--- In [email protected], "gintingmu" <gintin...@...> wrote: "... Banyak lagi macam-macam yang mungkin, variasi dari 'mengundurkan diri', ayo tambah lagi ..."
Ada yang sekedar denge-denge gelah mekuah ate kalak. Ketika tidak ada yang rate mekuah, mulai dia ngeributi. Orang seperti ini dalam bahasa Belanda disebut "Alles drait om hem" (menempatkan diri sendiri sebagai poros dari segalanya). Dia harap pengunduran dirinya menjadi sensasi besar. Ketika sensasi tak kunjung datang, dia paksakan mensensasikan orang lain. Ketika harapannya juga tidak berhasil, diapun hilang dari peredaran sambil menenteng kitab suci mengajari orang-orang tentang apa yang benar dan apa yang tidak benar (alias tetap merindukan sensasi tentang dirinya sendiri alias "anak si nguda complex"). Sama dengan kisah Babak 1, Babak 2, Babak 3, Babak 4 dan Babak Kematian. Ketika tidak ada yang sirutang pusuh, eh, hidup kembali pula sebentar dan lalu hilang dengan nama samaran. Simeteh ngenca ngangkasa, Jalan Tak Ada Ujung. jg
