> From: Gaffar, Abdul (Abdul)[SMTP:[EMAIL PROTECTED]] > Yang masih menjadi pertanyaan bagi saya atas artikel anda adalah > 1. apakah fana' dan kasyaf itu di syariatkan dalam kehidupan islam > apakah ada nash tentang hal itu (tolong juga dijelaskan arti fana' dan > kasyaf dalam artikel anda) Sebelum membahas lebih lanjut, saya ingin menjelaskan terlebih dahulu pengertian atau definisi fana' dan kasyaf. Istilah fana' sebenarnya berkaitan dengan istilah baqa'. Berikut ini beberapa istilah yang berkaitan dengan fana' dan baqa' serta kasyaf Fana' berarti lenyap, hilang, sirna atau lebur. maksudnya, menurut kamu sufi, ialah hilangnya kesadaran seseorang terhadap keberadaan dirinya dan alam sekelilingnya. Hal ini dapat terjadi karena latihan yang berat dan perjuangan yang cukup panjang dalam pendakian rohani. [1,hal.386] Fana' (beberapa pengertian lain) - keadaan moral yang luhur - sirnanya sifat-sifat tercela - terbebas dari hal-hal duniawi Fana juga berarti: [2,hal.197] a. matinya nafsu, kemauan diri, kesadaran diri b. tidak memikirkan diri sendiri c. doa dalam keterpesonaan d. kedekatan kepada Cahaya Maha Cahaya Fana Al-Fana berarti hilangnya kesadaran akan hilangnya kesadaran itu. Orang yang dalam keadaan fana' tidak tau bahwa ia dalam keadaan fana'. [1,hal.386] Fana' an nafsi berarti hilangnya kesadaran seseorang akan wujud dirinya. [1,hal.386] Fana fi Mahbub berarti lebur ke dalam yang dicintai (Tuhan) [1,hal.386] Baqa' berarti kekal, abadi, lestari. Dalam tasawuf kata ini menujukkan keadaan kehidupan rohani yang kekal, yakni kembali kepada Wujudnya Yang Kekal setelah melwati fana'. [1,hal.366] Beberapa pemahaman sufi tentang fana' dan baqa': o Jika kejahilan dari seseorang hilang (fana'), yang akan tinggal (baqa') ialah pengetahuannya o Jika seseorang dapat menghilangkan maksiatnya, yang akan tinggal ialah takwanya o Siapa yang menghancurkan sifat-sifat buruk tinggal baginya sifat-sifat baik o Siapa yang menghilangkan sifat-sifatnya, ia akan mempunyai sifat-sifat Tuhan [1,hal.152] > From: Gaffar, Abdul (Abdul)[SMTP:[EMAIL PROTECTED]] > apakah fana' dan kasyaf itu di syariatkan dalam kehidupan Islam > apakah ada nash tentang hal itu Berikut ini nash tentang al-fana': Semua yang ada di bumi itu akan binasa (faan). Dan tetap kekal Wajah Rabbmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan (QS. 55:26-27). Arah ungkapan ini tanpak jelas, tapi oleh para sufi diartikan sebagai "gantungan" doktrin khas mereka tentang kefanaan sifat-sifat manusia melalui kemanunggalan dengan Tuhan, yang dengan itu sang sufi meraih keabadian (baqa') kehidupan spiritual dalam Tuhan. [1,hal.205] Kasyaf dapat diartikan terbuka, yakni terbukanya tabir pemisah antara hamba denga Tuhan. Kasyf juga berarti Allah membukakan bagi seseorang untuk dapat melihat apa yang tidak bisa dilihat oleh orang lain. [1,hal.374] Berikut ini beberapa kisah-kisah tentang mukasyafah: [2,hal.98-99] o Nabi Muhammad saw melihat masjid al-Aqsha di Jerusalem ketika kembali dari mi'raj, bahkan beliau dapat menghitung jumlah tiang masjid tersebut. o Ketika 'Umar bin Khattab tengah berkhutbah di atas mimbar di Madinah, tiba-tiba beliau medapat mukasyafah dan melihat pasukan musuh sedang bergerak menyerang pasukan Sariya di Nihazhar. Tiba-tiba 'Umar berteriak keras, "Wahai Sariya! (pergilah) ke bukit!". Sariya mendengar, segera pergi ke bukit, dan beroleh kemenangan. Mukasyafah adalah buah dari zuhud. Zuhud membawa kita melintas alam syahadah dan memasuki alam gaib. Dengan menggunakan istilah para sufi, zuhud mengantarkan kita pada alam mukasyafah. [3,hal.113] Sesungguhnya fana' dan kasyaf, bukanlah tujuan para sufi. Keduanya merupakan akibat dari kondisi psikologis para sufi yang amat mencintai Allah. Menurut para sufi, fana adalah karunia Allah sebagai pemberian kepada hambaNya; ia tidak bisa diperoleh lewat usaha dan latihan [1,hal.157] Referensi: [1] Drs. Asmaran As., M.A., Pengantar Studi Tasawuf, Rajawali Pers, 1996 [2] Syaikh Syihabuddin Umar Suhrawardi, 'Awarif al-Ma'arif, Pustaka Hidayah, 1998 [3] Jalaluddin Rakhmat, Renungan-Renungan Sufistik, Penerbit Mizan, 1996 [4] Dr. Mir Valiuddin, Zikir & Kontemplasi dalam Tasawuf, Pustaka Hidayah, 1997 --------------------------------------------------------------------- Keluar Keanggotaan, e-mail: [EMAIL PROTECTED] Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
