Kamis, 15/07/2010 18:13 WIB
Yusril Batal Debat di MetroTV
Denny Bantah Tolak Debat dengan Ngabalin
Anwar Khumaini – detikNews
Jakarta - Pernyataan Yusril Ihza Mahendra soal Denny Indrayana menolak debat 
dengan Ali Muchtar Ngabalin dibantah. Denny mengaku pernyataan Yusril itu tidak 
benar.
"Pernyataan Yusril bahwa saya menolak berdebat dengan Ali Muchtar Ngabalin 
adalah berita yang tidak benar," kata Denny kepada detikcom, Kamis (15/7/2010).
Denny menceritakan kronologis kejadian sebelum debat berlangsung. Menurutnya, 
dia ditelepon MetroTV untuk hadir berdebat dengan Yusril Ihza Mahendra tentang 
legalitas Jaksa Agung. 
"Saya sampaikan, setahu saya Yusril tidak mau debat dengan saya, sebagaimana 
pernah terjadi di TVOne. Saya tidak tahu kalau menggantikan Sudi Silalahi," 
ungkap Denny.
Saat Yusril datang di MetroTV tadi pagi, menurut Denny, Yusril langsung di make 
up. Tak lama setelah itu Yusril melihat Denny yang sudah tampil di TV.
"Tidak ada informasi bahwa dia akan digantikan Ali Muhtar Ngabalin, jadi tanpa 
info itu. Bagaimana mungkin saya bisa menolak debat dengan Ngabalin?" tanya 
ahli hukum tata negara ini.
Logikanya, imbuh Denny, talkshow MetroTV cuma berlangsung 30 menit saja. Jadi 
tidak mungkin Ngabalin bisa tiba ke MetroTV dengan durasi waktu yang sesingkat 
itu. 
"Saya harap kita semua berkata jujurlah. Tidak menyebarkan berita berbohong. 
Karena satu kebohongan akan beranak pinak. Satu kebohongan akan memerlukan 
kebohongan lanjutan untuk menutupinya," tutup Denny.

(anw/anw)
--
 
KOMENTAR
"Satu kebohongan akan memerlukan kebohongan lanjutan untuk menutupinya", kata 
Denny, menilai debat yang gagal dilaksanakan. Yusril sudah banyak bernonolog di 
koran-koran, soal 'kebenaran dan kehebatannya', mengingatkan Jaksa Agung tidak 
shah dsb. Tetapi itu tadi hanya monolog, dialog atau debat langsung interaktif 
lain lagi soalnya. Kalimat diatas bisa juga diartikan sebagai taraf (tingkat) 
perkembangan debat di Indonesia. Kita masih harus mengakui, atau tepatnya 
pemimpin Indonesia umumnya bagaimana ngerinya menghadapi debat panggung 
langsung. Masih lebih menginginkan 'makin berisi makin runduk', seperti padi. 
Atau 'ngomong perak, diam adalah emas'.  Perkembangan dunia dipikiran ditutupi 
oleh kalimat-kalimat ini. Atau dunia berkembanga terlalu cepat, seperti 
dikatakan RD Laing: "We live in a moment of history where change is so speeded 
up that we begin to see the present only when it is already disappearing" (R. 
D. Laing 1927 – 1989). Sekarang padi
 maupun emas bisa palsu, tapi kelihatan betul seperti asli. Tapi secara 
psikologis memang lebih enak untuk tak melihat, tutup mata sendiri alias menipu 
diri sendiri. Bisakah kita belajar? 
Celakanya ialah kalau pemimpin kita yang tutup mata, rakyatlah yang menderita. 
Debat ialah mencari kebenaran dari 1001 segi tiap persoalan. Pengetahuan kalau  
ditinjau hanya dari satu segi pasti tidak ilmiah.  Dialektika perkembangan 
hal-ihwal, kontradiksi, atau pertentangan-pertentangan atau hal-hal yang 
bertentangan dalam tiap persoalan adalah tenaga penggerak perubahan dan 
seterusnya  perkembangan, dan seterusnya progres atau kemajuan, sudah terbiasa 
kita dimilis Karo.  
'Erperang kita, atau ngerana kita' ninta mbarenda bas milis Karo. Erperang nai, 
ngerana gundari. Seni . . . 
MUG
 

Kirim email ke