Saya tadi mencari-cari bagaimana gambaran sosial support yang dikemukakan pak Milala ini. Sebab, di lain sisi, adanya bantahan terhadap kemiskinan.
Sebagian orang mengatakan, kemiskinan itu ditenggarai by design atau cultur. Kalau saya pribadi melihat, kemiskinan di Indonesia, baik skala nasional dan lokal, mayoritas disebabkan by design. Sabotase-sabotase birokrasi dan demokrasi, adalah salah satu penyebab utamanya. Seperti dalam sidang-sidang tripartit, seringsekali penguasa dan pengusaha, melakukan 'duet' untuk memiskinkan rakyat pekerja, perihal penentuan standarisasi Kebutuhan Hidup Layak. Begitu juga kasus Lumpur Lapindo yang dinakhodai Ketua Umum Golkar sekarang, Aburizal Bakrie. Melihat sarung dan mesin jahit saja, Dinas Sosial kita sudah coba-coba melakukan improvisasi..ha.ha.ha.ha. :) Salam Nimai Sahur MJS --- On Thu, 8/12/10, MU Ginting <[email protected]> wrote: From: MU Ginting <[email protected]> Subject: [tanahkaro] pentingnya kontak dan sosial support To: [email protected], [email protected], [email protected] Date: Thursday, August 12, 2010, 3:05 AM Kamis, 12/08/2010 13:44 WIB Adrianus Duga Ibu & Anak Bakar Diri Bukan Sekadar Karena Miskin Ken Yunita – detikNews Jakarta - Khoir Umi Latifah diduga mengalami tekanan luar biasa sehingga memutuskan membakar diri dengan mengajak dua buah hatinya yang masih balita. Tekanan tersebut diduga bukan sekadar masalah ekonomi. "Dia tentu dalam kondisi yang dia merasa tidak dapat menanggulangi masalahnya (helplessness) sehingga memilih mati," kata kriminolog Adrianus Meliala saat berbincang dengan detikcom, Kamis (12/8/2010). Andrianus mengatakan, masalah yang terjadi pada ibu 25 tahun itu tentu bukan sekadar karena kemiskinan. Andrianus menilai, pasti ada pencetus yang menyebabkan ibu tersebut mengakhiri hidupnya dengan mengajak dua anaknya. "Orang miskin di Indonesia tidak kehilangan social support, mereka saling berbagi. Dan mereka juga guyup," katanya. "Mungkin dia sudah kehilangan social support itu. Dan saat itu dia menghadapi tekanan yang besar dan merasa tidak bisa keluar dari masalah, lalu memutuskan mati," lanjut pengajar di Universitas Indonesia (UI) itu. Apakah mungkin pencetusnya utang Rp 20 ribu? "Ya mungkin uang Rp 20 ribu besar buat dia, bisa saja itu. Tapi harus dicari tahu, sebenarnya dia kenapa," jawabnya. Menurut Andrianus, jika orang ingin bunuh diri, biasanya tidak bisa berpikir secara ekonomis termasuk memilih metode bunuh diri apa yang akan digunakan. Namun bunuh diri dengan membakar diri melengkapi penderitaan Khoir. "Membakar diri itu kan cara bunuh diri yang mematikan, itu menunjukkan lengkapnya penderitaannya, " katanya. Andrianus mengatakan, sebenarnya bunuh diri seseorang dapat dicegah jika lingkungannya memiliki kepekaan. Biasanya, seseorang bunuh diri, beberapa hari sebelumnya tidak berkontak dengan lingkungannya. "Dia tidak lagi berkontak dengan lingkungannya, entah itu sengaja memutus kontak atau memang terputus kontaknya. Dan bisa jadi lingkungannya cuek dengan ini," katanya. "Mungkin kalau lingkungannya tidak cuek, ibu itu merasa bebannya terbagi sehingga dia tidak bunuh diri," kata Andrianus. (ken/nrl)
