Yani Qoyyimah wrote:
>Seorang Mursyid atau Syeikh setahu saya, mereka sangat menjaga
>[kesuciaan] dalam segala hal. Baik itu makanan, pakaian, tempat,
>dll. Misalnya makanan [seringnya] dari hasil ladang sendiri, dan
>yang memasak pun (khadam) harus suci hadats dan berdzikir. Begitu
>juga yang membuat pakaian, merawat tempat dll.
>
>Kondisi mereka selalu dalam keadaan MUROQOBAH dan MUKASYAFAH.
>Sehingga segala gerak-geriknya bukan atas kehendak [hawa nafsu]
>-nya sendiri. ".....dengan tangan-Ku ia mengambil, dengan kaki-Ku
>ia melangkah, dst.."
>
>Seluruh sel dan tetes darahnya senantiasa BERDZIKIR kehadirat
>Allah ("Ahli Dzikir").
>
>Mursyid selain sebagai Khalifah Allah juga sebagai Pewaris Nabi,
>yang tentu mewarisi sifat-sifat Nabi (Siddiq, Amanah Fathonah dan
>Tabligh) juga mewarisi tugas Nabi untuk mensucikan jiwa manusia.
Di lingkungan
tempat tinggal Mursyid [biasanya Masjid, Surau atau Pesantren],
seperti ada "Magnet Ketuhanan" (ini hanya istilah saya lho....).
Anak-anak nakal itu bagaikan serbuk besi yang berserakan, sulit
dikendalikan, kemudian mereka disentuh dengan MAGNIT, maka semua
bisa teratur mengikuti bagaimana magnit digerakkan. Magnit
[Ketuhanan] yang dikendalikan Mursyid mampu mengarahkan mereka
menghadap kepada TUHAN (tunduk dan patuh). Di "daerah kekuasaan"
Mursyid memang ada suatu Magnit. Apapun yang ada disitu tidak ada
yang berani mengambil atau menyentuh tanpa "ijin". Atau melanggar
"aturan" (adab) di situ langsung kena tegur dari Atas (seketika).
Misalnya ada yang mengambil buah (dari pohon) tanpa ijin, jika
buah itu dimakan seketika ia akan sakit perut, dan itu sulit
sembuh kecuali ia "bertobat". Melanggar aturan (adab) di
lingkungan itu, baik disengaja ataupun tidak biasanya akibatnya
diterima seketika.
Assalaamu 'alaikum wr. wb.
Subhanallah, membaca deskripsi mbak Yani ini tentang kehidupan seorang
Mursyid, saya jadi membayangkan bagaimana sucinya kehidupan Nabi
Muhammad SAAW dan ahlulbaitnya.
Tentunya Nabi telah mencapai tingkatan jiwa yang jauh lebih tinggi
daripada mursyid tsb (mungkin level 7) sehingga tentunya juga memiliki
kehidupan yang amat bersih dan amat sangat maksum dari segala kesalahan.
Seseorang yang setiap saat seluruh selnya mengingat Allah SWT bagaimana
mungkin dapat melakukan kesalahan? Bahkan di lingkungan sekitar
Mursyidpun setiap kesalahan yang dilakukan salik/orang lainnya akan
langsung ditegur dari 'atas'.
Bila saya menemukan seorang mursyid dengan gambaran seperti itu maka
saya akan percaya dan patuh kepadanya -- bahkan sulit dipercaya bahwa
ada seorang muslim yang mampu menolaknya. Saya percaya bahwa seorang
manusia biasa (bukan nabi) sekalipun yang telah mencapai tingkatan jiwa
tertentu sebenarnya bisa saja maksum dari segala ketidaksucian.
Terimakasih atas jawabannya.
Wassalaamu 'alaikum wr. wb.
---------------------------------------------------------------------
Keluar Keanggotaan, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]