On Wed, 2009-02-11 at 10:29 +0700, Masim "Vavai" Sugianto wrote:
> Sudah jadi expert di Linux ? Wah, pasti sudah lupa masa-masa menjadi newbie 
> :-)
> 
> Teman-teman yang melihat saya dengan nyaman dan tenteram menggunakan
> Linux sering berkomentar bahwa, "Enak ya kamu, kerjanya bisa
> menggunakan Linux. Kelihatannya nyaman…"
> 
> Hehehe, nggak tahu dia kalau saya seperti halnya yang lain awalnya
> sempat gege rogo rigi alis grogi pakai Linux. Bukan hanya grogi, saya
> malah sebal dan sewot menggunakan Linux.
> 
> Seperti yang saya tulis disini, saya mengenal Linux sejak tahun 1999,
> namun secara penuh menggunakan Linux untuk kegiatan berkomputasi
> sehari-hari sejak tahun 2005-2006. Periode tahun 1999-2005 adalah masa
> rindu dendam saya pada Linux. Apa saja yang membuat saya sebal pada
> Linux dan apa saja workaround terkait dengan kesebalan saya itu,
> berikut adalah listnya :
> 
> http://vavai.com/blog/v2/2009/02/11/hal-hal-yang-menyebalkan-saat-mula-pertama-menggunakan-linux/
> 
> -- 
> Best Regards,
> 
> Masim "Vavai" Sugianto
> /************************************************************/
> Blog (ID)         : http://www.vavai.com/blog
> Blog (EN)        : http://www.vavai.net
> Community      : http://www.opensuse.or.id
> Commercial     : http://toko.vavai.biz
> /************************************************************/
> 

Aduh, senangnya kalo udah expert di linux. Kapan yach saya bisa expert
di linux?

Saya kenal linux juga tahun 1999 pas baca artikel di majalah Mikrodata
(kenapa yach majalah ini koq tiba2 menghilang?). Tapi waktu itu pas di
surabaya, sulit banget nemuin si pinguin. Udah keluar-masuk toko
komputer se-surabaya termasuk yg di THR (sekarang jadi Hi-Tech Mall),
gak ada yg jual. Baru dapat pas acara pameran komputer di WTC tahun
2003.

Sebenarnya waktu itu nemu 2 distro, SUSELinux 6.0 dan Red Hat 7.0.
Berhubung duitnya "cekak", saya pilih yang Red Hat 7.0, karena saya
pikir versi Red Hat lebih tinggi dari SUSE, jadi lebih canggih lah... :)
(padahal waktu itu udah muncul RedHat 8.0)

Dengan berbekal buku "Seri Penuntun Praktis Linux RedHat" karangan Onno
W.Purbo dan Akhmad Daniel Sembiring yang saya beli awal tahun 2001 (ini
juga yang menjadi salah satu alasan kenapa saya pilih distro RedHat),
akhirnya berhasil juga instal linux dual OS dengan selamat.

Dan saya langsung terkesima dengan tampilan GUI KDE-nya yang menawan
(padahal baru versi 2.x -> benar2 masih "ndeso" bila dibanding
sekarang). Apalagi kegiatan berkomputer saya sehari2 udah bisa dilayani
oleh pinguin dengan baik. Mau browsing pakai konqueror, mau kirim email
pakai Kmail, mau nonton film vcd pakai MPlayer, mau nyetel mp3 pakai
xmms, mau ngetik ada KOffice. Namun, tetap aja pakai dual OS sampai
sekarang karena orang seisi rumah pada protes kalau cuma ada pinguin
doang. Cita-cita sih pingin punya kompi sendiri yang cuma dihuni pinguin
doang. Kayaknya si pinguin juga bakalan oke2 aja tinggal di tempat yang
tidak ber-"jendela".

Masa 1999-2003 adalah masa-masa yg menyedihkan. Karena saya cuma bisa
ngebayangin aja bagaimana rupa si linux ini lewat buku2 linux yg saya
baca (yg juga jarang ada yg jual) tanpa bisa merasakan sendiri secara
langsung, bahkan pernah sampai kebawa mimpi saya menggunakan linux. Cari
info tentang linux juga gak semudah seperti sekarang (atau karena saya
aja yg bodoh?)

Namun sampai sekarang saya koq masih merasa newbie aja yach walau udah
pakai linux 6 tahunan. Masih sering buka buku/majalah linux kalau ada
masalah. Cuma untuk instal linux aja yg udah gak "open book" (kan
tinggal baca wizard-nya aja....heheheee.....)


:)


-- 
FAQ milis di http://wiki.linux.or.id/FAQ_milis_tanya-jawab
Unsubscribe: kirim email ke [email protected]
Arsip dan info milis selengkapnya di http://linux.or.id/milis

Kirim email ke