Inggris & Aussie Bantu Malaysia Lawan Indonesia
NILAH.COM, Jakarta - Satu hal yang perlu dipertimbangkan sebelum menyatakan perang melawan Malaysia adalah kekuatan aliansi internasional. Apabila Indonesia menyatakan perang terhadap Malaysia, maka Inggris dan Australia tak akan tinggal diam. Sebab Malaysia merupakan salah satu anggota negara persemakmuran di bawah komando Inggris dan sekutunya Australia. "Kalau perang pasti Inggris dan Australia akan bantu Malaysia, sementara negara-negara Islam belum tentu bantu Indonesia karena Malaysia juga negara berpenduduk Muslim. Posisi Indonesia terjepit," ujar pemerhati pertahanan Ade Daud Nasution kepada INILAH.COM Jumat (27/8). Kekuatan aliansi internasional sangatlah menentukan untuk bisa memenangi pertempuran. Sebab dalam pergaulan internasional saat ini tak ada negara yang hidup sendiri. "Indonesia hanya akan mengandalkan PBB sebagai pelindungnya, negara-negara Islam akan mengambil posisi netral. Harapan lain adalah Rusia dan China," ujar Ade. Sebagaimana diberitakan, hubungan Indonesia dan Malaysia makin memanas pasca aksi demonstrasi pelemparan kotoran manusia (tinja) ke pekarangan kantor Kedubes Malaysia di Jakarta, Senin (23/8). Menteri Luar Negeri Malaysia Datuk Sri Anifah Aman mengeluarkan pernyataan keras terhadap sikap Indonesia. "Indonesia harus melakukan sesuatu guna memastikan unjuk rasa bisa dikendalikan, sebelum Malaysia kehilangan kesabaran." [mah] http://www.inilah.com/news/read/politik/2010/08/27/775341/inggris-dan-aussie-bantu-malaysia-lawan-indonesia/ -- KOMENTAR: "Indonesia hanya akan mengandalkan PBB sebagai pelindungnya, negara-negara Islam akan mengambil posisi netral. Harapan lain adalah Rusia dan China," ujar Ade. Jika terjadi perang maka adalah satu kepastian bahwa Indonesia hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri. Dari contoh Palestina, jelas PBB tidak bisa mengubah posisi atau nasib Palestina, karena di PBB juga ada dominasi yang mengendalikan. PBB dalam sejarahnya selama terbentuk belum pernah netral, tetapi telah bisa berfungsi sebagai alat/tempat adu argumentasi, dan pemenangnya selalu dilapangan bukan di sidang. Perang sekarang adalah perang menentang ketidakadilan yang pada dasarnya diciptakan atau dipaksakan oleh pencari keuntungan global (penguasa kapital global). Jika terjadi perang antara Indonesia dan Malaysia tidaklah sulit mencari siapa yang diuntungkan, tidak tergantung siapa kalah/menang antara kedua negeri. Pertama pemegang saham pabrik senjata, selebihnya peminjam duit tipe IMF, Bank Dunia + semua kolaboratornya di Indonesia/Malaysia, begitu juga semua perusahaan Penambang Asing yang semakin aman (pemerintah dan rakyat tak akan sempat ada perhatian kesana) dan semakin banyak untung, dan lewat bank dunia dipinjamkan lagi ke negara untuk beli senjata. Negeri berperang semakin dijepit utang, dan semakin gampang dikendalikan. Secara fisik tidaklah terlalu berlebihan kalau Malaysia tidak akan mungkin pernah mengalahkan Indonesia, apalagi kalau perang berjangka panjang. Tetapi semakin panjang perangnya semakin banyak pula keuntungan bagi 'pengusaha internasional' tadi. Bahwa berbagai negeri bertetangga sering 'diatur' untuk berperang adalah trend dunia segala zaman. Siapa atau kepentingan apa dibelakangnya, itulah agaknya yang membedakan tiap kejadian atau tiap zaman. Perang era sekarang ini sudah kelihatan lebih jelas, terlebih kalau ditinjau dari kontradiksi pokok dunia sekarang ialah perjuangan menentang ketidakadilan. Perjuangan ini adalah perjuangan bersama rakyat Malaysia dan Indonesia. Tetapi laba besar tadi . . . duit berlimpah, dan bisa digunakan untuk apa saja termasuk membeli kolaborator dan terpenting seterusnya mengendalikan satu negara. MUG
