (dan Karo tidak 
punya saham).
Kenapa tidak di Karo?? itu dia pertanyaannya. ... kenapa tidak, setidaknya kita 
mulai memikirkannya (dan tidak akan dapat jawababnya kalau hanya dipikirkan 
beberapa orang... kita perlu ahlinya). bagi yg mengerti pasti mengatakan "Kopi" 
adalah komoditas dunia, kita tau itu, dan penuh dengan sindikasi... sangat 
benar. masuk pasaran internasional? ?? bukan gampang seperti mulai didengungkan 
banyak pihak. Perlu pengalaman, dan net-work dan ke"nekatan".
Beberapa tahun yg lalu kami sudah mulai menjajaki membuka komunikasi dengan 
Rusia (pada wkt
 itu atase perdagangan disana kalau tidak salah Bapak R.Sembiring) . Sample 
sudah kami kirim dan hasilnya Kopi Tanah Karo dapat diterima disana, hanya saja 
mereka hanya mau menerima kopi dalam bentuk siap saji (kopi + gula). Nah.... yg 
masalah darimana dana untuk memulainya ?? Sebenarnya ada yg berminat yakni 
pemodal di jakarta, hanya saja karena kesibukan beliau dalam pemilu tahun lalu, 
rencana jadi tertunda.
Ada beberapa trobosan lain yg sudah kami lakukan, hanya saja perlu kebersamaan 
kita dalam hal memajukan pertanian karo. Putra karo seperti Kontan Tarigan yg 
sekarang di Taiwan, adalah yg kita butuhkan, dan putra karo lainnya seperti 
juara Ginting, dsb.
Pak sembiring... . mungkin penjelasan sehubungan dengan pertanyaan bapak belum 
tuntas... barangkali kam  ras teman temanta yg ada di jakarta mungkin dapat 
menyumbangkan saran untuk kami yg didaerah ini.
Dan semoga makin banyak yg hatinya terketuk dalam membangun Karo khsusnya di 
bidang
 pertanian. Bersama Kita Bisa
Sentabi Bas aku nari,
Per"baroeng" peceren





--- Pada Sab, 22/5/10, Rophian Sembiring <sembiringrophian@ yahoo.co. id> 
menulis:

Dari: Rophian Sembiring <sembiringrophian@ yahoo.co. id>
Judul: Bls: [komunitaskaro] Keluhan Berulang-ulang "Kestabilan Harga Harapan 
Petani Karo"
Kepada: komunitaskaro@ yahoogroups. com
Tanggal: Sabtu, 22 Mei, 2010, 1:52 PM







 



    
      
      
      Keluhan petani Karo dari dulu sampai saat ini terus seperti itu, akan 
tetapi apa tindakan Pemda Karo untuk mengantisipasi keluhan petani kita yang 
tidak berdaya tersebut? Sampai pada hari ini Pemda Karo tidak bergaung sama 
sekali. Mereka (petani) hanya mempunyai keahlian sebagai petani tidak lebih 
dari itu, beda dengan suku Minang, dimana  kalau sebagai petani tidak 
menguntungkan setiap saat mereka bisa banting setir apakah membuka warung nasi 
padang, tukang jahit atau membuat berbagai makanan ringan mereka mampu dan 
memiliki keahlian untuk itu. 
Petani kita beda dengan mereka karena budaya kita (sudah takdir) hanya sebagai 
petani, tokeh motor, pedagang dan bukan sebagai pengrajin tenun (jaman dahulu 
ada orang Karo sebagai penenun), kerajinan tangan dan lain sebagainya. Padahal 
daerah kita sebagai
 salah satu tujuan wisata tapi Pemda Karo tidak pernah berpikir untuk mendidik 
dan mengarahkan masyarakatnya sebagai pengrajin dan lain sebagainya untuk dapat 
menjaring peluang pasar atas kedatangan wisatawan domestik dan manca negara 
baik untuk makanan ringan, kerajinan tangan dan lain sebagainya.
Demikian juga dengan adanya perdagangan bebas antar negara asean dan cina, maka 
sekarang produk hasil pertanian negara tetangga telah membanjiri pasar di 
Indonesia termasuk Kabupaten Karo, tapi apa tindakan Pemda Karo tidak ada. 
Padahal kalau pemda Karo mau  bertindak maka mulai saat ini harus ada 
koordinasi antar Dinas,  Bapak Camat/ Kepala Desa baik Dinas yang menangani 
sektor Perdagangan, Perindustrian, Pertanian, Peternakan/Perikana n dan lain 
sebagainya untuk menyusun satu program kerja untuk mengantisipasi keluhan 
petani tersebut antara lain penyusunan "pengendalian pola tanam" baik untuk 
pertanian maupun perkebunan sehingga semua produk
 pertanian dari Kabupaten Karo dapat dikendalikan agar tidak terjadi over 
produk sehingga harga jual dapat dikendalikan dengan baik. Untuk itu antara 
lain setiap kecamatan/ pedesaan harus diarahkan hanya untuk menanam tanaman 
yang menjadi produk andalannya, jadi tidak semua desa menanam wortel, cabe, 
tomat dan lain sebagainya.Apabila pola tanam ini dapat dikendalikan niscaya 
petani tidak akan dirugikan asal mau diatur dan diarahkan tapi untuk itu pemda 
Karo perlu kerja keras dalam hal sosialisasi kebijakan dan lain sebagainya. 
Tapi apakah Pemda Karo sudah pernah memikirkan untuk mengantisipasi keluhan 
petani tersebut yang terus terjadi dan berulang-ulang?
Bagaimana ahli ekonomi, pertanian, peternakan, perikanan, teknik, sosial budaya 
dll suku Karo kita yang sudah bergelar doktor, dimanakah anda selama ini? 
Apakah anda tidak mau bergabung untuk memikirkan dan membangun Taneh Karo, 
bukan hanya Kabupaten Karo (Karo Gugung). Karena suku Karo ada di
 Kabupaten Deli Serdang / Langkat (Karo Jahe), Kabupaten Langkat (Karo Binge),  
Kabupaten Simalungun (Karo Timur), Kabupaten Dairi (Karo Baluren) dan Kabupaten 
Aceh Tenggara (Karo Berneh). Keahlian kita ada gunanya kalau kita dapat 
menularkannya kepada orang lain sehingga bermanfaat bagi dia.
Semoga bermanfaat.

Dari: Alexander Firdaust <daustco...@yahoo. com>
Kepada: infok...@yahoogroup s.com; tanahk...@yahoogrou ps.com; komunitaskaro@ 
yahoogroups. com
Terkirim: Jum, 21 Mei, 2010 17:40:04
Judul:
 [komunitaskaro] Kestabilan Harga Harapan Petani Karo








 



    
      
      
      

                                
                                
                
                
                
                                
                
                
                                        








Berastagi, (Analisa)                   Kestabilan
harga pasca panen bagi produk pertanian petani masih menjadi harapan
yang terbesar bagi petani Karo. Sebab gejolak di pasaran tidak stabil
dan sering berubah-ubah dari waktu ke waktu. Hal ini disampaikan Toni
Ginting, warga Kecamatan Kabanjahe yang sehari-hari menanam wortel dan
jeruk kepada wartawan di area pertaniannya, Kamis (20/5). 

                   Ditambahkannya,
para petani umumnya mempunyai pilihan untuk menjual hasil tani, apakah
langsung ke pasar tradisional di Berastagi dan Pasar Singa di
Kabanjahe, atau dapat juga menjual langsung ke pedagang pengumpul yang
datang dari berbagai kota di Sumatera Utara seperti Tanjung Balai
ataupun Kisaran dan Medan.                   Ginting
menyampaikan, petani-petani di Tanah Karo masih sangat dirugikan dalam
hal pemasaran, sebab mereka tidak mempunyai kekuatan untuk melawan hal
itu.                    "Bila kami berhenti
menanam sayuran wortel ini tidak mungkin. Sebab anak-anak masih banyak
yang sekolah dan biaya hidup sehari-hari banyak. Sementara harga di
pasaranan saat panen tidak stabil. Terkadang harga bisa Rp2 ribu/kg
atau bila rezeki bagus harga Rp3 ribu/kg," ujarnya.                   Ketika
ditanyakan apa usahanya menghadapi kondisi itu, ia menjawab dengan
memodifikasi pemupukan. Sehingga modal dapat ditekan seminimal mungkin.
Ia juga sedikit apatis terhadap Pemkab Karo dan DPRD karena janji yang
didengar sewaktu kampanye tidak pernah terealisasi.                   "Kalau
ingin menuliskan harapan saya ini silakan, yang kami inginkan adalah
pendapatan meningkat dan semoga di dengar sama Bapak kita di atas
sana,"ujarnya. (ps)
Sumber: http://www.analisad aily.com/ index.php? option=com_ 
content&view=article&id=55644:kestabilan -harga-harapan- 
petani-karo&catid=51:umum&Itemid=31

Salam Mejuah Juah

Karo Cyber Community



      

    
     








    
     



 





    
     














      

    
     

    
    


 



  






      

Kirim email ke