Memasuki dunia Sufi adalah memasuki semesta absurditas, atau lebih
tepatnya memasuki semesta yang tiada orang lain tahu petanya kecuali
Allah, yaitu semesta diri yang tak ada kembarannya di dalam
kehidupan. 

"Dan tiadalah seorang pemikul beban, memikul beban pihak lain."
(Al-An'am 164); 
"Dan tiadalah bagi seseorang, melainkan apa yang dia usahakan."
(An-Najm: 39).

Tak ada metodologi yang sama bagi setiap penempuh. Yang ada hanya
sebuah tangan yang menuding. Boleh jadi ia seorang Mursyid, Kitab
Suci, dongeng-dongeng, derita, mala-petaka atau sentuhan tangan
manusia, Tuhan, atau apa saja yang digunakan Allah sebagai pedang
untuk memisahkan seseorang dari selain-Nya. 

"Dan siapa bersungguh-sungguh mencari ridha Kami, niscaya akan Kami
tunjukkan mereka jalan-jalan Kami." (Al Ankabut: 69).

Sebagaimana para Nabi, para penempuh jalan kebenaran tidak melewati
lorong yang sama untuk sampai ke rumah dirinya yang agung. 

"Jangan sekali-kali engkau berpindah dari marifatmu sendiri ke dalam
ma'rifat orang lain, karena itu hak Allah, bukan hakmu untuk
melakukannya" pesan Syeikhul Arif Billah Muhammad bin Abdul Jabbar
An-Nifari kepada para salik. Demikianlah Sufi tidak bisa dimiliki
atau menjadi monopoli sebuah agama, ras maupun bangsa, meski pada
mulanya ia lahir di suatu negeri dan dalam asuhan sebuah agama. 

Seperti nabi-nabi, setiap sufi menjadi milik semua, tetapi justeru
karena itu ia terlempar ke dalam kesendirian Tuhan yang tak
tertanggungkan. Selebihnya tiada baginya tempat bertanya, tiada pula
kawan berbagi derita. Sendiri ia memikul duka Tuhan seutuh usia.
Demikianlah keadaan seseorang yang berada di dalam martabat wahdah
(unity). 

"Dan siapa yang buta di dunia ini maka dia akan buta di akhirat
kelak dan lebih sesat lagi jalannya." ( Al Isra: 72)



---------------------------------------------------------------------
Keluar Keanggotaan, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]


Kirim email ke