OTONOMI DAERAH
Kreativitas Pemimpin Kunci Keberhasilan
Selasa, 1 Juni 2010 | 03:03 WIB
Denpasar, Kompas - Desentralisasi atau otonomi daerah tidak
berarti apa-apa bila tidak diiringi kreativitas pemimpin. Selain mendorong
daerah bisa mandiri dan berdikari, pemimpin yang mumpuni di daerah dapat
memberi
nilai lebih bagi daerah di tingkat nasional ataupun internasional.
”Jika banyak yang bilang bahwa satu daerah punya bupati/ wali kota yang
bagus, itu berarti daerah tersebut 50 persen sudah punya modal untuk maju. Saya
sepakat dengan pendapat itu. Kreativitas pemimpin di daerah memang kunci
kemajuan di daerah (yang bersangkutan),” kata Irman Gusman, Ketua Dewan
Perwakilan Daerah (DPD), ketika mengunjungi Kantor Kompas Biro Bali Nusa
Tenggara di Jalan Jayagiri Nomor 3,
Denpasar, Bali, Senin (31/5).
Ia didampingi dua anggota DPD, Kadek Arimbawa dari Bali dan Bahar Buasan dari
Bangka Belitung, serta mantan anggota DPD dari Bali, Nyoman Rudana. Minggu
malam
lalu Irman meletakkan batu pertama yang menandai pembangunan Museum Marketing
3.0 by Philip Kotler di Ubud, Gianyar.
Irman mengatakan, tujuan utama desentralisasi atau otonomi daerah adalah
kemandirian daerah. Tidak lagi seperti sekarang, banyak daerah masih sangat
bergantung pada kucuran dana dari pusat dalam bentuk dana alokasi umum (DAU)
dan
dana alokasi khusus (DAK).
Idealnya, dana seperti DAU dan DAK itu digunakan secara efisien dan efektif
sebagai alat untuk menciptakan sekaligus menstabilkan perekonomian daerah
menuju
daerah yang mandiri. Salah satu caranya adalah membuka lapangan kerja sebanyak
mungkin di daerah.
Nyoman Rudana menambahkan, dana yang diterima daerah dari pusat pun perlu
dikelola secara baik. Hal itu harus dibuktikan dengan adanya akuntabilitas
anggaran ataupun peningkatan pelayanan publik yang bisa dirasakan langsung oleh
masyarakat.
Dalam konteks itu, Kadek Arimbawa memuji kinerja pimpinan daerah di Bali dari
jajaran Gubernur Bali hingga beberapa bupati. Misalnya, Bupati Gianyar yang
dinilai mampu menampilkan Bali yang baik dan aman sebagai daerah tujuan wisata
internasional.
Ia juga sepakat bahwa dalam jangka panjang Bali harus mampu memosisikan diri
lebih khusus dalam kepariwisataan dunia. Misalnya, jumlah turis tidak terlalu
banyak tapi mereka membelanjakan uang dalam jumlah besar sehingga efek
dominonya
bagi masyarakat di Bali dan sekitarnya lebih besar. (BEN/SUT/AYS)