Mejuah-juah impal Joey..

Sebagai orang awam saya akan berbicara sedikit..

Sitepu dari Sihotang? 
1. Ada bebrapa teman saya merga Sihotang, Sihite, Hasugian dan sebagainya yang 
menurut orang Batak termasuk dalam Raja Oloan (mereka menjelaskan Sitepu juga 
Raja Oloan), namun kok sifat (karakter) mereka tidak ada samanya dengan Sitepu.
2. Jika Sihotang dari Tanah Batak ke Taneh Karo, artinya lebih banyak Sihotang 
dari Sihotang yang Migrasi (Sitepu). Mengingat orang Batak umumnya anaknya 
lebih dari 6 sedangkan karo sekitar 4 orang, maka seharusnya populasi Sihotang 
jauh lebih banyak dari populasi SItepu. Saya tidak pernah sensus, namun di 
Medan, Jakarta maupun Bandung lebih sering saya ketemu Sitepu dari pada 
Sihotang (sebagai perbandingan juga coba cek di Yellow Page, banyak mana Sitepu 
dengan Sihotang?).

Propaganda Sitepu dari Sihotang itu tak masuk akal.

GBKP? 
Dulu ketika kuliah di Bandung, teman saya yang Batak menjelaskan dan sekaligus 
mengklaim bahwa GBKP itu pecahan HKBP?, namun saya jelaskan GBKP adalah 
Kalvinis Belanda  (HKBP Lutheran Jerman), setelah itu baru dia mangguk-mangguk. 
Orang Batak memang sering mengklaim yang mereka tidak tahu sama sekali.

Menurut buku (lupa saya namanya), orang Batak ke Tanah Batak abad ke 13 Masehi 
sedangkan Kerajaan Karo telah ada pada abad ke 1 Masehi dengan nama Rajanya Pa 
Lagan. Lucu sekali kalau duluan abad 13 Masehi baru abad 1 Masehi.

Semua propaganda ataupun klaim yang selama ini saya dengar dimulai oleh orang 
Batak. Maksud saya, ketika berkenalan orang Karo  yang bermerga Sitepu dengan 
orang Batak yang bermerga Sihotang. Sihotang itu yang yang menyatakan Sitepu 
dari Sihotang dan demikian juga untuk merga-merga Karo lainnya.

Banyak memang kita lihat di dunia ini kaum mayoritas ingin menguasai kaum 
minoritas dan akibatnya perang suku..

Dalam Perang Pasifik, Jepang menamakan dirinya Saudara Tua dari Asia. Dulu di 
Medan saya dengar, Batak (Toba) anak pertama dan Karo anak kedua.. yang ketiga 
ntah apa..

Kalau Karo tidak melawan maka kita telah dimakan Goliat. Goliat pernah 
dikalahkan!


Kalak Karo.



--- Pada Jum, 30/7/10, Joey Bangun <[email protected]> menulis:

Dari: Joey Bangun <[email protected]>
Judul: [tanahkaro] Saat Karo Berbicara
Kepada: [email protected], [email protected]
Tanggal: Jumat, 30 Juli, 2010, 2:51 PM







 



  


    
      
      
      

Tanggapan
Terhadap Tulisan Jones Gultom dan Thompson Hs 


Saat
Karo BerbicaraOleh Joey Bangun *)     
            Saat orang Karo
ditanya, “Apakah kam setuju Brastagi atau Kabanjahe itu disebut Tanah Batak?
Apakah kam setuju kampung kam di Singalor Lau itu disebut Tanah Batak? Apakah
kam setuju Sibolangit itu disebut Tanah Batak? Apakah kam setuju Pancur Batu
itu disebut Tanah Batak? Apakah kam setuju Deli Tua itu disebut Tanah Batak?
Apakah kam setuju Langkat itu disebut Tanah Batak?” Tanyakan pertanyaan itu
secara arif dan nurani pada orang Karo. Maka anda akan langsung bisa menebak
apa jawabnya.  

            Jadi yang mana sebetulnya disebut
Tanah Batak? Dan siapa sebetulnya Batak itu? Dari sisi kesenian, orang-orang
Toba dengan bangga menyanyikan lagu “O Tano Batak” sebaliknya orang-orang Karo
tidak kalah bangga menyanyikan lagu “Oh Taneh Karo Simalem”. 

            Menurut pengakuannya di akun Facebook, Jones Gultom mengakui
tulisannya berjudul ”Kenapa (harus) Karo Bukan Batak?” yang dimuat di harian
Analisa Minggu 18 Juli 2010 memang sengaja dibuat untuk pemicu perdebatan. Umpan
yang dibuat Jones Gultom langsung menemui sasaran. Thompson Hs memberikan
komentar dengan tajuk umpan balik berjudul “Kenapa orang Toba lebih bangga 
sebagai
Batak” yang dimuat di Analisa Minggu 25 Juli 2010.  

Sayangnya
di tulisannya Thompson Hs yang menurut pengakuannya adalah sebagai seorang 
‘Pengamat
Kebatakan’ tidak menyebutkan kenapa alasan orang Toba lebih bangga sebagai
orang Batak seperti judul yang ditulisnya. Malah dia menuliskan fakta-fakta
kenapa orang Karo bisa dikaitkan dengan Batak (baca : Toba). Thompson juga
menyinggung bagaimana halnya Mandailing juga tidak mau disebut Batak. Tidak
hanya Juara Ginting sebagai Antropolog Karo yang dikritik oleh Pengamat
Kebatakan ini, tapi juga kritikan beliau terhadap Antropolog Mandailing Z.
Pangaduan Lubis tentang Mandailing bukan Batak. 

Klaim
mengklaim selalu sering terjadi dikalangan yang disebut Batak itu. Tapi entah
kenapa selalu acuannya adalah Toba. Misalnya saja sebagai contoh tulisan 
Thompson
yaitu merga Ginting sering mengaitkan diri kepada kelompok Parna (Persadaan
Naiambaton) di Toba. Merga Sembiring (Siman Biang) mengidentifikasi diri dari
Silahi Sabungan di Toba, induk dari Marga Silalahi, Haloho, Sipayung, dan
lain-lain. Merga Sitepu  berasal dari
anak perantau Siraja Oloan induk dari marga Naibaho, Sihotang, Sihite,
Sinambela, Bakkara, dan Simanullang. Merga Pelawi dikaitkan dengan silsilah
Raja Bekerah (Bakkara) yaitu Sisingamangaraja. Merga Barus dari Barus, Tapanuli
Tengah. Bahkan menurut salah satu sumber menurut Thompson bahwa Sebayang
berasal dari Pandiangan. 

Kesimpulan
saya menurut tulisan Thompson, seolah-olah merga-merga Karo itu yang mau 
mengkaitkan- kaitkan
dirinya ke marga Toba. Orang Karo yang mana? Apakah ada propaganda? 

Kenapa
selalu merga-merga Karo dikaitkan berasal dari Toba, Juga seperti marga di 
Mandailing
dikaitkan dengan Toba. Jika kita sama Batak, kenapa kita tidak pernah berdiri
sama tinggi dan duduk sama rendah. Tidak ada istilah abang dan adik. Bukan
menganggap satu sub Batak adalah yang paling hebat dan ‘bisa melahirkan’
marga-marga lainnya di sub-sub Batak sekitarnya. 

Kenapa
tidak pernah Karo mengatakan marga Munthe yang di Toba berasal dari Ginting
Munthe Karo. Misalnya juga Silalahi itu berasal dari merga Sembiring yang
merantau ke Toba. Orang Karo bukannya tidak mau klaim mengklaim, namun tipikal
biak orang Karo yang cenderung menghindari perdebatan yang tidak berlogika.
Orang Karo tidak punya sifat main hantam-hantam saja tanpa fakta-fakta jelas. 

Mungkin
kita harus membangunkan Guru Patimpus Sembiring Pelawi untuk menanyakan tentang
silsilah beliau. Karena ada bentuk klaim yang mengatakan beliau berasal dari
Raja Bakerah keturunan Sisingamangaraja. Padahal menurut para budayawan Karo 
kalau
merga Pelawi berasal dari pendatang India. 

Tulisan
Thompson di sebuah majalah Batak terbitan ibukota yang mengatakan Putri Hijau
juga berasal dari keturunan Toba perlu dikritik. Bertahun-tahun saya melakukan
penelitian terhadap Putri Hijau di berbagai situs-situs sejarahnya baik di
Tanah Karo, Deli Tua, Istana Maimon tidak mendapatkan fakta sedikitpun kalau
Putri Hijau berasal dari keturunan Toba. Pertunjukan Putri Hijau pernah saya 
pentaskan
di Taman Ismail Marzuki tahun lalu. 

Lama-lama
apa semua cerita Karo Pawang Ternalem, Sibayak Barus Jahe, Guru Pertawar Reme,
Si Beru Rengga Kuning, Beru Karo Basukum, Dunda Katekuten, Beru Ginting Pase, 
Beru
Tarigan Tambak Bawang, Kak tengkok bungana, Siberu Tandang Kemerlang, Tera
Jile-jile, Kerbo Sinanggalatu, Perpola, Singelanja Sira, Gosing Si Ajibonar dan
lain sebagainya bisa diklaim Thompson berasal dari keturunan Toba. 

Opera
Batak yang selama ini dibanggakan oleh Thompson Hs punya keganjilan. Kenapa di
Opera Batak yang disutradarainya tidak pernah melibatkan budaya Karo,
Simalungun, Pakpak, ataupun Mandailing. Bukankah ke 4 puak itu juga Batak. 
Harusnya
kalau Karo dan yang lain-lain itu juga Batak, berarti di pementasan itu
Thompson tidak egois menampilkan sukunya saja. 

Thompson
mengatakan di alinea 5 tulisannya di Kerajaan Deli yang tidak mungkin mengakui
dirinya sebagai Orang Karo. Hati-hati tulisan ini adalah lidah tajam propaganda
untuk memecah hubungan kekerabatan antara orang Karo dan Melayu.  

Di
Kerajaan Deli para keturunannya mengakui semuanya memakai merga-merga Karo.
Bahkan dahulu menurut satu sumber terpercaya di lingkungan Istana Maimon, jika
Sultan Deli mengadakan pesta maka semua Sibayak, Raja Urung, Pengulu kuta,
hingga Datuk-Datuk Karo Jahe diundang dan dibelakang Istana Maimon didirikan
tenda-tenda untuk mereka. Di Langkat, keluarga Sultan Langkat adalah bermerga
Perangin-angin keturunan Sibayak Kuta Buluh. 

Kalau
Thompson bangga dengan kebatakannya maka dia harus dengan bangga juga 
mencantumkan
marganya. Jika disingkat Hs maka orang tidak tahu siapa dia. Apakah orang Batak
atau tidak. Mungkin saja dia orang Jawa misalnya Hadi Suwono. Kalau dia Batak
bisa saja Hutasoit, Hutajulu, Hutagaol, Hutahean. Masalah ini tidak sepele dan
menjadi pertanyaan besar soal kebanggaan penulis akan kebatakannya. 

   

   

Pembebasan Budaya Karo 

   

Kebudayaan
Karo harus dibebaskan dari kukungan kebudayaan lain. ‘Peradaban Karo’ lahir dan
berdiri sendiri. Peradaban sama dengan bahasa Inggris yang
disebut civilization. Maka untuk merumuskan istilah peradaban, kita meminjam
pengertian yang sudah berkembang dalam ilmu pengetahuan mengenai civilization. 

Menurut Encyclopedia American, pengertian
civilization telah berkembang sesuai dengan perkembangan sifat manusia dan
pengendalian diri. Dalam abad ke 20 konsep ilmu Antropologi tentang kebudayaan,
yaitu jumlah keseluruhan perilaku manusia sebagai hasil pelajaran (learned
behavior, yang berbeda dari instinctive behavior) yang memperkuat pertumbuhan
manusia dalam penguasaan pengetahuan dan kecakapan yang mendorongnya untuk
mencapai prilaku yang lebih luhur. 

Secara
lain kita dapat menyimpulkan suku Karo
sebagai salah satu etnik lahir dari penyatuan perilaku manusia yang bertumbuh
sesuai dengan perkembangan pengetahuan dalam bertingkah laku untuk mencapai
keluhuran peradaban. 

Kata
Batak ini telah melahirkan suku Karo pada dilematisasi kesukuan. Seolah 
peradaban
Karo dibayang-bayang oleh peradaban lain. Suku Karo ada karena suku lain. Hal 
inilah perlu adanya pembebasan budaya
Karo pada titik dimana pengakuan jati diri sebagai Karo. Karo yang berdiri
sendiri.  

Biarlah
kebudayaan Karo bebas mengembangkan citra dirinya dalam tahap yang lebih
berarti lagi, Kesemrautan kebudayaan ini telah membuat kita pada perdebatan
yang tidak berujung. Walau saya sudah masuk ke dalam kesemrautan ini, kiranya
tulisan ini bisa sedikit meluruskan pola pikir kita semua terhadap kearifan
lokal kebudayaan Karo. 

Juara
Ginting sebagai Antropolog Karo bukan bicara tanpa fakta, dalam tulisannya 
berjudul
“Inter-Group Relations in North Sumatra” dalam buku “Tribal Communities in the
Malay World. Historical, Cultural and Social Perspectives” 2002 dengan editor 
Geoffrey
Benjamin and Cynthia Chou, mengulas tentang pendapat orang-orang luar terhadap
hubungan kesukuan di Sumatera Utara dan mengapa mereka berpendapat begitu
sehingga perlu diluruskan lagi. Juara Ginting berani bersuara, walau fakta
perkataannya dalam diskusi di Rumah Buku Padang Bulan kemudian dibumbui oleh
Jones Gultom supaya menjadi polemik.  

Saat
suku Karo berbicara tentang identitasnya kenapa suku lain seperti kebakaran
jenggot? Saat orang Karo dengan berani mengatakan dirinya bukan orang Batak
kenapa orang Toba mengklaim itu salah. Andai jika orang Toba juga tidak
mengakui dirinya Batak dipastikan tidak ada ada orang Karo di muka bumi ini yang
mengklaim itu salah.  

Ada
apa dengan semua ini….. 

   

Bujur
ras Mejuah-juah kita kerina! 

   

*) Penulis adalah Praktisi
Kebudayaan Karo dan tinggal di Jakarta 

   




      

    
     

    
    


 



  





Kirim email ke