Seorang anggota parlemen membuat pernyataan yang tidak melalui proses kajian 
ilmiah, tiba-tiba di-blow up oleh media dan menjadi berita besar. Saya kira 
yang salah bukan hanya rUHUT tapi media. Isu seperti itu sesungguhnya siapa 
juga bisa ucapkan, termasuk anak kecil. Jadi, tidak sepantasnya ditempatkan 
pada halaman depan media. 

Hasil negatipnya kepada rakyat kebanyakan yang masih minim pengetahuan, media 
mewariskan image bahwa seorang anggota parlemen itu tak perlu mempunyai 
pengetahuan tinggi tapi bisa menjadi hebat. Ini sungguh keterlaluan. Mestinya, 
pesan yang disampaikan oleh media adalah kita tidak membutuhkan anggota 
parlemen seperti ini karena mempunyai pernyataan yang tidak berbobot, sehingga 
tidak layak terpilih pada pemilihan legislatif berikutnya. Rakyat tidak pantas 
membayar orang seperti rUHUT menjadi seorang anggota parlemen. 

Membangun negeri butuh orang-orang cerdas dan berpengetahuan tinggi pada semua 
lini, apa lagi anggota parlemen. Merekalah yang menentukan arah bangsa ke 
depan, ke arah maju atau mundur. Jangan lupa, biaya apa pun di Indonesia 
terlampau tinggi bila dibandingkan dengan pendapatan masyarakat, misalnya biaya 
sekolah, biaya rumah sakit, biaya transportasi, dll. Jadi, kita perlu 
orang-orang yang secara individu pun sanggup mengusulkan RUU inisiatif untuk 
mengatasi masalah yang sungguh tidak nyaman itu, bukan pintar kolusi mengelabui 
masyarakat.

Sentabi!

Bang KT

   
--- On Thu, 8/19/10, robinson g munthe <[email protected]> wrote:

From: robinson g munthe <[email protected]>
Subject: Re: [tanahkaro] SBY pasang tukang terompet
To: [email protected]
Date: Thursday, August 19, 2010, 9:29 AM







 



  


    
      
      
      Sebetulnya  buah pikiran  si Ruhut  seperti biasa kan  dangkal, pers yang 
bikin dia "lebih besar" dari semestinya.

RGM


--- On Wed, 8/18/10, MU Ginting <[email protected]> wrote:

From: MU Ginting <[email protected]>
Subject: [tanahkaro] SBY pasang tukang terompet
To: [email protected], [email protected], 
[email protected]
Date: Wednesday, August 18, 2010, 2:13 PM







 



    
      
      
      Kamis, 19/08/2010 03:31 WIB
Ruhut Hanya Peniup Terompet Orkestra Partai Demokrat
Ramadhian Fadillah – detikNews 
Jakarta - Ruhut Sitompul kerap mengeluarkan pernyataan yang mengundang 
kontroversi. Namun Ruhut dinilai tidak asal mengeluarkan pernyataan 
kontroversial, ada yang mengatur. Ibarat sebuah orkestra, Ruhut hanya peniup 
terompet.

"Partai Demokrat sebesar ini tentunya punya startegi. Seperti orkestra, ada 
terompet, saxophone, genderang dan ada dirigen," ujar pengamat politik Charta 
Politika, Yunarto Wijaya kepada detikcom, Rabu (18/8/2010).

Menurut Yunarto, semua pengatur orkestra ini adalah Sang Dirigen. Siapa lagi 
kalau bukan Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

"Kalau melihat kultur Partai Demokrat, tentunya dirigennya bukan sekelas ketua 
umum, tapi bergantung pada
 ketua dewan pembina," terang dia.

Bukti bahwa Ruhut sengaja dipasang untuk melempar isu-isu kontroversial yang 
merupakan test case di masyarakat, jelas terlihat. Ruhut tidak pernah mendapat 
sanksi atas berbagai ucapannya yang kontroversial. 

"Saya melihat ini testing PD melempar polemik. Lebih aman ini dikeluarkan 
public enemy, beban polemik ditanggung Ruhut dan tidak ditanggung PD, sehingga 
lebih ringan. Masyarakat menganggap Ruhut biasa mengeluarkan pernyataan 
kontroversi," tambahnya.

Sebelumnya Ruhut Sitompul mengusulkan untuk mengamandemen UUD 1945 tentang masa 
jabatan presiden, agar SBY bisa menjabat kembali di periode mendatang. Namun 
Ketua Umum PD, Anas Urbaningrum membantah usulan Ruhut ini merupakan usulan 
resmi partai.

Presiden SBY pun menegaskan dirinya menolak usulan Ruhut ini. SBY menegaskan 
masa jabatan presiden tidak perlu ditambah.

"Jadi apakah mungkin masa jabatan yang telah tepat, diubah? Maka semua
 sependapat untuk menolak dan menentang pikiran itu," ujar SBY di depan MPR, 
Rabu (18/8/2010).
(rdf/mei)


    
     



 











      

    
     

    
    


 



  






      

Kirim email ke