Rabu, 08/09/2010 21:51 WIB Konflik RI-Malaysia Ada Pihak Ketiga Pancing Indonesia-Malaysia Perang M. Rizal – detikNews Jakarta - Sebagai tetangga, hubungan Indonesia dan Malaysia memang sering naik turun, bahkan sering tegang. Namun, diharapkan Indonesia dan Malaysia tidak terpancing oleh pihak ketiga, yang mengambil keuntungan, atas konflik yang lebih dalam seperti open fire atau perang. Sebab, pihak ketiga secara terus menerus melakukan test case kepada Indonesia dan negara tetangga untuk terlibat konflik lebih jauh.
"Ada pihak ketiga yang ingin RI-Malaysia dibenturkan. Indikasi ini sudah ada, mereka ingin mencari keuntungan secara ekonomi yang akan diambil. Pihak ketiga ini memang tak muncul dipermukaan, tapi kalau terjadi benturan, mereka pasti tertawa," kata pengamat intelijen, Wawan H Purwanto kepada wartawan di RM Suharti, Jl Hasyim Ashari, Sabang, Jakarta Pusat, Rabu (8/9/2010). Namun Wawan belum mau mengungkapkan siapa orang atau kelompok bahkan negara mana yang dianggap sebagai pihak ketiga yang memicu serta mengambil keuntungan ketegangan hubungan Indonesia-Malaysia itu. "Nanti akan terkuak sendiri. Nanti akan nampak bahwa ini ada upaya-upaya untuk membenturkan kedua negara. Presiden SBY pasti juga akan mengungkapkan siapa yang main dibalik konflik ini," jelasnya. Tentunya, lanjut Wawan, pihak yang menciptakan untuk membenturkan ini akan terus melakukan test case secara terus menerus dan konsisten. "Tidak hanya dengan Malaysia, tapi dengan negara tetangga lainnya. Contoh memainkan kasus TKI, pemukulan pelatih karate, kasus perbatasan dan lainnya. Memang upaya untuk membenturkan ini upaya gerakan bawah tanah yang tak ada hubungan dengan upaya diplomasi antar pemerintah. Ini semestinya peran yang lainnya untuk mengcounter gerakan bawah tanah ini agar kita jangan sampai terjebak dan masuk skenario mereka. Masyarakat supaya paham dan waspada agar tak terpancing," papar Wawan. Wawan menambahkan, Presiden SBY memang telah meminta agar pemicu konflik ini diusut tuntas, yaitu adanya tindakan yang bisa diambil, termasuk di Malaysia. "Jadi kita tidak terbawa secara emosional, karena kesalahan yang terjadi itu personal dan kesalahan prosedur. Makanya, masih perlu lewat diplomasi. Tindakan keras bisa diambil kalau diplomasi itu gagal. Sampai saat ini diplomasi masih terus berjalan," terangnya. Makanya, selama diplomasi antar pemerintah berjalan, semua kalangan bisa menahan diri dan tak bersikap yang kontraproduktif. Apalagi perseteruan ini dimanfaatkan pihak ketiga. "Nah kita jangan terjebak ke situ. Kalau kita tak terpancing, kita aman. Tapi kalau terpancing dan terpicu open fire (kontak tembak) kita akan rugi sendiri," pungkas Wawan seraya mengatakan pihak ketiga ini merupakan kelompok baik dalam dan luar negeri yang memang memiliki power atau kekuatan yang tidak sembarangan. (zal/mok) -- KOMENTAR Tidaklah sangat susah mencari pihak ke 3 yang menginginkan perang antara negara-negara bertetangga. Juga tidak rahasia, cukut hanya ditinjau dari penilaian politik internasional, pengalaman lalu dan melihat perkembangan dunia (politik). Perang lokal begini yang sangat diuntungkan ialah: 1.fabrik senjata dan pemilik sahamnya, juga tim pengembang persenjataan. 2. pemilik utang Indonesia, tipe IMF, Bank Dunia, semua peminjam lainnya dengan semua antek-anteknya (kolaboratornya) di Indonesia atau di Malaysia. Utang/pinjaman harus ditambah, bunganya semakin banyak masuk kantung orang asing. Semakin banyak utang semakin tergantung, dan akhirnya tak berkutik, sepenuhnya dibawah kendali peminjam uang, dalam segala hal! 3. pengeruk pertambangan (SDA) yang jelas semakin aman, kontrak bisa diperpanjang terus tanpa diganggu gugat karena kesibukan perang. Hutan-hutan semakin digundul habis, perlu duit dan tidak akan ada yang sempat nggubris. Duit dari SDA ini masuk IMF/Bank Dunia disalurkan lagi jadi utang atau pinjaman baru. Inilah antara lain yang terutama, dan ini bukan rahasia yang butuh mata-mata hebat atau inteligensi hebat. Semua ini dalam rangka menuju kekuasaan baru dunia dibawah tangan segelintir. Tetapi segelintir ini tidak bisa ditunjuk, karena ini masih dalam fase ’trend’. Maka apapun profokasinya, kita anggap saja itu permainan anak-anak tapi serius. Dan kita jalankan terus kerjaan kita, salah satu terpenting mengurangi utang, menyetop pengerukan SDA, menghindari dijadikan pasar barang-barang dunia dengan mengatur sendiri peraturan import (jangan dengarkan nasihat IMF; Bank Dunia dll), gasak terus koruptor karena korupsi adalah salah satu taktik penguasa segelintir tadi untuk mengacau dan memecah negara dari dalam, divide and rule! MUG --
