Oleh : Hari Murti, S.Sos      Mungkin
 bukan hanya saya, sebagian besar warga Sumatera utara  mungkin tidak 
tahu kalau Gunung Sinabung adalah gunung yang aktif. Sebab itulah  
letusan Gunung Sinabung begitu mengejutkan.

 Untungnya, meskipun peningkatan  aktivitas gunung 
ini cukup ekstrem dari status normal kepada awas dalam hitungan  jam, 
tak ada korban jiwa yang ditimbulkan. Seolah Gunung Sinabung hanya 
memberi  sinyal kecil bahwa ia masih ada dan patut diperhitungkan dalam 
hiruk pikuk  masalah lingkungan kita.      Gunung
 Sinabung terakhir meletus pada sekitar tahun 1600-an.  Tidak seperti 
gunung-gunung lainnya di Indonesia yang kerap menunjukkan  aktifitasnya,
 gunung ini sekitar 400 tahun lebih mirip sebuah bukit yang besar  dan 
tinggi. Itulah sebabnya sosialisasi dan pengawasan Gunung Sinabung 
begitu  minim. Seolah gunung ini seperti mengetahui sisi lemah kita 
dalam hal  kewaspadaan, ia memberikan sinyal kecil dengan letusannya 
itu.       Pengawasan dan sosialisasi tentang 
aktifitas Gunung Sinabung  harus ditingkatkan sejak saat ini. Ia harus 
diwaspadai sama dengan gunung-gunung  lainnya di Indonesia yang aktif, 
seperti Gunung Semeru, Merapi, atau Galunggung.  Sebab, lokasi gunung 
ini adalah di Berastagi yang merupakan sentra produksi  sayuran dan 
pariwisata di Sumatera Utara. Artinya, kondisi Gunung Sinabung  
berkaitan dengan aspek pangan dan ekonomi Sumatera Utara.       Harus
 diakui bahwa adanya gunung aktif di daerah agrowisata  seperti pisau 
bermata dua. Ia bisa membuat perekonomian melambat denyutnya  karena 
faktor keselamatan. Namun, ia bisa menjadi daya tarik tersendiri untuk  
warga Sumatera Utara yang mayoritas belum pernah melihat gunung berapi.       
Maka
 dari itu, perlu sosialisasi tentang gunung ini lebih aktif  lagi agar 
efek negatif dari letusannya bagi perekonomian dapat diminimalisir.  
Sejujurnya, saya pribadi tidak hanya melihat aspek bahaya dari gunung 
ini.  Letusan ini memang mengejutkan, tetapi membuat saya merasa bahwa 
lingkungan  tempat kita tinggal, Sumatera Utara, sangat lengkap. Ada 
danau terbesar di  dunia, tanah yang datar dan bergelombang, sentra 
produksi agrowisata, pertanian  tanaman keras, musim yang normal, dan 
sosialitas yang lebih kondusif.      Tidak perlu 
menyalahkan siapapun atas minimnya sosialisasi dan  pengawasan. Empat 
abad vakum sebagai gunung berapi menjadi toleransi besar atas  
pengawasan dan sosialisasi yang minim itu. Apalagi jika kita ingat bahwa
  pemerintah Indonesia ada dan baru efektif sekitar 65 tahun, ditambah 
lagi dengan  banyaknya persoalan yang dihadapi bangsa. Maka, akan sangat
 baik jika pengawasan  dan sosialisasi difokuskan pada persoalan 
pascaletusan. Persoalan kebutuhan  hidup warga, evakuasi, kesehatan 
anak-anak, dan kerugian sektor agrowisata.       Justru
 sikap kita yang selalu mengkritik pemerintah kali ini  akan semakin 
memperkeruh suasana. Efek letusan masih setara dengan banjir  tahunan, 
tetapi bisa menjadi letusan yang besar jika dibesar-besarkan. Perlu  
kedewasaan dan kesejukan dalam menyiarkan informasi tentang letusan 
gunung ini.  Akan lebih baik jika aspek kebaruan dan keunikan dari 
gunung ini bagi masyarakat  sekitar lebih ditonjolkan. Sebab, masyarakat
 Sumut lebih kenal dengan  gunung-gunung aktif di Pulau Jawa dibanding 
di sekitarnya sendiri.      Harga Sayuran      Bisa
 dipastikan bahwa letusan gunung yang momentumnya sama  dengan 
pelaksanaan puasa dan lebaran akan mempengaruhi harga kebutuhan pokok di
  Sumatera Utara. Maka, sebaiknya pemerintah segera mencari jalan keluar
 agar  dampak ekonominya tidak terlalu besar. Di samping penanganan para
 pengungsi,  pemerintah punya tugas yaitu memastikan bahwa pasokan 
sayur-mayur dan harganya  tidak terlalu terganggu.      Sektor
 agrowisata Berastagi yang terkena dampak negatifnya  memang tidak bisa 
dihindarkan. Namun, sektor ini kurang berhubungan dengan  kebutuhan 
pokok masyarakat luas. Artinya, pemerintah bisa lebih fokus pada  
penanganan pengungsi dan kebutuhan pangan masyarakat. Misalnya, dengan  
memberikan bantuan bagi petani yang lahannya terkena dampak letusan. 
Bisa juga  dengan menjamin pasokan pangan sayur tetap lancar pada bulan 
puasa dan menjelang  lebaran ini. Pendek kata, letusan ini harus 
ditangani secara tenang, moderat,  dan terprogram.       Harus
 diakui bahwa letusan gunung terabaikan dalam  variabel-variabel ekonomi
 dan pangan Sumatera Utara. Ini merupakan fenomena baru  yang dampak 
positif dan negatifnya masih sekedar diraba-raba bentuknya. Tapi  
yakinlah, ada berkah Tuhan di balik letusan gunung ini. Mungkin  
material-material letusan itu memang unsur yang dibutuhkan untuk tanaman
 pangan,  khususnya sayur-sayuran.      Oleh 
karena itu, faktor pengawasan dan sosialisasi harus fokus  kepada tiga 
aspek. Pertama, dampak negatif dari letusan bagi kehidupan dan  
pertanian warga di lokasi. Mereka harus mendapat bantuan materil dan 
informasi.  Bantuan materil terutama dalam bentuk penyelamatan harta 
benda mereka yang tak  sempat dibawa mengungsi. Bisa juga dalam bentuk 
pengamanan harta benda mereka  karena menurut informasi yang beredar, 
letusan gunung belum sampai merusak  rumah-rumah penduduk. Ini lebih 
baik dilakukan karena merupakan tindakan  pencegahan kerugian.       Selain
 itu, bantuan informasi tentang kondisi terkini gunung  secara intensif.
 Tak dapat dihindari bahwa letusan ini menyebabkan trauma.  Mungkin, 
lebih trauma dibanding gempa bumi karena gempa bumi bukan lagi hal baru 
 bagi kita. Letusan gunung menakutkan dan membuat warga di sekitar 
mungkin akan  sulit tidur jika sudah kembali nanti.       Informasi
 harus valid, dalam arti bisa dipercaya kebenarannya.  Bagaimanapun, 
sesuatu yang mendadak dan baru itu belum diimbangi oleh SDM yang  
seimbang. Masyarakat di sekitar tahu bahwa SDM yang tersedia masih kalah
  dibanding dengan daerah lain yang memang selalu terancam oleh letusan 
gunung.  Maka, informasi itu harus digali oleh tenaga-tenaga ahli dan 
disebarkan secara  intensif.       Aspek yang 
kedua adalah penanganan pengungsi, terutama  persoalan kesehatan, 
pangan, dan trauma anak-anak di pengungsian. Warga yang  dievakuasi 
sangat mungkin terserang stres atau penyakit-penyakit lain yang biasa  
menyerang dalam situasi darurat. Obat-obatan dan bantuan pakaian adalah 
mutlak  harus ada. Ketersediaan air bersih juga sering menjadi masalah 
setiap ada  bencana.      Anak-anak bisa sangat 
trauma karena melihat keangkeran dari  gunung yang selama ini mereka 
kenal sebagai gundukan tinggi yang indah dan  hijau. Maka dari itu, 
mereka perlu disembuhkan dari trauma itu, tanpa membuat  mereka lupa 
pentingnya kewaspadaan sejak saat ini. Mereka perlu dikenalkan  dengan 
keramahan gunung itu selama ini, yang menjadi habitat asli lingkungan  
setempat. Bahwa Gunung Sinabung adalah sahabat mulai mereka kecil dan 
harus  diwaspadai kelak mereka besar jika menetap di tanah kelahirannya 
itu. Mainan  anak-anak adalah hal kecil yang bermanfaat besar bagi 
anak-anak untuk  menghilangkan trauma mereka.      Dalam
 dua aspek yang pertama ini, dibutuhkan gotong- royong  oleh masyarakat 
Sumatera Utara. Posisi pemerintah adalah sebagai lokomotif dan  
koordinator bantuan. Pemerintah harus dengan sungguh-sungguh menyiapkan 
segala  perangkat untuk menangani gunung ini sejak sejarah dan masa-masa
 yang akan  datang. Sebab, pemerintah Sumut belum pernah dan belum 
berpengalaman dalam  menangani persoalan gunung berapi. Baru kali 
pertama ini.      Aspek yang ketiga adalah tidak 
membawa masalah ini ke ranah  politik lagi. Pasti letusan gunung yang 
bersamaan dengan puasa dan lebaran akan  membuat harga kebutuhan semakin
 mahal. Selain mahal, pasokan pasti terganggu.  Ini cukup menyulitkan 
dalam situasi lebaran nantinya.       Minimya 
sosialisasi dari otoritas tentang gunung selama ini  masih bisa 
ditoleransi oleh letusan yang tidak banyak menimbulkan kerugian.  Jadi, 
jangan lagi dipolitisir. Pemerintah masih bisa disalahkan karena hal 
ini,  tetapi kasihan rakyat dan pengungsi itu, mereka malah dijadikan 
komoditas  politik lokal maupun nasional.       Kenaikan
 harga-harga sayuran harus ditangani cepat oleh  pemerintah jika memang 
letusan berdampak signifikan pada harga-harga tersebut.  Sebab, jika 
sudah masuk kepada persoalan kenaikan harga, politisasi biasanya tak  
terhindarkan lagi. Jika pun tak bisa menghindari aroma politis, 
setidaknya  jangan berlama-lama karena Sumut punya "momongan" baru dalam
 masalah lingkungan  dan bencana ini.      "Momongan"
 baru ini akan semakin membesar pada waktu-waktu yang  akan datang. 
Maka, ia harus diperlakukan secara intensif dan penuh kewaspadaan,  
jangan sampai ia menjadi tidak terkendali menjadi momok bagi keselamatan
 warga  setempat dan perekonomian.      Sektor Agrowisata      Agrowisata
 adalah sektor andalan daerah Berastagi selama ini.  Dipastikan, masalah
 letusan ini akan memukul sektor ini. Tapi, ada momentum  besar untuk 
mengimbangi masalah ini, yaitu lebaran. Daerah-daerah wisata adalah  
magnet bagi wisatawan pada saat-saat libur panjang. Jadi, lebaran kali 
ini  adalah sekaligus indikator bagi dampak negatif letusan ini 
nantinya.      Terpukul atau tidaknya sektor 
pariwisata akan sangat terlihat  dari kunjungan wisatawan nantinya. Oleh
 karena itu, otoritas setempat harus jeli  melihat hal ini, apa yang 
harus dilakukan nantinya. Jangan lagi terlambat dalam  mengantisipasi 
berbagai efek negatifnya. Justru, adanya gunung berapi adalah  potensi 
wisata yang sangat besar karena, jujur saja, saya sendiri pun belum  
pernah melihat secara langsung gunung berapi yang sedang beraksi.      Kini,
 gunung berapi itu ada di dekat kita. Menjadi anugerah  atau musibah 
adalah sepenuhnya tergantung kepada kita sendiri dalam  
memperlakukannya. Saya secara pribadi mengatakan bahwa ini berkah karena
 Sumut  adalah provinsi yang lengkap dari sisi alamnya. Namun, berkah 
bisa jadi musibah  jika lupa mensyukuri nikmat-Nya itu.       Akhir
 kata, selamat karena kita telah mempunyai gunung berapi  yang 
benar-benar berapi. Perlu diketahui bahwa di dalam samudera pun ada 
gunung  berapi. Artinya, tidak ada yang perlu ditakutkan, hanya 
diwaspadai. ***
Sumber: 
http://www.analisadaily.com/index.php?option=com_content&view=article&id=67493:gunung-sinabung-anugerah-atau-musibah-&catid=78:umum&Itemid=139


Salam Mejuah Juah

Karo Cyber Community



      

Kirim email ke