Tinuang Menghidupkan Rumah Adat Karo di Melas

HELENTA TARIGAN. BERASTAGI. Sanggar Seni Tinuang menghidupkan kembali
sebuah rumah adat Karo di Desa Melas (Kec. Berstagi, Kab. Karo) setelah
20 tahun ditinggalkan tak berpenghuni oleh pemiliknya.

"Perbaikan rumah adat di Melas adalah kesepakatan bersama.
Kerusakannya belum terlalu parah meski tidak dihuni lagi sejak 20 tahun.
Ini merupakan tahap awal bagi kami memperbaiki rumah adat," tutur
Ketua Sanggar Seni Tinuang Desnalri Sinulingga kepada Sora Sirulo akhir
Pebruari lalu.

Sanggar Seni Tinuang dibentuk oleh beberapa mahasiswa Karo Unimed
Jurusan Seni Rupa 17 Juli 2009 silam dengan para pengurus: Desnalri
Sinulingga (ketua), Sada Kata Ginting (sekretaris) dan Sri Junita br
Ginting (bendahara). Para anggota, a.l.: Destanta Permana Purba, Oky M
Barus dan Daniel A Kacaribu.

             Rasa kecintaan terhadap budaya Karo ditambah lagi kondisi
rumah adat Karo yang memprihatinkan, melatarbelakangi dibentuknya
sanggar yang dibimbing oleh drs. Nelson Tarigan MSi dan drs. Dermawan
Sembiring MHum. Kedua pembimbing adalah dosen Jurusan Seni Rupa di
Unimed.

Pesikap rumah adat Karo merupakan program utama sanggar ini. Berdasarkan
survei mereka, sebagaimana dituturkan Desnalri kepada Sora Sirulo akhir
Pebruari lalu, kondisi rumah adat Karo saat ini sangat memprihatinkan.
Di Lingga, sebagai desa budaya, rumah adatnya tinggal dua dan itu pun
tidak terawat.

Perbaikan rumah adat di Melas diawali sebuah percakapan dengan pemilik
rumah 14 Januari 2010 lalu dengan bantuan warga setempat, Junedi
Surbakti. Mewakili pemilik rumah adalah Raja Dat Bukit dan anak beruna
serta Kepai Tarigan. Pemilik rumah menyetujui dan Tinuang memulai
pesikap rumah adat ini dengan dana seadanya, yaitu dari uang saku
pribadi.

Dimulai membersihkan ruangan dalam dari sampah dan kotoran-kotoran
lainnya. Hari berikutnya, Tinuang mengambil buluh belin untuk membuat
ture dan tangga rumah.

Sanggar Tinuang merasa bangga dan berterimakasih kepada orang-orang yang
mendukung kegiatan mereka. Keluarga N br Sembiring (orangtua Destanta
Purba) dari desa Ujung Aji adalah salah satunya.

"Kami tinggal di rumah ibu N. br Sembiring. Ibu ini menyumbangkan
bambu untuk kekurangan pembuatan ture dan tangga," papar Desnalri.

Pada hari terakhir, tepatnya 20 Januari 2010, Tinuang selesai membuat
ture dan tangga serta membuat ornamen pada bagian depan rumah adat di
Melas. Kepuasan yang tak ternilai pun tergambar di wajah mereka.




(Dimuat di Sora Sirulo Edisi Maret 2010, hal.1)

Kirim email ke