Inilah kadang-kadang yang sangat mengherankan kita impal Carlos..Tetap aja acuannya kerajaan kuno, Mataramlah dan tentu saja Majapahit..mungkinkah Gajah Mada kalak Karo si erbalas dendam? sejarah mengenai Gajah Mada disembunyikan, yang jelas dia bukan Jawa, mengingat Gajah itu adalah Sumatera, Mada, ah bagi si pernah begi ka tempa, artinya ada kata Mada di Bahasa Karo, ah bingung..
Kembali ke Majapahitku, lihatlah sejarah kerajaan di Jawa, banyak sekali latar belakangnya penuh dengan tipu daya dan juga penghianatan dan bunuh membunuh sang perebut kekuasaan, ngeri sekali. Adakah yang lebih ngeri dari penghianatan? yang tak mengenal siapapun bisa melakukannya? dan lainnya ciri khas yang tak pantas untuk ditiru.. Ada hal yang menyedihkan di bangsa ini yang kecenderungannya budaya dominan dipaksakan padahal banyak sekali budaya kaum minoritas yang layak, jangankan nasional bahkan untuk tingkat regional.. Soal mengndurkan diri, gini sajalah, siapapun anggota dewan yang berani ngomong gitu diatas kertas: "saya akan mengundurkan diri jika gagal. kegagalan saya jika 1. 2. ttd. terus terang di pemilu saya pasti akan memilih dia asalkan dia parta nasional ops sorry partai agama..sama halnya Sekian dulu.. Ciao ________________________________ Dari: cpatriawgmail <[email protected]> Kepada: [email protected] Terkirim: Kam, 3 Juni, 2010 01:42:20 Judul: Re: Bls: [tanahkaro] sisa budaya orba diotak pejabat penggunaan kata "sisa orba" ini kurang tepat , lebih tepat adalah "ORBA" (tanpa sisa) karena ORBA sbnarnya penggalian budaya bangsa (mataraman) itu sendiri . ... kalo sisa kan kesanya "sedikit". Soal mengundurkan diri, dalam pandangan kekuasaan politik Mataraman , haram istilahnya untuk mundur dari medan peperangan. he he :) --- In [email protected], "gintingmu" <gintin...@...> wrote: > > > "menggantikan yang lama artinya aturanya baru memperbaiki yang lama" > Ini semestinya, tetapi nyatanya malah jadi 'sumber segala kekacauan'.
