Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu'alaikum wr.wb.
[3/3] Mencari firqah yang benar ......
Keliru Mengartikannya....
"Sebenarnya angku", sambung Pak Cik, " termasuk golongan yang mana?"
Saya menjawab, bahwa saya adalah termasuk yang diasingkan bahkan yang
dikeluarkan dari Islam oleh mayoritas mainstream Islam itu. Maunya
mereka, yang banyaklah yang benar, sementara yang salah harus yang satu
saja. Nah, keputusan mereka, sekalipun menurut mereka hebat karena
telah didukung oleh lebih 140 orang delegasi yang mewakili Dewan-Dewan
Dakwah Internasional, jelas bertolak belakang dengan apa yang
dinubuwatkan oleh junjungan kita Rasulullah SAW. Keputusan mereka itu
sebenarnya "telah membuka" tabir rahasia Hadits ".......walladzi nafsu
muhammadin biyadihi lataftariquuna ummatii 'ala tsalatsin wa sab'uunaa
finnari".
Pak Cik saya ini cepat menyambung: "Tapi yang satu golongan itu kan
aljama'ah. Apa arti aljama'ah menurut angku?" "Benar", jawab saya ,
yang satu golongan itu adalah al-jama'ah. Banyak orang sering keliru
mengartikan arti dari jama'ah dan mereka cenderung mengartikannya bahwa
aljama'ah sebagai orang-orang Islam yang banyak. Malah ada yang
mengartikan jama'ah sebagai anggota majlis taklim, misalnya. Kata
aljama'ah yang dimaksud oleh Rasulullah SAW bukan hanya kumpulan orang-
orang Islam, banyak atau sedikit tidaklah jadi soal , melainkan
kumpulan orang-orang Islam yang mempunyai Khalifah dengan syaratnya
khilafatnya mestilah " 'ala minhajin nubuwah", khilafat yang mengikuti
kenabian. Bukan hanya sekedar menamakan diri sebagai khalifah atau
dianggap khalifah oleh para pengikutnya. Berapa firqahkah diantara
firqah-firqah yang banyak yang memakai sistim khilafat 'ala minhajin
nubuwah? Silakan cari oleh Pak Cik . Yang ada memakai sistim itu,
cuma satu...
"Menurut analisa saya tidak akan ada jama'ah kecuali dengan adanya
Imam. Hal ini dapat dibuktikan dari keadaan sehari-hari yang ada
dihadapan kita. Adakah sembahyang jama'ah kalau tidak ada Imam,
sekalipun ma'mumnya ratusan ribu orang? Jawabnya, yang
semacam itu bukan shalat berjama'ah namanya. Tapi sekalipun shalat itu
cuma diikuti oleh tiga orang, kalau satu diantara mereka menjadi Imam,
maka yang demikian pasti dinamakan shalat berjama'ah. Benarkah
demikian?,
"Benar", Pak Cik saya ini nampaknya setuju dengan batasan jamaah yang
saya ketengahkan kepadanya. "Nah", saya langsung menyambung apa yang
dikatakannya. "Sekalipun jumlah anggota yang diwakili oleh 140 anggota
delegasi Rabithah Alam Islami itu berjumlah satu milyard orang,
tetapi karena mereka tidak mempunyai Khalifah, bukanlah aljama'ah itu
namanya. Mereka tetap merupakan kelompok cerai-berai , laksana ayam
yang tidak mempunyai induk.
"Sesungguhnya Khalifah itulah yang mengikat orang-orang yang beriman
didalam satu ikatan , baik mereka yang di Timur, maupun mereka yang
dibarat , baik mereka yang di Utara maupun mereka yang di Selatan. Baik
mereka yang ada di kota-kota maupun maupun mereka yang ada di desa-
desa. Baik mereka yang kaya, maupun mereka yang miskin . Baik mereka
yang ulama maupun mereka yang awwam. Baik mereka yang teknokrat maupun
mereka yang rakyat kebanyakan, dan selanjutnya, dan selanjutnya.Tanpa
tali pengikat ini, yaitu "imaamah", orang-orang yang beriman akan tetap
juga bercerai berai.
Mungkin akan ada , bahkan sekiranya sudah ada , malah banyak orang
Islam yang berpendapat bahwa Imam itu tidak perlu, toh sudah ada
Kitabullah dan Sunattur Rasul yang apabila kita berpegang kepada
keduanya kita tidak akan tergelincir selamanya. Tentang jawaban mereka
ini, kita bisa membandingkannya dengan kehidupan kita bernegara
Indonesia ini. Kendatipun kita bangsa Indonesia telah mempunyai UUD
1945, Panca Sila dan Undang-undang lainnya, apakah kita tidak merasa
perlu kepada adanya seorang Presiden? Jawabnya tentu saja perlu.
Dibawah pimpinan seorang Presiden lah kita berhimpun dan beliaulah
yang berkewajiban menjaga agar ketentuan UUD 1945 dan Undang-undang
lainnya ddilaksanakan oleh seluruh rakyat.
Mungkin ada yang berkata, bukankah ulama itu pewaris nabi-nabi dan
merekalah yang akan membimbing umat? Betul, itu adalah betul , tetapi
menurut saya, bila kita sudah punya seorang Presiden, tidaklah berarti
kita tidak perlu lagi Polisi. Kita perlukan kepolisian, angkatan
bersenjata, kita perlu Gubernu, Bupati, Walikota dan aparat lainnya.
Semua mereka juga dalam rangka menjaga agar hukum dijalankan. Nah untuk
itulah kita memerlukan seorang Presiden. Itulah makna "tali Allah"
dalam firman Allah "wa'tashimuu bihablillahi jami'a, wala tafarraqu"...
berpegang teguhlah kamu dengan tali Allah dan janganlah bercerai
berai...(QS. 3:103).
Perbincangan kami dengan Pak Cik diakhiri dengan ucapan beliau. "Mudah-
mudahan Pak Cik dapat menyusul mengikuti jejak angku. Insya Allah".
"Amin ya Rabbal 'aalamiin", do'a saya dan selanjutnya kami bersalaman
dan berpisah.
Wassalamu'alaikum wr.wb.
Nadri Saaduddin
Jalan Rambutan B-32,
Telp. (+62-0765) 93072 Duri 28884
Riau Daratan INDONESIA
------------------------------------------------------
[EMAIL PROTECTED]
------------------------------------------------
THERE IS NO GOD BESIDE ALLAH AND MUHAMMAD SAW IS HIS MESSENGER.
LOVE FOR ALL, HATRED FOR NONE.....!
Hearken! The Messiah Has Come, The Messiah Has Come.....
For further detail contact Ahmadiyya Mission over the world.
------------------------------------------------
---------------------------------------------------------------------
Keluar Keanggotaan, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]