Bls: [tanahkaro]: Tanah Karo Tidak Kebagian Anggaran Pendidikan 
 
Mejuah-juah ka man bandu Ephraim ras permilis kerina
 
Piga-piga daerah si mungkin jadi pelengkap propinsi Karo bagi si enggo mekatep 
terpostingken ku milista emkap: Tanah Karo, Berastagi, Singalorlau, 
Langkathulu, Delihulu dan Serdanghulu, Tanehpinem/Tigalingga. Bagepe adi 
mungkin Karo Acih. Syarat jadi propinsi enggo terpenuhi menurut peraturan 
pemekaran no 32/2004. Kalau berdiri Aslab, Protap, Sumtra, dan Prop Karo, maka 
Sumut akan mekar jadi setidaknya 4 propinsi. Kota Medan akan diselesaikan 
tersendiri, jadi satu-satunya daerah Sumut yang tertinggal, atau jadi ibukota 
semua propinsi ex Sumut. Jadi perkembangan yang sangat baru bagi Indonesia 
maupun dunia. 
Usul terakhir Mendagri Gamawan Fauzi ialah dengan melalu ’masa transisi’, 
artinya tidak langsung semua jadi daerah otonom. Sementara masih dibawah 
administratif daerah induk, seperti semua daerah kabupaten baru Karo diatas 
masih dibawah adm daerah induk masing-masing selama masa transisi. Begitu juga 
propinsi Karo (dan juga propinsi-propinsi lainnya) masih dibawah adm Sumut. 
Salah satu alasan yang masuk akal dari Mendagri ialah bahwa ’hak otonomi’ sang 
bupati atau sang gubernur nantinya tidak lagi digunakan seperti hak raja kecil 
seperti selama ini sudah terjadi. Bagi etnis-etnis daerah bukan jadi ’raja 
kecil’ yang dicita-citakan, tetapi bahwa PEMEKARAN ADALAH PENGAKUAN dan RESPEK 
bagi etnisnya, kulturnya dan daerahnya.  Inilah yang utama. Adanya pengakuan 
dan respek, merupakan syarat penting dalam membangun satu daerah dan dan juga 
syarat utama membangunkan rakyatnya. Karena itu ’masa transisi’ Gamawan Fauzi 
kita dukung sepenuhnya dan
 mari sekarang mekarkan semua daerah di Sumut. Tetapi pemerintah tidak boleh 
lagi melarut-larutkan masa transisi ini. Mari mulai!
MUG
 
--- In [email protected], Judah Ephraim <moshe.eli...@...> wrote:
 





Bengkila MU, bincara Propinsi Karo ugaka ia kira-kira..(Wilayahna, 
batas-batasna, prospek ku lebe, dat anggaran pendidiken ntah lang?..)
Begi beritana gubernur nta ena Sembiring ningen ka, Sembiring uga ka kin e..
Ja dage anggota DPRD Kab. Karo nda, enam kita tokohi kalak kel kita 
kibul-kibul..

Bujur

--- Pada Sel, 6/7/10, MU Ginting <gintin...@...> menulis:

Dari: MU Ginting <gintin...@...>
Judul: [tanahkaro] Re: Tanah Karo Tidak Kebagian Anggaran Pendidikan
Kepada: [email protected], [email protected], 
[email protected]
Tanggal: Selasa, 6 Juli, 2010, 8:08 AM
  




Fenomena tyrani mayoritas 
  Berbagai tingkat perkembangan ethnic revival 
MU Ginting, Milis tanahkaro: Tue Jul 28, 2009 11:43 pm 
 PEMEKARAN ADALAH PENGAKUAN dan RESPEK, siapa yang harus diakui dan diberi 
respek. Jawabnya ialah penduduk asli pemegang hak ulayat. Mengapa mereka harus 
diakui? Karena mereka pemegang ulayat. Mengapa harus dihormati. Karena mereka 
punya hak atas daerahnya, hak ulayat. Seperti tamu harus menghormati tuan rumah 
kalau bertamu. Mengapa harus dihormati? Sederhana jawabannya, karena dia tuan 
rumah, dan sikap lain hanya akan mendatangkan perkelahian atau perang, dan 
sudah sering perang, karena tuan rumah bukannya diakui dan dihormati tetapi 
malah didominasi sampai tak berkutik sejak berdirinya nation state post 
kolonial, ada yang sudah setengah abad lebih (misalnya etnis minoritas di Sumut 
atau NAD) dan ada juga yang sudah ratusan tahun (misalnya etnis Irlandia di 
Irlandia Utara, etnis Hutu di Rwanda). Sekarang apakah masih harus diteruskan? 
Perubahan situasi dunia (ethnic revival dan perubahan kontradiksi pokok dunia) 
dan dari situ lahirnya perubahan
 perkembangan tingkat pikiran/kesedaran manusia, sudah merupakan prasyarat 
dasar untuk bisa mengubah hukum-hukum dialektis proses perkembangan kontradiksi 
lama itu (internal colonialism) . 
 "Whether politically correct or not, ethnonationalism will continue to shape 
the world in the twenty-first century." (Jerry Z. Muller is Professor of 
History at the Catholic University of America). 
Globalisasi telah mendesak kemanusiaan kepelosok yang paling terpencil 
sekalipun, dan menciutkan gerombolan kemanusiaan sampai sekecil mungkin, dan 
satu-satunya tempat bertahan bagi gerombolan manusia ialah dalam 'grup bersama' 
yang paling kecil yaitu etnisnya atau sukunya, yang kulturnya sama. Erik Lane 
dalam satu bukunya, Globalization and Politics: Promises and Dangers menulis: 
"the focus is almost exclusively at ethnics and not nations . . . Thus, people 
are so intimately connected with a culture that they are, so to speak, 
constituted by the culture in question or embedded in such a particular 
culture." 
 Persoalan ethnic revival adalah persoalan pembebasan dari dominasi etnis 
mayoritas atau etnis dominant tertentu, pembebasan dari penjajahan pada 
pokoknya (internal colonialism) karena dominasi adalah penjajahan. Penjajahan 
atau dominasi, adalah sumber ketidakadilan, karena seperti yang dikatakan oleh 
antropolog prof Denis Dwyer dalam bukunya Ethnicity and Development: 
"development programmes frequently are controlled and administered at the 
higher levels by members of the politically dominant ethnic group; and most of 
the fruits of such development flow into the pockets of a tiny ethnic elite or 
at best, are distributed in a limited manner within the same ethnic group". 
Inilah salah satu dan yang hakiki dalam proses kelahiran ketidakadilan antar 
etnis, dari dominasi kekuasaan oleh etnis dominant. 
 Sekarang sudah semakin jelas bahwa ketidakadilan dari manapun datangnya adalah 
sumber pertengkaran dan perang. Ketidakadilan etnis ini belum terlihat di era 
kolonial maupun di era nation state post kolonial, tetap semua mata terbuka 
setelah era ethnic revival, stelah era dua blok selesai. Sekarang era 
perjuangan untuk keadilan, termasuk keadilan etnis didalam satu nation 
tertentu, dan keadilan bagi tiap nation dalam skala internasional. 
MUG 
  
--- In tanahk...@yahoogrou ps.com, Alexander Firdaust <daustco...@. ..> wrote: 
MEDAN (Berita): Disaat daerah lain, kebanjiran anggaran untuk sektor 
pendidikan, sehingga beberapa proyek di antaranya bahkan menuai masalah. Namun 
ternyata untuk  daerah Tanah Karo untuk APBD 2009 daerah tersebut sama sekali 
tak mendapat kucuran anggaran untuk sektor pendidikan, baik berupa pembangunan 
fisik maupun bantuan.  Kondisi ini mengundang kekecewaan tim Kunjungan Kerja 
(Kunker) DPRD Sumatera Utara Daerah Pemilihan (dapem) X, Karo, Dairi dan 
Phak-Pak Bharat, saat melakukan kunker ke daerah terebut. Apalagi pada rapat 
yang digelar di kantor bupati Tanah Karo itu para Satuan Kerja Perangkat Daerah 
(SKPD) maupun staf dari Dinas Pendidikan Sumut tak seorangpun yang hadir. 
“Ini kita ketahui saat mengevaluasi APBD 2009, ternyata tidak sesuai  
dengan pertanggungjawaban Gubernur saat Ranperda,†ungkap Richard Eddy M 
Lingga, SE, Ketua tim Kunker X menjawab wartawan, kemarin mengomentari hasil 
kunker timnya baru-baru ini. 
Ketidakhadiran para SKPD maupun staf dari dinas pendidikan Sumut menurut 
Richard justru mengundang kecurigaan dewan, yang ternyata terungkap  Dinas 
Pendidikan Sumut tidak mengalokasikan dana APBD Sumut tahun anggaran 2009 untuk 
dana pendidikan di kabupaten tersebut. Dalam rapat itu juga diketahui bahwa 
anggaran untuk pembangunan fisik atau bantuan tak sepeserpun dikucurkan ke 
daerah itu. 
“Sama sekali tidak ada, inikan sudah mengangkangi program Gubsu yakni 
agar rakyat tidak bodoh . Padahal pemerintah sudah berjanji akan mengalokasikan 
anggaran untuk sektor pendidikan sebesar 20 persen dari APBD termasuk untuk 
daerah-daerah,†tandas politisi Partai Golkar ini. 
Sebagaimana diketahui, paparnya, untuk daerah lain dinas pendidikan Provsu 
banyak mengalokasikan dana untuk sektor pendidikan. Bahkan, sangkinkan 
banyaknya, beberapa proyek di antaranya justru menuai masalah, sebagaimana 
temuan rekan-rekannya sesama wakil rakyat di dapem masing-masing. 
“Jadi sangat tidak fair justru tanah Karo tidak mendapatkan kucuran dana 
pendidikan untuk tahun anggaran 2009, “ ujarnya. 
Menurut Richard, kondisi ini akan menjadi pelajaran berharga bagi mereka para 
wakil rakyat, khususnya untuk daerah pemilihan X, yang merupakan perwakilan 
rakyat Tanah Karo, Dairi dan phakpak Bharat, hingga bisa lebih memperjuangkan 
alokasi dana tahun 2010 untuk sektor pendidikan daerah tersebut. “Kondisi 
seperti ini jangan lagi terulang untuk APBD 2010, jangan sampai anggaran 
pendidikan bisa terluput dari perhatian,†sesalnya.(irm) 
Sumber: http://beritasore. com/2010/ 07/05/tanah- karo-tidak- kebagian- 
anggaran- pendidikan/
Salam Mejuah Juah

Karo Cyber Community

 

Kirim email ke