Kalimantan Menggugat Pusat

Joanito De Saojoao



[JAKARTA] Gubernur Kalimantan Tengah (Kalteng), Teras Narang mengatakan, 
pemerintah pusat perlu segera merumuskan kebijakan nasional lewat 
sebuah master plan tata ruang, yakni Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi 
/RTRWP. Ini semua penting untuk memberikan kepastian hukum kepada 
masyarakat dan pelaku usaha. 

“Jadi, ini bukan cuma      forum membahas strategi      akselerasi 
pembangunan      Kalimantan, tapi ini juga       forum Kalimantan 
menggugat,” kata Teras dalam seminar setengah hari 

“Mencari Strategi Akselerasi Pembangunan Kalimantan” yang diadakan SP, 
Rabu (16/6). “Tapi, kami tidak menggugat dengan emosional, dengan 
menggebrak meja, melainkan dengan hati bersih,” tambah Teras yang 
kembali ditetapkan KPU  Kalteng menjadi gubernur. 

Hadir juga dalam acara tersebut Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan, Deputi Menko 
Perekonomian Bidang      Infrastruktur, Lucky Eko Wuryanto, Staf 
Ahli Menteri Pekerjaan Umum, Ismanto, Staf Ahli Menteri ESDM      Bidang 
Kewilayahan dan Lingkungan Hidup, Marwansyah Lobo Balia, Asisten II 
Bidang Ekonomi Pembangunan dan Sosial Kalimantan Barat, Maryadi, Ketua 
Bidang Tenaga Kerja & Advokasi Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit  
Indonesia,      Haposan Panjaitan, dan         Ketua Jurusan Ilmu Eko-   nomi 
Fakultas Ekonomika & Bisnis UGM, Mudrajad      Kuncoro.

Lebih jauh Teras menyatakan Kalimantan menggugat, karena selama ini 
Kalimantan hanya menjadi objek eksploitasi. Kekayaan alam dikeruk dan 
ditarik ke pusat dan ke luar negeri. Hutan diambil, batu bara diambil, 
dan sebagainya. Selain itu, semua kebijakan di daerah masih bergantung 
pusat dan umumnya antarkementerian atau antarinstansi. Misalnya, 
pengaturan lahan membutuhkan koordinasi dengan Kementerian Kehutanan, 
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Kementerian Pekerjaan Umum, 
dan sebagainya. “Singkatnya potensi yang ada di Kalimantan tidak 
berbanding lurus dengan kesejahteraan rakyat dan pembangunan wilayah 
Kalimantan. Ini yang harus menjadi perhatian kita semua dan 
diperjuangkan oleh semua pihak,” tegasnya.

Teras menyarankan agar batu bara yang selama ini 90% diekspor ke luar 
Kalimantan diolah di Kalimantan. Kemudian, dibangun pusat tenaga listrik 
bersumber batu bara, sehingga yang diekspor ke Jawa dan berbagai 
wilayah adalah listrik lewat kabel bawah laut.

Kalimantan, kata Teras, kini berusaha menjadi provinsi yang green and 
clean. Masyarakat setempat harus sejahtera. Selama ini, pusat belum 
menunjukkan keberpihakan pada Kalimantan. Itu terbukti dari tercecernya 
infrastruktur jalan, pelabuhan, dan listrik. Luas Kalimantan lima kali 
Jawa. Di pulau bak benua ini, ada tiga negara. Sayangnya, dua negara 
lain, jauh lebih maju dari NKRI.

Dalam kesempatan itu, Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan menjelaskan 
pentingnya pembangunan kehutanan rakyat dan memposisikan Kalimantan 
sebagai salah satu pilot project pembangunan kehutanan. Hal itu guna 
mencegah deforestasi yang berlebihan terhadap potensi kehutanan di 
Kalimantan.

Sementara itu, Menko Perekonomian Hatta Rajasa yang diwakili Deputi 
Menko Perekonomian Bidang Koordinasi Infrastruktur dan Pengembangan 
Wilayah Lucky Eko Wuryanto mengatakan pembangunan wilayah Kalimantan 
merupakan bagian dari upaya mendukung pembangunan nasional  yang 
ditujukan untuk pemerataan kesejahteraan. Untuk itu, potensi sumber daya 
Kalimantan seharusnya didorong menjadi produk olahan sehingga mempunyai nilai 
tambah. 
  
Hatta menjelaskan, pembangunan wilayah merupakan bagian dari percepatan 
pembangunan ekonomi nasional sehingga perlu sekali untuk mendorong 
pembangunan Kalimantan. Dalam catatannya, selama 2004 sampai 2008 
pertumbuhan ekonomi meningkat dari 3,1% menjadi 5,2% namun angka 
tersebut masih lebih rendah dari pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 
6,1%. [O-2/H-12/106/P-12]


      

Kirim email ke