Respons Strategis atas Harga Pangan
Kamis, 2 September 2010 | 03:35 WIB
Oleh Agus Pakpahan
Apa yang harus dilakukan menghadapi kelangkaan pangan dan kenaikan harga pangan
akhir-akhir ini?
Apa pula yang harus dilakukan untuk menghadapi perubahan iklim global yang,
selain membingungkan petani memilih pola usaha, akan menenggelamkan banyak
pulau
kita? Di masa nanti, kedua soal itu kian kompleks: selain karena jumlah
penduduk
yang besar (237,5 juta) dan terus meningkat (sekitar 3,5 juta jiwa per tahun),
juga oleh ketimpangan persebaran penduduk antarpulau serta antara desa dan kota.
Berbeda dengan negara dalam sistem kontinen, struktur geografis Indonesia
sebagai benua maritim perlu konsep, kebijaksanaan, dan strategi pengembangan
pangan yang khas. Demikian pula setiap upaya mengatasi perubahan iklim global.
Revolusi hijau
Pada Repelita I ditegaskan, pembangunan pertanian bertujuan mencapai swasembada
pangan (baca: beras). Caranya terencana dan terkomando melalui kebijakan bimas.
Teknologi yang dipakai, paket revolusi hijau. Strateginya intensifikasi:
meningkatkan hasil panen per hektar dengan pupuk kimia, benih unggul,
pestisida,
irigasi, dan ini disatupaketkan dengan penyuluhan dan pengawasan pelaksanaannya
di lapangan. Petani padi jadi instrumen massal, produksi padi meningkat, dan
swasembada beras dicapai pada 1984.
Penggunaan teknologi revolusi hijau ini sudah menunjukkan tanda-tanda
berlakunya
hukum keberkurangan hasil. Tingginya tingkat kemiskinan atau banyaknya warga
berpendapatan rendah (50-60 persen atau lebih dari total pengeluaran untuk beli
pangan) berimplikasi pada harga pangan, tidak boleh tidak, harus dapat mereka
jangkau. Jika tidak, terjadi keresahan atau kelaparan. Di sinilah letak
dilemanya! Kapasitas produksi terbatas, pertumbuhan produktivitas menurun, dan
petani padi umumnya condong sebagai petani gurem. Di pihak lain, penduduk yang
membutuhkan pangan meningkat dengan daya beli yang pada umumnya juga lemah.
Selain itu, teknologi revolusi hijau—yang memasukkan bahan kimia ke mata rantai
pangan dalam ekosistem, yang jumlah serta intensitasnya terus meningkat— telah
menyebabkan daya asimilasi lingkungan untuk memulihkan dirinya pada kondisi
normal tidak dapat berlangsung. Kerusakan lingkungan terjadi. Perkembangannya
makin mengkhawatirkan. Akibatnya, kita perlu memulainya kembali dari awal:
restorasi kesuburan tanah dan konservasi tanah dan air di wilayah daerah aliran
sungai hulu. Jadi, melanjutkan cara yang sama untuk menghasilkan kinerja yang
berbeda-nyata bukanlah cara cerdas dan arif.
Cara baru
Kelangkaan adalah fenomena normal selama kita berada di alam fana ini. Yang
tidak normal adalah apabila sumber daya yang sebelumnya melimpah kemudian
menjadi langka, tetapi tingkat kesejahteraan petani tidak berubah secara nyata.
Ukuran kesejahteraan petani yang paling mudah ialah kapasitas produksi yang
dimilikinya, sementara kapasitas produksi yang paling penting buat petani tak
lain tak bukan adalah luas lahan yang dikelolanya.
Luas lahan mayoritas petani di AS mencapai 200 ha. Di Thailand 4-5 ha.
Indonesia
sebaliknya. Maka, dalam membangun kembali pertanian pangan dan perdesaan, kita
perlu orientasi baru: beralih dari luas lahan per petani ke total volume/bobot
hasil pertanian pangan yang dapat ditingkatkan nilai tambahnya lewat
industrialisasi perdesaan atau pertanian.
Sebagai gambaran, kita fokus pada 66 juta ton gabah plus 66 juta ton jerami per
tahun. Gabah dan jerami ini dapat diolah jadi beragam produk bernilai tinggi.
BUMN bidang agro dan bidang terkait didorong berkonsentrasi pada bidang pangan
dengan mengembangkan model dan organisasi kerja yang bisa memutus segala mata
rantai transaksi yang merugikan petani. BUMN juga diharapkan melakukan
investasi
untuk menciptakan nilai tambah dari semua manfaat dari pertanian pangan.
BUMN ini juga memfasilitasi terbentuknya organisasi usaha petani dalam wadah
badan usaha milik petani (BUMP). Dengan begitu, petani bisa bermitra secara
jangka panjang dengan BUMN. Dengan mengembangkan unit usaha permanen BUMP
seluas
10.000 ha per unit, di Jawa saja lebih kurang akan berdiri sekitar 400 BUMP.
Nilai investasi per BUMP sekitar Rp 400 miliar per 10.000 ha adalah untuk
membangun lahan sawah yang teknologinya lebih baik, pabrik pengolahan beras
modern dengan kapasitas 400 ton per hari, pabrik pengolahan tepung menir,
pembangkit listrik tenaga sekam dan jerami 3-5 MW, serta pabrik pupuk organik.
Dapat dibayangkan, ekonomi di Jawa akan bangkit dengan investasi sekitar Rp 160
triliun dan output sekitar 10 kali lipat. Kehidupan perdesaan akan sangat
bersemarak dan bergairah.
Agus Pakpahan Pengamat Ekonomi Pangan
PANGAN DUNIA
Harga Naik 5 Persen pada Bulan Agustus
Kamis, 2 September 2010 | 03:08 WIB
Kenaikan harga gandum membuat harga pangan internasional naik 5 persen pada
Agustus. Kenaikan tersebut merupakan kenaikan bulanan tertinggi dalam 10 bulan
terakhir. Selain itu, tingginya harga gandum akan membuat perdagangan gandum
global turun sebesar 5,5 persen pada tahun 2011.
Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) mengumumkan di
London, Rabu (1/9), bahwa indeks pangan FAO mencapai rata-rata 176 poin pada
Agustus, naik hampir 9 poin dibandingkan dengan Juli. Kenaikan itu merupakan
yang tertinggi sejak September 2008, tetapi masih 38 persen di bawah puncak
yang
terjadi pada Juni 2008.
Kenaikan indeks tersebut mencerminkan kenaikan harga gandum di pasar
internasional setelah terjadi kekeringan di Laut Hitam, yang menurunkan
produksi
dari kawasan tersebut. Harga gandum naik mencapai titik tertinggi dalam dua
tahun terakhir pada Agustus lalu setelah Rusia, pengekspor gandum terbesar
ketiga di dunia, membatasi ekspor hingga akhir tahun ini.
FAO menekankan, kenaikan harga ini tidak akan seperti yang pernah terjadi tahun
2007-2008 ketika kenaikan harga pangan memicu kerusuhan di mana-mana.
Produksi gandum dunia diperkirakan turun 5 persen tahun ini menjadi 646 juta
ton. Alasan utamanya adalah karena penurunan produksi di Rusia. Karena hal
tersebut pula FAO menurunkan perkiraan rasio pasokan terhadap pemakaian gandum
pada 2010-2011 menjadi 27 persen turun 3 persen dari musim sebelumnya, tetapi
masih lebih tinggi 5 persen dibandingkan dengan rasio terendah yang terendah
selama 30 tahun pada 2007-2008.
Perdagangan gandum
FAO juga memperkirakan perdagangan gandum akan turun 5,5 persen hingga Juni
2011
karena tingginya harga gandum akan memangkas permintaan gandum. Jika terjadi,
penurunan ini akan menjadi yang kedua dalam dua tahun berturut-turut.
Badan pangan dunia itu menurunkan perkiraan perdagangan gandum untuk 2010-2011
menjadi 199 juta ton dari perkiraan 122 juta ton yang dipaparkan bulan lalu.
Tahun lalu perdagangan gandum mencapai 126 juta ton.
”Gandum saat ini langka dan amat mahal. Inilah yang menyebabkan permintaan
jagung naik,” ujar Abdolreza Abbasian, Sekretaris untuk Intergovernmental Group
for Grains, lembaga di bawah FAO. Menurut perkiraan terakhir FAO, perdagangan
biji-bijian global akan naik 4,6 persen tahun ini menjadi 113 juta ton, masih
lebih rendah dibandingkan dengan tahun 2007-2008 yang sebesar 131 juta ton.
Abbasian mengatakan, walaupun situasi di pasar gandum sedang ketat, produksi
dapat meningkat tahun depan. Alasannya, harga gandum menarik sehingga akan
banyak yang menanamnya.
Sementara panen di Rusia yang merupakan negara pengekspor gandum ketiga
terbesar
di dunia diperkirakan turun 5 juta ton menjadi 43 juta ton. Pada perkiraan FAO
yang dikeluarkan awal Agustus, FAO juga memperkirakan kenaikan ekspor gandum
oleh AS hingga Mei 2011 sebesar 10 juta ton menjadi 33 juta ton. Sementara pada
perkiraan Juni lalu FAO memprediksikan hanya ada ekspor sebanyak 23 juta ton.
Pertambahan volume ekspor ini diperkirakan karena AS akan mengambil alih ekspor
yang tadinya berasal dari Rusia.
”Gandum akan langka, tetapi masih mencukupi kebutuhan,” ujar Abbasian. Dia
mengatakan, simpanan gandum yang cukup banyak di AS akan membantu berkurangnya
pasokan dari Laut Hitam. AS diperkirakan akan memproduksi lebih dari 61 juta
ton
gandum dan cadangannya tetap sebesar 25 juta ton pada akhir musim, 31 Mei 2011.
Abbasian juga mengkhawatirkan Rusia justru akan berubah menjadi importir besar
gandum. Hujan di Rusia di kawasan yang menanam gandum mungkin akan meningkatkan
produksi pada musim tanam di musim dingin. Hasil produksi musim dingin ini
sangat penting bagi panen tahun depan.(AFP/Reuters/joe