Kolom Juara R. Ginting

Cargo Cult





Sebuah berita menyentak masuk ke meja redaksi, berjudul: "Tinuang
Menghidupkan Rumah Adat Karo di Melas". Terbayang para mahasiswa
Sanggar Seni Tinuang telah mendayagunakan keberadaan mereka untuk
kebutuhan orang banyak.

Penyelamatan rumah adat Karo adalah kebutuhan orang banyak, khususnya
Karo. Selama ini, kita mengeluh dan menggerutu diselimuti kekhawatiran
punahnya bangunan unik ini. Tapi, tetap tak ada yang bisa dilakukan
secara nyata untuk menyelamatkannya.

Kini, sekelompok kecil mahasiswa muda belia melakukan sesuatu. Tidak
banyak mereka perbuat, memang. Tak lebih dari pada membersihkan,
membangun beranda (turé) dan menggambar ornamen dengan cat di balok
dasar dinding (dapur-dapur, melmelen).

Dari segi penyelamatan bangunan, bisa dikatakan, mereka tak lakukan
sesuatu berarti untuk memperlambat proses pembusukan bahan. Bangunan
rumah adat bisa bertahan ratusan tahun bila atapnya tak pernah bocor dan
setiap hari ada pengasapan di dalam. Dari segi permuseuman, mereka
bahkan dapat dikatakan melakukan kesalahan karena memberi ornamen pada
dinding rumah yang sebelumnya tak ada.

Akan tetapi, selain tak ada kesalahan fatal, mereka telah membuat
momentun. Sama halnya dengan bermain sepak bola, sebagus apapun umpan
yang diberikan, sama artinya dengan nol bila tak dimanfaatkan oleh
teman. Sejelek apapun umpan, tetap bernilai 100% bila kawan berhasil
menjaringkan bola ke gawang lawan.

Sasaran kita adalah melestarikan bangunan tradisional Karo semaksimal
mungkin. Sebagaimana dalam permainan sepak bola, strategi dasar adalah
mengoptimalkan segala yang kita miliki untuk mencapai tujuan.

Berwacana adalah langkah awal dari semua gerakan yang membutuhkan
kesertaan banyak orang. Namun, tanggap dan tangkas memanfaatkan momentum
tak kalah pentingnya. Wacana merangsang munculnya momentum. Tapi,
momentum bukanlah momentum bila tanpa gerakan sama sekali.

Bayangkan, bila tak ada media memberitakan kegiatan Tinuang ini,
gaungnya akan sangat terbatas. Mungkin saja bagi lau mambur ku kersik.
Untungnya, kru Sora Sirulo tanggap dan tangkas "menjemput bola"
dan mengolahnya menjadi "umpan di mulut gawang lawan". Dan:
"Di sana ada satu, dua, tiga pemain-pemain Karo, saudara-saudara
!!!!" (Menirukan laporan pandangan mata RRI Nusantara Medan).
Siapa?!

Tiba-tiba aku teringat kuliah Koentjaraningrat di USU Medan (1981)
mengenai cargo cult. Dia mencontohkan orang-orang Irian yang melihat
kapal-kapal besar membawa barang-barang (cargo), khususnya bahan-bahan
makanan. Tak satupun barang itu bisa mereka jamah. Ini mendorong mereka
untuk merampasnya, yang ditafsirkan oleh penguasa sebagai gerakan makar.

Koentjaraningrat menggambarkan lebih lanjut, cargo cult tidak berhenti
pada gejala keirian terhadap kelompok lain yang lebih menikmati
kemewahan, tapi sudah menjadi semacam agama. Banyak ritual mereka berbau
cargo cult; mendambakan datangnya ratu adil yang membawa kebahagian.

Kadang, wacana Karo mengarah pada cargo cult. Terkesan ada keyakinan,
bila saja hadir seorang pemimpin yang seutuhnya pemimpin, semua masalah
akan selesai. Keyakinan seperti ini tidak salah karena, memang, kalau
ada pemimpin yang seutuhnya pemimpin, tentu saja semua masalah selesai.
Tapi, ada bahayanya mendambakan pemimpin seperti ini. Bahayanya, dia
tidak pernah muncul diantara kita dan kita tetap menantikannya tanpa
berbuat apa-apa. Waiting for Godot, kata Samuel Beckket.

Inilah yang membuatku tersentak membaca berita mengenai kegiatan
Tinuang. Para mahasiswa yang muda belia ini belum terjangkitcargo cult.
Keprihatinan punahnya rumah adat Karo bukan barang baru di kalangan
mahasiswa Karo. Namun, kebanyakan sebatas wacana dan menantikan
tangan-tangan lain mengerjakannya. Tinuang, tak sempat berandai-andai,
langsung membuat momentum.

Aku tidak bisa lupa. Suatu hari, di sebuah warung kopi di Medan,
berbincang-bincang mengenai seni pertunjukan Karo dengan beberapa
mahasiswa Karo. Satu per satu mereka mengajariku mengelola Tabloid Sora
Sirulo untuk memajukan seni Karo. "Perlu kam tulis agar orang-orang
menyadari pentingnya kesenian tradisional Karo," kata mereka dengan
caranya masing-masing.

"Kam yang menulis, langsung kita muat," kataku. Tak usah
kugambarkan bagaimana reaksi mereka saat itu, yang jelas telah lebih
setahun sejak itu, tak satupun diantara mereka menulis apapun di Sora
Sirulo.

Cargo cult!




(Dimuat di Sora Sirulo Edisi Maret 2010 hal.6)

Kirim email ke